Ketika moratorium tak bikin reklamasi benar-benar berhenti
Merdeka.com - Sejak awal, proyek reklamasi Teluk Jakarta menuai polemik. Reklamasi dinilai mematikan usaha nelayan kawasan Muara Angke.
Namun siapa sangka proyek terus bergulir. Sampai akhirnya KPK mengendus praktik suap dalam pembahasan dua Raperda mengenai 17 pulau buatan itu.
Dari situlah, kembali ramai teriakan agar reklamasi diberhentikan. Namun, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, tetap ngotot dilanjutkan.
-
Bagaimana melihat aktivitas nelayan di Danau Sipin? Jika ingin melihat aktivitas atau kegiatan para nelayan, Anda bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau.
-
Apa yang dilakukan selama penutupan? Selama penutupan kami memastikan tidak ada pendaki yang melintas terutama yang merayakan malam pergantian tahun di puncak Gunung Gede, karena patroli digencarkan agar tidak ada oknum pendaki nakal yang naik melalui jalur ilegal,' katanya.
-
Apa pekerjaan warga Kampung Jeladri? Mayoritas warga di sana bekerja sebagai petani kopi yang dibayar Rp25 ribu per setengah hari.
-
Kapan nelayan Kebumen tenggelam? Musibah yang dialami Sodiran terjadi pada Senin (10/7) sekitar pukul 06.30 WIB.
-
Apa yang dilakukan pelaku? Mereka juga meminta Y agar menyerahkan diri agar dapat diperiksa. 'Saya imbau kepada yang diduga pelaku berinisial Y yang sesuai dengan video yang beredar agar menyerahkan diri,' kata Rahman saat dikonfirmasi, Minggu (28/4).
-
Kapan nelayan Pantura mulai terdampak? Pada tahun 1743 Masehi, daerah pesisir pantai utara Jawa yang sebelumnya masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam mulai dikuasai VOC.
Sebagai jalan tengah, pihak terkait akhirnya duduk bersama. Didapatlah kesimpulan, proyek dihentikan sementara.
Lalu benarkah tak ada lagi pengerjaan proyek di pulau-pulau itu? Untuk diketahui, saat ini pulau yang sudah berdiri di teluk Jakarta adalah C,D dan G. Bahkan di Pulau C, bangunan mirip ruko dan hunian 2 lantai sudah berdiri.
Senin (25/4), tim merdeka.com, coba mendatangi ketiga pulau itu untuk melihat, benarkah moratorium dipatuhi.
Sayangnya, ketika hendak masuk ke pulau reklamasi C dan D yang berada di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), penjagaan begitu ketat. Saat melihat kedatangan kami dari kejauhan, seorang satpam langsung menghampiri mobil merdeka.com yang berhenti di depan jembatan yang menghubungkan kawasan PIK menuju dua pulau itu.
"Ini ada apa ya pak?" tanya satpam tersebut kepada tim merdeka.com, Senin (25/4).
"Izin pak, kami mau ambil gambar di dalam, masih jalan enggak sih pak reklamasinya," jawab tim merdeka.com kepada satpam tersebut.
"Tidak boleh ada pengambilan gambar. Soal proyek, saya enggak tahu, saya masih baru," ucap satpam.
Saat tim akan menjepret suasana pintu gerbang jembatan, lagi lagi petugas satpam bermotor datang menghampiri.
"Maaf ibu, tadi saya lihat ibu keluaran handphone, dilarang foto ibu," ucap satpam tersebut kembali.
"Ini aturannya, soal proyek sudah tidak jalan," dalihnya.
Pantauan merdeka.com, meski dari kejauhan, terlihat memang sudah bangunan di dua pulau itu. Sempat pula terlibat mobil double cab dan sebuah truk mengangkut tanah keluar dari pulau melintasi jembatan.
"Itu mobil orang pemprov ngecek," klaimnya.
Untuk memastikan pengerjaan benar-benar berhenti, tim merdeka, coba menelusuri pulau dari dekat menggunakan perahu nelayan.
Terlihat banyak alat berat seperti eskavator yang berada di Pulau G sedang bekerja. Terdapat beberapa crane dan kapal tongkang yang berada di sekitar pulau tersebut.
Seorang nelayan bernama Hery, mengaku, selang beberapa jam usai penyegelan sepekan lalu, para pekerja melakukan aktifitas seperti biasanya.
"Aktifitas masih kerja terus (pekerja), setelah demo itu, selang beberapa jam mereka balik lagi, udah aktif lagi. Pas demo emang mereka ga ada semua, beberapa jam balik lagi ke pulau," ucap Hery nelayan Kali Adem, kepada merdeka.com di perahu miliknya, Senin (25/4).
Reklamasi teluk Jakarta tetap dilanjutkan ©2016 Merdeka.com
Diakuinya, semenjak adanya reklamasi pulau, penghasilannya semakin berkurang dari biasanya. Ia sangat berharap bahwa pemerintah akan memperhatikan nasib para nelayan Jakarta Utara.
"Pengennya dihentikan bukan untuk ini saja, jangan di blok lah nelayan. Kan aktivitas nelayan enggak bisa lewat kalau di blok gitu. Nanti kita nyari ikan bagaimana. Tangkapan kita berkurang drastis, kekurangannya sekitar 50 persen sekarang di tengah situ (pulau G) sudah enggak ada ikan, karena limbah reklamasi," keluhnya.
Setelah memutari pulau G, perahu melaju menuju pulau reklamasi D. Nampak pekerja sedang mengeruk tanah menggunakan eskavator, dan terlihat tanggul dari batu-batu setinggi dua hingga tiga meter dari permukaan laut sudah dibangun.
Saat tim melewati pulau tersebut melalui jalur air, para satpam yang menjaga pulau tersebut sempat memotret aktifitas tim merdeka.com di perahu.
"Ya memang tidak boleh ada yang mendekat," katanya.
"Jadi sudah dilihat sendiri kan, reklamasi nyatanya tak benar-benar terhenti," pungkasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Ribuan nelayan tradisional di Lebak Banten tak bisa cari nafkah akibat cuaca buruk. Begini kondisi mereka.
Baca SelengkapnyaHal yang menjadi sorotan utama OIKN adalah durasi perizinan pertambangan yang tidak bisa dihentikan begitu saja.
Baca SelengkapnyaAturan itu tak akan diubah demi keselamatan masyarakat yang melintas dan meminimalisir terjadinya kecelakaan.
Baca Selengkapnya