Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Catatan Empat Dekade Komersialisasi Album Soundtrack Film Nasional

Catatan Empat Dekade Komersialisasi Album Soundtrack Film Nasional Ilustrasi film. ©2014 Merdeka.com/shutterstock/Tatiana Popova

Merdeka.com - Film dan musik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling bergantung dan melengkapi. Dalam industri film, elemen musik terbagi dalam dua jenis, yakni original soundtrack dan film score atau scoring. Keduanya memiliki peran dan format yang berbeda. Meski demikian terkadang kita masih rancu membedakan keduanya.

Padahal perbedaannya cukup jelas, dimana original soundtrack merupakan kumpulan lagu yang memang dibuat atau dipilih, untuk mewakili serta menggambarkan garis besar cerita yang diusung film tersebut, dan liriknya pun sebisa mungkin berhubungan dengan momen atau adegan yang ada dalam film tersebut. Kumpulan lagu tersebut diperoleh dengan mengajak langsung beberapa musisi, untuk turut serta dalam penggarapannya atau bisa juga mengambil lagu yang sudah jadi yang dinilai cukup representatif. Misal lagu “I Wanna Be Sedated” milik Ramones yang terdapat dalam album Road to Ruin (1978), digunakan sebagai original soundtrack film Scary Movies, yang rilis di tahun 2000.

Sementara film score atau scoring, merupakan iringan musik lepas tak berbentuk lagu yang digunakan untuk memperkuat ambience alur cerita film. Intensitas tinggi rendah, tempo dan karakteristik nadanya bisa berbeda-beda, tergantung genre film dan pengadeganannya. Seperti karakteristik scoring film bergenre komedi tentu berbeda dengan scoring film bergenre horror atau thriller. Format scoring adalah instrumental, tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih dengan dialog dalam film. Tujuan lain dari scoring adalah meningkatkan kualitas pengalaman penonton. Keindahan dari scoring adalah suara yang diperdengarkan tanpa disadari bisa memanipulasi emosi dari penonton.

Di Hollywood industri soundtrack film begitu berkembang pesat. Tercatat album musik dari film animasi Walt Disney yang berjudul Snow White and the Seven Dwarfs adalah original soundtrack film komersial pertama yang diedarkan. Album tersebut dirilis oleh RCA Victor Records di atas piringan hitam, pada Januari 1938. Kemudian pada tahun 1947 MGM Records lahir, atas dasar ingin mengeskploitasi musik dari film-film keluaran Metro Goldwyn Mayer (MGM). Bisa dibilang MGM Records hadir pada momentum yang tepat, ketika film musikal berada pada masa keemasannya, sehingga MGM Records menangguk keuntungan besar dari royalti penjualan album soundtrack.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Dalam sebuah tulisannya yang termuat di salah satu media cetak, pengamat musik Denny Sakrie, mencatat komersialisasi album-album soundtrack film nasional baru dimulai pada dekade 70-an. Demikian karena pada dekade 60-an, industri perfilman nasional mengalami mati suri, lantaran adanya gejolak politik dan hiperinflasi akibat kebijakan sanering, yang diberlakukan pemerintah. Di satu sisi kehadiran kaset di Tanah air pada akhir dekade 60-an, juga menjadi pendorong tumbuhnya industri album soundtrack film pada dekade berikutnya. Kaset menjadi primadona karena dinilai lebih praktis dan harganya yang ekonomis, terutama bagi mayoritas kalangan menengah ke bawah, untuk menikmati musik.

Berikut beberapa album soundtrack film nasional yang beredar di masyarakat pada dekade 70- an. Dunia Belum Kiamat (1971), Pengantin Remaja (1971), Cinta Pertama (1973) dengan penyanyinya Anna Mathovani dan Broery Marantika. Ambisi (1973) yang dibintangi oleh Bing Slamet dan Benyamin S. Lalu ada Akhir Sebuah Impian (1973), yang merupakan album soundtrack garapan A. Riyanto. Juga ada soundtrack Kasih Sayang (1974) dengan penyanyi Broery Marantika dan Titiek Sandhora, Romi dan Juli (1974) dengan penyanyinya Tanty Josepha dan Rano Karno. Cinta (1975), Ira Maya dan Kakek Ateng (1979), Mana Tahaaan (1979) yang dibintangi oleh Warkop DKI dan lain sebagainya.

Namun, pada dekade tersebut, album original soundtrack Badai Pasti Berlalu garapan Eros Djarot, Yockie Suryoprayogo dan Chrisye, dianggap paling fenomenal. Album ini disebut-sebut sebagai tonggak pencapaian estetika baru, dalam musik pop Indonesia. Ketika album ini dilepas ke pasaran, industri musik pop lokal sedang didominasi lagu-lagu pop mellow. Di tengah gejolak pasar semacam itu, Badai Pasti Berlalu lahir sebagai antitesis. Album ini seperti menolak tunduk pada pakem “album pop biasa.” Sejak dirilis pada 1978, album produksi PT. Irama Mas ini terus dicetak ulang. Tak ada data yang akurat perihal penjualannya. Tapi tak berlebihan jika album yang pada 1999 ini, direkonstruksi ulang dengan aransemen garapan Erwin Gutawa, dianggap sebagai album soundtrack fenomenal hingga kini.

Pada dekade 80-an, original soundtrack film-film anak muda lah yang mendominasi. Setidaknya album soundtrack film Catatan Si Boy yang dibawakan Ikang Fawzy, Atiek CB dan lain-lain pernah menjadi hits. Selain itu soundtrack film Gejolak Kawula Muda, Ranjau Ranjau Cinta, Lupus, Gita Cinta dari SMA serta album soundtrack Puspa Indah Taman Hati, garapan Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan oleh mendiang Chrisye, juga mendapat atensi oleh penikmat musik di Tanah air. Lebih jauh, album soundtrack film Menggapai Matahari (1986) yang dibintangi oleh Rhoma Irama, pun cukup diminati dipasaran. Yang pasti album soundtrack bergenre dangdut tersebut berhasil, mencuatkan lagu berjudul “Senandung rindu” dan “Nasib bunga”.

Kemudian memasuki dekade 90-an, industri perfilman Indonesia kembali mengalami mati suri untuk kali kedua. Namun geliat industri perfilman nasional kembali bangkit pada akhir dekade 90-an, yang ditandai dengan rilisnya film Daun di Atas Bantal besutan Garin Nugroho dan Kuldesak besutan Riri Riza pada tahun 1998. Menariknya film Kuldesak juga menjadi penanda kembalinya industri soundtrack film nasional, dimana Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan dari band Dewa 19 didapuk, untuk menggarap original soundtrack film tersebut. Berselang dua tahun kemudian, original soundtrack film Petualangan Sherina, juga mendulang popularitas.

Di era milenium, industri soundtrack film di Tanah air sangat hidup. Original soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta? (2002) bisa menjadi gambaran bagaimana industri ini begitu berdenyut. Dengan menjagokan single seperti “Tentang Seseorang” yang dipopulerkan oleh Anda, serta lagu “Ada Apa Dengan Cinta” yang dibawakan oleh Melly Goeslaw, membuat soundtrack film ini begitu digandrungi. Belum lagi video klipnya yang mendapat porsi heavy rotation di televisi televisi. Sebagai informasi, Ada Apa Dengan Cinta? Merupakan proyek album soundtrack perdana pasangan Melly dan Anto Hoed. Dari sini kemudian Melly banyak mendapat tawaran menggarap soundtrack film, hingga Ia dijuluki sebagai ratu soundtrack film Indonesia.

Album original soundtrack lainnya yang cukup popular adalah Andai Ia Tahu (2002), Mengejar Matahari (2004) yang single utamanya dibawakan oleh Ari Laso. Lalu Alexandria (2005) garapan band Peter Pan, yang berpredikat menjadi album soundtrack terlaris sepanjang sejarah musik Indonesia, yang penjualannya mencapai hingga satu juta keping. Kemudian ada soundtrack Cinta Silver (2005) besutan Glenn Fredly yang memuat karya-karya apik mendiang seperti “You’re My Everything”, “Kisah Romantis” dan lain sebagainya. Tak ketinggalan film Jomblo (2006) yang sukses mempopulerkan lagu “Bandung 19 Oktober” garapan band Seurieus. Realita, Cinta dan Rock'n Roll (2006) mempopulerkan single berjudul “Ada Yang Hilang” buah karya Ipang Lazuardi, Laskar pelangi (2008), Ayat-ayat Cinta (2008), Garuda di Dadaku (2009) dan lain sebagainya.

Namun yang cukup unik dan berbeda adalah original soundtrack film Janji Joni (2005). Bila biasanya album soundtrack film nasional, di rilis oleh label-label besar dengan menggandeng nama-nama tersohor. Maka tidak demikian dengan original soundtrack Janji Joni. Album soundtrack film ini, dirilis dan diedarkan oleh sebuah label indie yaitu Aksara Records dan berisikan karya-karya dari band-band indie pula, seperti The Adams, Sore, Goodnight Electric, Teenage Death Star dan lain sebagainya. Bisa dibilang album soundtrack Janji Joni menjadi titik tolak, bagi eksistensi musik non-mainstream di mata perfilman nasional.

Dalam rentang tahun 2000 - 2010, begitu banyak judul film nasional yang diproduksi, berbanding lurus dengan jumlah album soundtrack film nasional yang beredar dipasaran. Keberadaan MTV Indonesia dan radio-radio swasta, juga sangat berperan dalam mendongkrak popularitas lagu-lagu soundtrack film nasional. Perlu diingat saat itu penggunaan internet belum semasif sekarang. Di sisi lain pihak label dan musisi juga mendapat profit yang cukup besar, dari penjualan RBT atau NSP, jadi mereka tak hanya mengandalkan penjualan album dan off-air saja. Sebab seperti kita ketahui, pada penghujung dekade 2000, penjualan album fisik terus mengalami degradasi, sehingga RBT atau NSP dianggap sebagai penyelamat.

Tak dipungkiri, kehadiran era digital telah mengubah cara orang untuk menikmati musik. Sehingga memasuki dekade 2010, banyak toto-toko kaset dan CD yang gulung tikar. Bahkan pemain-pemain besar seperti Aquarius, Disc Tarra dan Duta Suara pun tak luput dari terpaan ombak digitalisasi. Aquarius lebih dulu menutup cabangnya di Dago pada 2009, disusul yang di Pondok Indah pada 2010 dan Mahakam pada 2013. Sementara Disc Tarra menutup semua gerainya di penghujung tahun 2015. Sedangkan Duta Suara kini tinggal menyisakan satu buah toko di jalan Sabang, yang masih buka hingga sekarang. Mungkin nukilan dari Chairil Anwar, bisa kita pinjam untuk menggambarkan situasi ini “Ada yang berubah, ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan”.

Penulis: Nor Rahman Saputra (Pemerhati Musik Tanah Air)

(mdk/end)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP