Wilayah Tertinggi di Pulau Jawa, Ini 4 Pesona Desa Sembungan Wonosobo

Merdeka.com - Menjadi salah satu desa yang berada di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Desa Sembungan, Wonosobo memiliki pemandangan yang indah. Hamparan pegunungan mengelilingi desa itu. Sementara itu di tengahnya, terdapat sebuah telaga yang menjadi sumber kehidupan warganya.
Berada di ketinggian 2.260 mdpl, Desa Sembungan disebut sebagai wilayah desa tertinggi di Pulau Jawa. Tak jauh dari desa itu, terdapat berbagai obyek wisata alam seperti Bukit Sikunir, Air Terjun Sikarim, Gunung Pakuwojo, Gunung Seroja, dan Telaga Cebong.
Lalu seperti apa keindahan yang tersaji di desa tertinggi di Pulau Jawa ini?
Kondisi Alam Desa Sembungan
©2021 Fimela.com
Sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa, secara administratif Desa Sembungan berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Mayoritas penduduk di sana bermata pencaharian sebagai petani dan banyak pula yang bergelut di bidang pariwisata seperti penyewaan homestay, jasa pemandu wisata, dan pedagang.
Dilansir dari Sikunir.com, desa itu dinamakan “Sembungan” karena konon dulunya di sana banyak ditumbuhi Pohon Sembung. Beberapa hasil tani dari penduduk Sembungan antara lain kentang, carica, cabe gendot, purwaceng, serta sayur mayur.
Keramahan Penduduk Desa Sembungan
©2021 Fimela.com
Dilansir dari laman Indonesia Kaya, tak ada catatan pasti kapan masyarakat pertama kali menempati desa ini. Namun, sebuah catatan tertua mengungkapkan bahwa pada tahun 1819, di desa ini sudah terdapat 17 rumah penduduk. Seiring berkembangnya waktu, jumlah penduduk desa terus bertambah. Kini, jumlah penduduk di desa itu sudah sekitar 1.300 jiwa.
Penduduk di Desa Sembungan dikenal akan keramah-tamahannya. Sebagai desa wisata, warga di desa ini sudah terbiasa berkomunikasi dengan pengunjung. Di desa ini, masyarakatnya terbiasa hidup bergotong-royong.
Legenda Telaga Cebongan
©2021 Fimela.com
Dilansir dari laman GNFI, salah satu eksotisme Desa Sembungan adalah keberadaan Telaga Cebongan yang jadi sumber penghidupan warga. Bila dilihat dari atas bukit, sekilas telaga itu memang berbentuk seperti kecebong. Ada sebuah legenda yang dipercaya masyarakat setempat kalau telaga itu terbentuk akibat berbuatan curang dua saudara yang ingin memperebutkan seorang perempuan cantik.
Sadar dirinya jadi rebutan, perempuan itu kemudian mengadakan sayembara bagi dua pemuda itu untuk membuat telaga. Ketika telaga sang kakak sudah hampir jadi, sang adik menipunya dan kemudian mengalirkan air ke telaganya yang masih kosong. Telaga sang adik itulah yang dipercaya masyarakat setempat sebagai Telaga Cebongan yang sekarang. Sementara bekas telaga sang kakak yang sudah kosong sekarang menjadi Desa Pakurejo.
Waktu Terbaik Mengunjungi Desa Sembungan
©2021 Merdeka.com
Dilansir dari Fimela.com, waktu terbaik mengunjungi Desa Sembungan adalah pada Bulan Juli-Agustus. Bila beruntung, pada periode itu pengunjung bisa melihat hamparan sawah yang berwarna putih saat disinari cahaya matahari.
Walaupun belum banyak penginapan di Desa Sembungan, namun pengunjung akan diterima dengan hangat di rumah-rumah warga. Di sana, pengunjung dapat mendengar kisah-kisah dari warga tentang kehidupan di desa ini. (mdk/shr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya