5 Penyebab Autisme yang Perlu Diketahui, dari Genetik Hingga Obat-obatan

Merdeka.com - Penyebab autisme memang belum diketahui secara pasti. Namun, para ilmuwan mengatakan ada beberapa faktor yang diduga memicu seseorang mengalami kelainan ini. Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder merupakan kelainan perkembangan dan neurologis dimana seseorang akan mengalami kelainan dalam perkembangannya sehingga mempengaruhi perilaku, interaksi sosial, dan komunikasi.
Hingga kini, kepastian mengenai penyebab autisme belum juga terpecahkan. Namun, autisme dikatakan terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Berikut beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu autisme dilansir dari laman Alodokter:
Genetik
©2013 Merdeka.com/shutterstock.com/Pressmaster
Dikutip dari laman alodokter, sekitar 2-18 persen orang tua yang menderita autisme, berisiko memiliki keturunan yang memiliki gangguan sama.
Menurut data dari National Institute of Health, ada beberapa bukti kuat yang menyatakan jika genetik cukup berkontribusi pada terjadinya autisme.
Para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi.
Bayi Prematur
AP
Bayi yang terlahir lebih awal dari usia seharunya, juga menjadi salah satu faktor penyebab jika ia mengidap autisme.
Obat-obatan
shutterstock
Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Pada ibu hamil yang sering mengonsumsi obat untuk mengatasi gejala mual dan muntah, kecemasan, serta insomnia seperti valproic dan thalidomide bisa menjadi salah satu faktor penyebab. Di beberapa negara, beberapa bayi yang lahir dilaporkan cacat setelah sang ibu mengonsumsi obat tersebut.
Usia Orang Tua
Semakin tua seseorang saat memiliki anak, semakin tinggi pula resiko lahir bayi yang mengidap autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.Hal ini diduga dikarenakan adanya faktor mutasi gen yang menyebabkan hal tersebut.
Perkembangan Otak
Ketidakseimbangan perkembangan pada otak inilah yang bisa dihubungkan dengan autisme. Pada ibu hamil, konsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan tertentu juga berisiko anak yang lahir menderita autisme.
Gejala Autisme
Pada kelainan ini, memungkinan setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda setiap orangnya. Akan tetapi, umumnya pada penderita menunjukkan beberapa gejala autis seperti dikutip dari National Health Service, yakni:
Gejala Pada Bayi
Gejala Pada Anak Pada Balita
Gejala Autisme Pada Orang Dewasa
Cara Mendiagnosa Autisme
Jika ada gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas, dokter biasanya akan melakukan berbagai tes pendekatan yang bisa membantu menegakkan diagnosis. Cara yang biasanya dilakukan oleh dokter diantaranya:
- Langkah pertama melibatkan screening perkembangan umum. Anak yang menunjukan beberapa masalah perkembangan dirujuk untuk evaluasi tambahan.
- Langkah kedua melibatkan evaluasi dari tim dokter dan dokter spesialis lain.
Tidak ada tes laboratorium secara khusus untuk mendiagnosis kelainan ini. Maka, dokter akan mengamati perilaku dan gejala yang dirasakan oleh anak atau seseorang dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Dokter juga akan melakukan pengamatan bagaimana anak berinteraksi dan bekromunikasi dengan sekitar. Setelah dilakukan beberapa pengamatan dan menguji kemampuan, barulah dokter bisa menyimpulkan apakah anak tersebut menderita autisme atau tidak. (mdk/khu)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya