Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Di Balik Lukisan Pameran Para Rupa, Titik Penguatan Para Keluarga ABK

Di Balik Lukisan Pameran Para Rupa, Titik Penguatan Para Keluarga ABK Pameran seni para rupa. ©Merdeka.com/Shani Rasyid

Merdeka.com - Dinding-dinding ruang pameran Bentara Budaya Yogyakarta sore itu (19/7) dipenuhi lukisan-lukisan berpola titik. Pola titik-titik itu sekilas tak menampilkan bentuk apapun selain titik-titik yang bentuk dan warnanya beragam. Namun pola titik-titik ini punya arti yang besar khususnya bagi pemilik karya dan juga keluarganya.

Pameran seni rupa holistik yang berjudul “Dari Titik ke Penguatan Keluarga” itu menghadirkan enam para rupa yang semuanya adalah anak-anak berkebutuhan khusus (ABK): ada Muhammad Irsyad Hadyan (tuna grahita ringan), Syifa Maulida Basuki (down syndrom), Nadya Annisa Raharjo (mild autism), Indhira Larasati (tuna grahita sedang), Mathea Lintang Joy Adwedaputri (down syndrome), dan Kireina Jud Aisyah (down syndrome).

pameran seni para rupa

Syifa Maulida Basuki, anak Down Syndrome yang menjadi satu di antara para rupa yang mengikuti pameran itu

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Selain menghadirkan karya, pameran itu juga menampilkan instalasi yang menggambarkan suasana keseharian para rupa dalam berkarya. Instalasi itu hadir dalam bentuk benda-benda di sekitar yang selalu menemani dalam keseharian mereka seperti meja, bantal, mainan, buku, sepeda, dan lain sebagainya.

Ahmad Mudatsir (52), koordinator pameran yang juga ayah dari Irsyad, mengatakan, ide awal membuat pameran ini berawal saat mereka berkumpul di tahun 2019. Di saat itulah mereka menggagas sebuah kegiatan berkesenian yang mudah dilakukan anak-anak mereka.

Untuk mewujudkan ide itu, mereka dikenalkan dengan Moelyono, perupa yang selama ini terkenal sangat peduli mengangkat isu rakyat kecil dan kaum tertindas. Kebetulan waktu itu ada salah seorang dari mereka yang kenal dengan Moelyono. Kepada Moelyono mereka berkonsultasi apa bentuk aktivitas berkesenian yang mudah dilakukan.

Pada beberapa pertemuan dengan para ABK dan keluarganya, Moelyono memperkenalkan elemen dasar dari berkesenian, yaitu titik.

“Jadi titik itu elemen paling dasar dalam seni rupa. Kalau titik ini semua orang bisa membuatnya, anak-anak pun juga bisa. Dari titik itu mereka dipersilakan untuk dieksplorasi, mulai dari bahan sampai bentuk ekspresinya,” kata Moelyono.

pameran seni para rupa

Muhammad Irsyad Hadyan sedang beraktivitas di depan pajangan karya-karya seninya

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Dalam mengenalkan para rupa dan keluarganya tentang seni rupa, Moelyono berkunjung dari rumah ke rumah. Tak hanya untuk membangun kedekatan dengan keluarga para rupa, di sana Moelyono juga ingin melihat realitas kehidupan yang dijalani para rupa dan keluarga mereka.

Saat ditanya soal perannya dalam pameran itu, Moelyono mengaku hanya bertugas sebagai motivator. Oleh karena itu setelah ia memberi arahan harapannya para rupa dan keluarganya bisa memberdayakan diri mereka sendiri. Tidak boleh ada ketergantungan.

“Pameran ini, mulai dari proses, persiapan, sampai pelaksanaan, mereka sendiri. Saya tidak terlibat apapun. Yang memerankan mereka, yang mengatur mereka, jadi sebetulnya mereka sudah mandiri,” kata Moelyono.

Seiring perjalanan waktu, datangnya pandemi COVID-19 membuat pertemuan tatap muka tak dapat digelar. Namun mereka tetap berinteraksi secara online melalui grup WhatsApp.Pada suatu hari, Basuki (43), ayah dari Syifa, mempunyai ide untuk membuat suatu karya seni dari semen nat. Setelah dipasang, ternyata kalau dilihat-lihat mempunyai estetika.

“Okelah kalau begitu nanti kita berkarya lagi, berkolaborasi, kemudian kita pamerkan,” ujar Mudatsir menirukan perkataannya pada waktu itu.

Selama pandemi COVID-19, mereka menyelesaikan karya-karya itu dari rumah masing-masing. Di tengah jalan, ada keinginan dari para orang tua mereka untuk membuat pameran besar dari hasil karya itu.

Namun selama masa pandemi, banyak kendala yang mereka hadapi dalam menyelesaikan karya. Salah satunya adalah kesulitan dalam mendapatkan material. Apalagi waktu itu banyak toko tutup sehingga mereka harus pandai-pandai memutar otak agar bisa tetap memperoleh bahan-bahan tersebut.

pameran seni para rupa

Indhira Larasati dan hasil karyanya

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Selain itu, tantangan berat yang dihadapi orang tua dari para perupa itu adalah mengelola mood atau emosi mereka. Hal ini dirasakan betul oleh Eeng Indiarto (58), ayah dari Indira Larasati. Untuk hal satu ini, Eeng mengatakan bahwa sebagai seorang tuna grahita, Indira punya banyak energi yang harus dibuang.

“Anak-anak kayak gini energinya kuat, kalau nggak dibuang dia bakal susah tidur. Dia bisa mengangkat sepeda, sepeda bisa hancur, diangkat lalu dibuang. Makanya energi yang kuat itu harus dibuang. Entah olahraga, bikin karya, belanja, kirim barang. Makanya bikin karya-karya semacam ini adalah salah satu agar energi yang kuat itu bisa terbuang,” terang Eeng.

Sementara itu Basuki (43) ayah dari Syifa, mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembuatan karya itu sangat dipengaruhi oleh mood sang anak. Kalau memang lagi malas atau tidak punya mood untuk mengerjakan, ia tidak bisa memaksakan sang anak untuk menyelesaikan karya itu.

“Jadi satu karya itu nggak mungkin selesai dalam satu hari. Ada yang satu bulan, ada yang satu minggu. Kalau pas dia mau ya mari, kalau nggak ya sudah, mainan sesuka dia,” kata Basuki.

pameran seni para rupa

Berbagai macam pola titik yang ditampilkan

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Walau begitu, ada pengalaman tersendiri bagi para rupa dan keluarganya bisa mengikuti pameran ini. Hal itu yang dirasakan oleh Titi Rahayuningsih (47), ibu dari Kierina Jud Aisyah.

“Kalau buat saya sendiri, jadi dapat keluarga baru lagi. Karena ada beberapa yang saya belum kenal sebelumnya. Karena beda komunitas, beda sekolah, ketemunya ya di para rupa. Akhirnya dapat keluarga baru,” ujar Titi. (mdk/shr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP