Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sosok Ulama yang Melindungi Prajurit Siliwangi Ketika Diburu Anak Buah Kartosoewirjo

Sosok Ulama yang Melindungi Prajurit Siliwangi Ketika Diburu Anak Buah Kartosoewirjo Masjid Al Syuro. ©2023 HendiJo

Merdeka.com - Yakin Belanda akan ingkar janji terhadap Perjanjian Renville, Ajengan Yusuf meminta para pengikutnya menyambut secara baik kembalinya 'saudara-saudara yang sudah lama pergi merantau'.

Penulis: Hendi Jo

Begitu melakukann invasi militer ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948, secara sepihak Belanda mengumumkan ke dunia jika mereka sudah tidak memiliki keterikatan lagi dengan Perjanjian Renville.

Dengan demikian, permusuhan antara kedua negara pun kembali berkobar. Dua kekuatan militer lagi-lagi beradu. Seiring ditawannya Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Divisi Siliwangi sebagai bagian dari TNI, mendapat perintah dari Panglima Besar Soedirman untuk kembali ke Jawa Barat. Proses kembalinya mereka ke tempat asal tentu saja dihalangi militer Belanda. Mulai dari Banyumas hingga perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, para peserta long march tak hentinya diteror, baik lewat udara maupun darat.

Menurut Syarif Hidayat (kelahiran 1934), situasi itu sudah diperkirakan Ajengan Yusuf Tauziri. Menurutnya, akan datang waktunya di mana Perjanjian Renville dikhianati Belanda dan anak-anak Siliwangi akan pulang kembali ke haribaan tanah Pasundan.

Karena itu dia menyerukan kepada para pengikutnya untuk bersiap menyambut secara baik kedatangan 'saudara-saudara kita yang sudah lama pergi merantau'.

Dilindungi Pesantren

Akhir Januari 1949, rombongan peserta long march Divisi Siliwangi dari Batalyon Rivai yang berjumlah kurang lebih seribu orang (termasuk perempuan dan anak-anak) tiba di Pesantren Darussalam.

Mereka yang datang dari perjalanan panjang (long march) dengan berjalan kaki dari Magelang datang dalam kondisi sangat menyedihkan. Selain kelaparan, nyaris pakaian mereka tak berbentuk lagi.

"Pakaian mereka compang-camping hingga bagian-bagian tubuh mereka yang terlarang sudah kelihatan," ungkap Hajah E. Kuraesin dalam biografi Mohamad Rivai, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Menurut adik perempuan Ajengan Yusuf Tauziri itu, kedatangan para anggota Divisi Siliwangi dan keluarganya tersebut disambut sangat ramah dan penuh haru oleh orang-orang Cipari. Para perempuan (beberapa ada yang sedang hamil) dan anak-anak langsung dirawat dan pakaian mereka lantas diganti dengan yang lebih baik.

"Semua wanita yang berada di Darussalam menyumbangkan pakaiannya kepada keluarga Batalyon Rivai yang berjumlah kurang lebih 500 orang," ujar Kuraesin.

Atas perintah Ajengan Yusuf, selanjutnya para perempuan dan anak-anak itu disebar ke seluruh keluarga yang ada di sekitar Pesantren Darussalam. Mereka disamarkan sebagai bagian dari keluarga orang-orang Cipari. Sedangkan rombongan inti Batalyon Rivai yang terdiri dari prajurit-prajurit melanjutkan perjalanan ke arah markas besar mereka di Bandung sehari kemudian.

"Pak Rivai mempercayakan nasib anggota keluarga batalyon-nya kepada Ajengan Yusuf," ungkap Syarif Hidayat yang saya wawancarai pada Mei 2017.

Diburu DI/TII

Beberapa jam usai prajurit-prajurit Rivai meninggalkan Cipari, bada magrib terjadilah kegemparan. Rupanya gerilyawan DI/TII yang sudah mencium kedatangan Batalyon Rivai datang untuk menghabisi rombongan anggota Divisi Siliwangi itu.

Satu persatu rumah-rumah orang-orang Cipari digeledah. Sambil menembakan senjata-senjata ke udara, mereka berteriak-teriak: "Mana Si Rivai haram jadah?! Jangan kalian sembunyikan!"

Para santri hanya terdiam. Mereka coba menahan amarah dan tidak melakukan perlawanan karena jumlah kekuatan sangat tidak berimbang. Sementara itu Ajengan Yusuf berhasil diamankan oleh para pengawalnya.

"Kenapa kalian kasih makan pasukan Si Rivai!" tanya salah seorang pimpinan gerilyawan DI/TII."Kami hanya menuruti perintah Mama Ajengan," jawab salah seorang kepala santri."Mana sekarang dia?""Tadi siang berangkat ke Bandung.""Bilang sama Ajengan kalau sudah datang, lain kali kalau ada rombongan tentara kafir lewat ke sini, jangan sekali-kali dikasih makan! Kalau dikasih juga, kami tidak akan menjamin keselamatannya," teriak sang komandan gerilyawan DI/TII sambil diiringi tembakan yang dilepaskan anak buahnya ke atas.

Beberapa hari kemudian, datang surat dari Kartosoewirjo yang ditujukan langsung kepada pimpinan Ajengan Yusuf Tauziri. Isinya sebuah ultimatum yang mengatakan: jika dalam tempo 7x24 jam Ajengan Yusuf belum bisa menentukan sikap (berdiri di pihak DI/TII atau RI) maka Pesantren Darussalam akan diratakan dengan tanah! (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP