Ini Detail Penyakit Gagal Ginjal dan Biaya yang Ditanggung BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan melakukan simplifikasi prosedur melalui kemudahan akses pelayanan dan administrasi bagi pasien cuci darah/hemodialisis (HD) yang menjalani perawatan terapi rutin di rumah sakit.

BPJS Kesehatan menjamin berbagai pelayanan kesehatan terkait penyakit gagal ginjal. Hal ini menjawab keresahan masyarakat terkait maraknya penyebaran penyakit gagal ginjal yang menyerang anak-anak dalam beberapa waktu terakhir.
Melansir dari laman bpjs-kesehatan.go.id, Jumat (21/10), pelayanan yang ditanggung mulai dari transplantasi ginjal dengan biaya sekitar Rp378 juta untuk satu kali tindakan, cuci darah/hemodialisis dengan biaya Rp92 juta/per tahun jika dilakukan 2 kali seminggu per pasien, dan layanan CAPD dengan biaya Rp76 juta/per tahun untuk satu pasien.
"Penyakit gagal ginjal merupakan salah satu penyakit katastropik atau penyakit berbiaya mahal, yang ditanggung oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti dikutip, Jumat (21/10).
BPJS Kesehatan melakukan simplifikasi prosedur melalui kemudahan akses pelayanan dan administrasi bagi pasien cuci darah/hemodialisis (HD) yang menjalani perawatan terapi rutin di rumah sakit.
Perpanjangan rujukan juga dapat dilakukan di rumah sakit melalui aplikasi Vclaim tanpa perlu mengurus ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Masa berlaku rujukan pun diperpanjang menjadi 90 hari.
Ghufron menyampaikan, pembiayaan untuk kasus penyakit katastropik, tetap menempati proporsi terbesar dari total biaya pelayanan kesehatan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Biaya katastropik mencapai 21 sampai 25 persen dari biaya pelayanan kesehatan rujukan pada tahun 2018 - 2021. Sementara untuk diagnosa gagal ginjal, termasuk dalam empat terbesar pembiayaan katastropik yaitu 10 persen dari total biaya katastrofik pada tahun 2021.
"Meskipun selama pandemi adanya penurunan kunjungan layanan kesehatan secara keseluruhan, tetapi khusus untuk kasus-kasus katastropik seperti gagal ginjal tetap tinggi karena peserta tetap rutin berkunjung ke rumah sakit untuk mendapat layanan. Pada tahun 2021 ada 6,3 juta layanan (kasus) gagal ginjal dengan biaya sekitar Rp6,5 triliun," ungkap Ghufron.
Sementara untuk sebaran pembiayaan pelayanan hemodialisis, berdasarkan kelompok usia, secara umum pembiayaan terbanyak didominasi pada kelompok usia 51 sampai 55 tahun. Berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh jenis kelamin laki laki, dan usia termuda peserta yang memanfaatkan pelayanan hemodialisa dimulai dari kelompok usia 0-5 tahun.
Oleh karena itu, Ghufron menekankan pentingnya edukasi dan penerapan pola hidup dan sehat agar kasus gagal ginjal ini tidak terus meningkat. Pelayanan transplantasi ginjal saat ini direkomendasikan oleh para ahli sebagai terapi yang lebih baik dibanding terapi lainnya karena kualitas hidup lebih baik dan cost effectiveness.
"Namun yang saat ini menjadi tantangan adalah ketersediaan donor ginjal dan perlu adanya penambahan fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan transplantasi ginjal. Saat ini baru 10 rumah sakit yang bisa melakukan transplantasi," ujar Ghufron
Data RSCM: 49 Pasien Gagal Ginjal, 31 Meninggal, 7 Sembuh
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat, mengungkapkan telah menerima pasien penyakit Gagal Ginjal Periode Januari hingga Oktober 2022 sebanyak 49 pasien. Sekitar lebih dari 50 persen pasien dinyatakan meninggal.
"Yang berhasil pulang hanya tujuh orang, untuk yang masih dirawat saat ini masih ada 11. Sedangkan pasien yang meninggal terdapat 31 pasien," kata Direktur Utama RSCM Leis Dina Liastuti dalam konferensi Pers, Kamis (20/10).
Dia memaparkan puncak dari kasus gagal ginjal tersebut terjadi pada bulan September. Di mana mereka menerima 20 pasien.
"Pada bulan Agustus data kenaikan pasien gagal ginjal mulai menunjang kenaikan hingga 8 pasien. Sedangkan pada bulan Oktober tercatat ada 11 pasien," ujarnya
Berdasarkan rentang usia, pasien yang diterima RSCM paling muda adalah pasien berumur delapan bulan. Sedangkan pasien yang paling tua berumur delapan tahun.
"Anak-anak kecil, delapan bulan sampai delapan tahun. Ada yang sembilan bulan sepuluh bulan ada yang satu tahun sekian," ungkapnya.
Lies menyebutkan, pasien yang datang ke RSCM awalnya mengalami gejala sakit yang umum seperti demam batuk pilek atau diare batuk pilek. "Dalam dua sampe tiga hari, pasien mengalami penurunan jumlah urine sampai tidak ada sama sekali urinenya," terangnya.
Dia mengimbau bagi masyarakat agar dapat mendatang fasilitas kesehatan (faskes) lebih dini. Karena proses gangguan terhadap ginjal dinilai masih belum terlalu lama.
(mdk/idr)