PP Muhammadiyah yakin Amien Rais dan Luhut akan bertemu untuk berdialog

Merdeka.com - Pidato politikus senior PAN Amien Rais mengungkapkan program pembagian sertifikat tanah yang dilakukan Presiden Jokowi merupakan pengibulan. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meradang atas pernyataan Amien Rais tersebut.
Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, hal itu tak perlu dipersoalkan. Sebab ini merupakan era demokrasi yang terbuka. Dia juga yakin Amien Rais dan Luhut bisa bersilaturahmi dengan baik.
"Ini kan era terbuka. Jadi era terbuka di mana berbeda dengan era sebelumnya. Kami percaya keduanya akan bertemu dan punya titik dialog," kata Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir saat ditemui di kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (23/3).
Lanjutnya, bangsa Indonesia telah dewasa. Pun elitnya harus memberi contoh yang baik. Dia juga memaklumi di era demokrasi yang terbuka banyak orang berbeda pandangan.
"Bangsa ini udah dewasa dan Insya Allah para elitnya dewasa. Ramai ramai dikit ya wajar lah," ujar Haedar.
Sebelumnya, saat menjadi pembicara dalam diskusi Bandung Informal Meeting yang digelar di Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Bandung, Minggu (18/3), Amien Rais mengatakan program bagi-bagi sertifikat tanah Jokowi-Jusuf Kalla adalah pembohongan.
"Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien.
Lantas, Menko Maritim Luhut Pandjaitan tersulut serangan Amien Rais. Dalam pidatonya, Luhut memang tak menyebut nama Amien Rais. Dia menggunakan istilah 'senior' yang diduga merujuk pada Amien Rais yang kerap mengkritik Jokowi.
"Ada senior bilang kasih sertifikat itu ngibulin. Apa yang ngibulin. Sertifikat itu prosesnya panjang dan berbelit. Sekarang cepat dan banyak. Saya pikir kita nggak bisa asal ngomong," kata Luhut, Senin (20/3) malam.
Luhut juga kesal dengan serangan-serangan yang menyebut pemerintah pro-PKI. Menurutnya hal itu cuma kebohongan yang terus disebarkan.
"Jangan bilang pro-PKI, pro-PKI gimana? Saya ikut tumpas PKI. Saya tentara, saya tahu itu," kata Luhut.
Luhut menegaskan jangan pernah menyebut pemerintah tidak nasionalisme dan menyerang dengan kepentingan asing. Dia menyebut orang yang belum pernah ditembaki tak pantas mengkritik soal nasionalisme.
"Saya perang di Timtim tahun 1975. Anak buah saya gugur 8 orang di Kopassus. Jangan bilang Nasionalisme, kalau belum pernah ditembakin," kata Luhut.
"Kau merasa paling bersih, kamu boleh ngomong. Tetapi dosamu banyak juga kok. Udahlah diam saja lah. Tapi jangan main-main. Kita bisa cari dosamu sampai dapat," tegasnya.
(mdk/ded)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya