Mengenal Tebak-Tebakan Islami Atau Alghaz, Metode Pembelajaran Fikih yang Efektif

Merdeka.com - Dalam fikih agama Islam, tebak-tebakan disebut dengan alghaz. Tebak-tebakan atau alghaz ini, dalam praktiknya tak hanya merupakan sebuah permainan yang menyenangkan. Melainkan juga dipandang sebagai metode pembelajaran pengenalan agama Islam yang efektif.
Alghaz secara etimologi berarti menyamarkan sesuatu. Sebagaimana secara terminologi diutarakan oleh Ibnu Najim dalam Hamisy Asybah wa Al-Nadzair adalah“masalah-masalah (fikih) yang disengaja disamarkan untuk kepentingan pengujian,” mengutip dari islami.co.
Tebak-tebakan atau alghaz bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia syariat. Tebak-tebakan islami dipandang sebagai bentuk kreativitas para ulama dalam meramu modulasi pembelajaran fikih. Tujuannya, agar materi yang diajarkan dapat disampaikan secara lebih santai dan lebih membekas di pikiran hati para murid.
Tebak-tebakan islami atau alghaz dapat menjadi solusi bagi para pengkaji fikih yang masih pemula. Karena, penyampaian materi melalui tebak-tebakan di samping menghibur juga sekaligus mengasah kreativitas dan intelektualitas. Berikut selengkapnya.
Contoh Tebak-Tebakan Islami atau Alghaz
Dalam tebak-tebakan islami, sudah pasti materi yang terkandung memiliki nilai edukatif. Tujuannya adalah mengajarkan hal-hal seputar fikih dengan cara atau metode yang santai dan ringan, namun tetap akurat. Berikut beberapa contoh tebak-tebakan islami atau alghaz yang disadur dari rumahfiqih.com:
Jawabannya; “40 orang itu semuanya bisu, tidak bisa berbicara. Syarat sah shalat Jumat itu khutbah Jumat. Kalau tidak ada Khutbah, tidak sah. Kalau semuanya bisu, tidak ada kewajiban shalat Jumat.”
Jawabannya; “Daging hewan kurban. Semua barang yang halal dimakan, maka halal juga diperjualbelikan. Tetapi daging kurban tidak boleh diperjualbelikan, hanya boleh disedekahkan.”
Jawabannya; “Dia meninggalkan shalat Jumat. Jika shalat Jumat ditinggalkan tidak perlu diqadha', yang harus dilakukan ialah melakukan shalat zuhur, sebagai penggantinya.”
Jawabannya; Shalat di pelataran ka’bah masjidil haram.
Contoh tebak-tebakan islami di atas adalah apa yang disebut oleh para fuqaha’ sebagai al-alghaz al-fiqhiyyah, yang dalam bahasa Indonesia berarti "teka-teki atau tebak-tebakan fikih". Dalam menyiapkan pertanyaan untuk tebak-tebakan islami seperti, tentunya harus didasarkan pada ilmu Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah. Karena pada dasarnya tebak-tebakanislami seperti ini harus dilotarkan dengan maksud untuk bertukar ilmu atau menambah wawasan bagi yang menyimak.
Tebak-Tebakan Islami Sebagai Metode Kajian Fiqih
Pada umumnya, fikih dipelajari dalam bentuk teks narasi atau syair. Dan tak dapat dipungkiri bahwa mempelajari fikih dengan metode-metode tersebut terkadang dapat menimbulkan kejenuhan dan kebosanan dalam prosesnya. Meskipun tentu metode-metode ini tetaplah efektif dan merupakan metode pengkajian utama hingga saat ini.
Untuk itu, hadirnya metode pembelajaran fikih melalui tebak-tebakan islami atau alghaz adalah sesuatu yang baru, segar, asyik dan menantang. Terlebih untuk pelajar yang masih anak-anak hingga remaja. Metode pembelajaran fikih dengan tebak-tebakan islami dapat menjadi ajang berpikir sekaligus mengasah logika dan kreativitas dalam belajar.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Abu Bakar bin Zaid al-Jara’i (883 H) dalam kitab Hilyat al-Tharraz fi Masail Alghaz, bahwa “Sesungguhnya menjadikan permasalahan-permasalahan fikih menjadi sebuah alghaz atau tebakan merupakan sesuatu yang bisa menggerakkan hati, membangkitkan semangat dalam mengkaji hukum-hukum aktual.”
Alghaz Sebagai Solusi Pembelajaran
Tebak-tebakan islami atau alghaz jelas telah hadir sebagai sebuah solusi yang menyegarkan bagi para pelajar dan pengajar. Kejenuhan dan kemalasan dalam mengkaji fikih diharapkan dapat berkurang dengan diaplikasikannya metode pembelajaran ini.
Mengkaji fikih dengan metode tebak-tebakan islami atau alghaz mulai dikenal secara luas sejak perkembangan empat poros besar mazhab fikih. Meski pada saat itu alghaz masih merupakan selingan-selingan ringan dalam pembelajaran. Baru ketika Abi Hafsh Al-Hamuwi mengawali kerja intelektualisme di bidang ini, takhassus atau pendalaman metode alghaz mulai dikembangkan dan dikukuhkan dalam kitab berjudul Al-Alghaz.
Tak lama setelah itu, Muhibbuddin At-Thabari (w.694 H), seorang ulama Mekah menyusul menerbitkan kitab serupa dengan judul yang sama. Pasca era Muhib At-thabari, kajian fikih dengan metode tebak-tebakan islami atau alghaz menjadi sangat populer dan diadaptasi secara luas sebagai solusi atau alternatif pembelajaran. (mdk/edl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya