Cara Mengatasi Telinga Berdengung: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan
Telinga berdengung sebenarnya tidak berbahaya, namun sensasi dengungan di telinga dapat sangat mengganggu dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Telinga berdengung, yang dalam istilah medis disebut tinnitus, adalah persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal.
Suara yang dirasakan dapat bervariasi, mulai dari dengungan, desis, hingga bunyi berdering. Kondisi ini dapat terjadi pada satu telinga atau kedua telinga, dan intensitasnya bisa berbeda-beda pada setiap orang.
Tinnitus bukanlah penyakit tersendiri, melainkan gejala dari berbagai kondisi kesehatan yang mendasarinya.
Beberapa orang mungkin hanya mengalami tinnitus sesekali dan ringan, sementara yang lain mungkin mengalaminya secara terus-menerus dan parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ada dua jenis utama tinnitus:
- Tinnitus subjektif: Jenis ini paling umum terjadi. Hanya penderita yang dapat mendengar suara berdengung tersebut. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari paparan suara keras hingga masalah pada saraf pendengaran.
- Tinnitus objektif: Jenis yang lebih jarang terjadi ini dapat didengar oleh dokter saat melakukan pemeriksaan. Biasanya disebabkan oleh masalah pembuluh darah, kontraksi otot, atau kondisi tulang di telinga tengah.
Memahami jenis tinnitus yang dialami dapat membantu dalam menentukan pendekatan pengobatan yang tepat.
Penting untuk diingat bahwa meskipun tinnitus bisa sangat mengganggu, dalam banyak kasus, kondisi ini dapat dikelola dengan baik melalui berbagai metode pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Penyebab Telinga Berdengung
Telinga berdengung atau tinnitus dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Memahami penyebab yang mendasari sangat penting untuk menentukan pendekatan pengobatan yang tepat. Berikut ini adalah beberapa penyebab umum telinga berdengung:
1. Paparan Suara Keras
Salah satu penyebab paling umum dari tinnitus adalah paparan terhadap suara yang sangat keras, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ini bisa terjadi akibat:
- Menghadiri konser musik dengan volume yang sangat tinggi
- Bekerja di lingkungan yang bising seperti pabrik atau lokasi konstruksi
- Mendengarkan musik dengan volume tinggi melalui headphone atau earphone dalam waktu lama
- Terpapar suara ledakan atau dentuman keras
Paparan suara keras dapat merusak sel-sel rambut halus di koklea, bagian telinga dalam yang bertanggung jawab untuk mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak.
Kerusakan ini dapat menyebabkan tinnitus dan bahkan kehilangan pendengaran permanen jika terjadi secara berulang atau dalam jangka panjang.
2. Penuaan dan Kehilangan Pendengaran Terkait Usia
Seiring bertambahnya usia, kemampuan pendengaran kita secara alami akan menurun. Kondisi ini dikenal sebagai presbikusis dan sering kali disertai dengan tinnitus. Penurunan fungsi sel-sel rambut di telinga dalam akibat penuaan dapat menyebabkan otak menerima sinyal yang tidak normal, yang kemudian diinterpretasikan sebagai suara dengungan atau berdering.
3. Gangguan Sirkulasi Darah
Masalah pada sistem peredaran darah juga dapat menyebabkan tinnitus. Beberapa kondisi yang terkait termasuk:
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
- Penyempitan arteri di leher
- Malformasi pembuluh darah
- Tumor yang menekan pembuluh darah di sekitar telinga
Dalam kasus-kasus ini, tinnitus mungkin terdengar berdenyut sesuai dengan detak jantung, yang dikenal sebagai tinnitus pulsatil.
4. Infeksi atau Penyumbatan Telinga
Tinnitus juga bisa disebabkan oleh kondisi yang mempengaruhi telinga bagian luar atau tengah, seperti:
- Infeksi telinga
- Penumpukan serumen (kotoran telinga)
- Otitis media (infeksi telinga tengah)
- Penyumbatan tuba Eustachius
Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan perubahan tekanan di telinga yang mengakibatkan tinnitus.
5. Efek Samping Obat-obatan
Beberapa jenis obat dapat menyebabkan atau memperburuk tinnitus sebagai efek samping. Obat-obatan tersebut termasuk:
- Aspirin dalam dosis tinggi
- Antibiotik tertentu
- Obat antidepresan
- Diuretik
- Kemoterapi untuk kanker
6. Gangguan Sendi Temporomandibular (TMJ)
Masalah pada sendi rahang (temporomandibular joint atau TMJ) dapat menyebabkan tinnitus. Hal ini karena sendi rahang berada sangat dekat dengan struktur telinga dalam, dan gangguan pada area ini dapat mempengaruhi pendengaran.
7. Cedera Kepala atau Leher
Trauma pada kepala atau leher dapat mempengaruhi telinga bagian dalam atau saraf yang menghubungkan otak dengan telinga, menyebabkan tinnitus.
8. Kondisi Medis Lainnya
Beberapa kondisi medis yang dapat dikaitkan dengan tinnitus meliputi:
- Penyakit Meniere
- Otosklerosis (pertumbuhan tulang abnormal di telinga tengah)
- Tumor akustik neuroma
- Anemia
- Diabetes
- Gangguan tiroid
Gejala Telinga Berdengung
Gejala utama telinga berdengung atau tinnitus adalah persepsi suara tanpa adanya sumber suara eksternal. Namun, manifestasi tinnitus dapat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya.
Berikut adalah penjelasan rinci tentang berbagai gejala yang mungkin dialami oleh penderita tinnitus:
1. Variasi Suara yang Didengar
Tinnitus dapat muncul dalam berbagai bentuk suara, termasuk:
- Berdenging: Suara dengungan konstan yang mirip dengan suara lebah atau peralatan listrik.
- Berdesis: Suara seperti angin atau uap yang keluar dari ketel.
- Berdering: Suara seperti lonceng atau alarm yang terus-menerus berbunyi.
- Berdenyut: Suara yang berirama sesuai dengan detak jantung, biasanya terkait dengan tinnitus pulsatil.
- Menderu: Suara rendah yang mirip dengan mesin atau kendaraan berat.
- Bersiul: Suara tinggi yang mirip dengan siulan.
- Klik: Suara seperti ketukan atau klik yang berulang.
- Beberapa orang mungkin mengalami kombinasi dari suara-suara ini, dan karakteristiknya bisa berubah dari waktu ke waktu.
2. Intensitas dan Durasi
Intensitas dan durasi tinnitus dapat bervariasi:
- Intensitas: Suara yang didengar bisa sangat pelan hingga sangat keras, kadang-kadang bahkan cukup keras untuk mengganggu kemampuan mendengar suara eksternal.
- Durasi: Tinnitus bisa muncul secara intermiten (sesekali) atau terus-menerus. Beberapa orang mungkin mengalaminya hanya beberapa menit, sementara yang lain mungkin mengalaminya sepanjang hari.
- Fluktuasi: Intensitas tinnitus bisa berfluktuasi, terkadang lebih keras dan terkadang lebih pelan.
3. Lokasi Suara
Tinnitus dapat dirasakan di berbagai lokasi:
- Satu telinga (unilateral)
- Kedua telinga (bilateral)
- Di dalam kepala
- Sulit untuk menentukan lokasi pastinya
4. Gejala Terkait
Selain suara yang didengar, tinnitus juga dapat disertai dengan gejala lain seperti:
- Gangguan pendengaran: Kesulitan mendengar suara eksternal, terutama dalam situasi bising.
- Pusing atau vertigo: Terutama jika tinnitus terkait dengan gangguan telinga dalam.
- Nyeri telinga: Jika tinnitus disebabkan oleh infeksi atau masalah pada telinga tengah.
- Sensitivitas terhadap suara (hiperakusis): Suara normal mungkin terasa terlalu keras atau menyakitkan.
5. Dampak Psikologis dan Emosional
Tinnitus yang persisten dapat menyebabkan berbagai dampak psikologis dan emosional, termasuk:
- Gangguan tidur: Kesulitan untuk tidur atau sering terbangun di malam hari.
- Kesulitan berkonsentrasi: Suara tinnitus dapat mengganggu fokus pada pekerjaan atau aktivitas sehari-hari.
- Kecemasan dan depresi: Stres akibat tinnitus yang terus-menerus dapat menyebabkan masalah kesehatan mental.
- Iritabilitas: Mudah merasa kesal atau marah karena suara yang terus-menerus terdengar.
- Kelelahan: Akibat gangguan tidur dan stres yang ditimbulkan oleh tinnitus.
6. Faktor yang Mempengaruhi Intensitas
Beberapa faktor dapat mempengaruhi intensitas gejala tinnitus, termasuk:
- Tingkat stres
- Konsumsi kafein atau alkohol
- Kelelahan
- Paparan suara keras
- Perubahan posisi tubuh
- Waktu dalam sehari (misalnya, lebih terasa di malam hari saat suasana hening)
Cara Mengatasi Telinga Berdengung
Mengatasi telinga berdengung atau tinnitus dapat melibatkan berbagai pendekatan, tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Berikut adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengatasi telinga berdengung:
1. Pengobatan Medis
- Jika tinnitus disebabkan oleh kondisi medis yang mendasarinya, pengobatan kondisi tersebut mungkin dapat mengurangi atau menghilangkan gejala tinnitus.
- Pembersihan kotoran telinga: Jika tinnitus disebabkan oleh penumpukan serumen, dokter dapat membersihkannya dengan irigasi atau alat khusus.
- Pengobatan infeksi: Jika tinnitus disebabkan oleh infeksi telinga, antibiotik mungkin diresepkan.
- Perubahan obat: Jika tinnitus adalah efek samping dari obat tertentu, dokter mungkin akan mengganti atau menyesuaikan dosis obat tersebut.
- Pengobatan gangguan pembuluh darah: Jika tinnitus disebabkan oleh masalah sirkulasi, pengobatan untuk kondisi ini mungkin membantu.
2. Terapi Suara
- Terapi suara bertujuan untuk menutupi atau mengalihkan perhatian dari suara tinnitus.
- Masking devices: Alat yang menghasilkan suara latar belakang seperti white noise untuk menutupi suara tinnitus.
- Hearing aids: Bagi mereka dengan gangguan pendengaran, alat bantu dengar dapat membantu mengurangi persepsi tinnitus.
- Tinnitus retraining therapy (TRT): Kombinasi konseling dan terapi suara untuk membantu otak “mengabaikan” suara tinnitus.
3. Terapi Kognitif Perilaku (CBT)
- CBT dapat membantu mengubah cara seseorang merespons dan memikirkan tinnitus mereka, mengurangi stres dan kecemasan yang terkait.
4. Teknik Relaksasi
- Stres dapat memperburuk tinnitus, sehingga teknik relaksasi dapat membantu:
- Meditasi mindfulness
- Yoga
- Latihan pernapasan dalam
- Biofeedback
5. Pengobatan Alternatif
- Beberapa orang melaporkan manfaat dari:
- Akupunktur
- Hipnoterapi
- Ginkgo biloba (meskipun bukti ilmiahnya masih terbatas)
6. Modifikasi Gaya Hidup
- Perubahan gaya hidup dapat membantu mengelola tinnitus:
- Menghindari paparan suara keras
- Mengurangi konsumsi kafein, alkohol, dan nikotin
- Menjaga pola tidur yang teratur
- Olahraga teratur
- Mengelola stres
7. Stimulasi Magnetik Transkranial (TMS)
- Metode ini menggunakan medan magnet untuk merangsang area otak tertentu dan dapat membantu mengurangi persepsi tinnitus pada beberapa orang.
8. Neurofeedback
- Teknik ini melibatkan pelatihan otak untuk mengubah aktivitas gelombang otak, yang dapat membantu mengurangi persepsi tinnitus.
9. Obat-obatan
- Meskipun tidak ada obat khusus untuk tinnitus, beberapa obat mungkin membantu mengelola gejala atau kondisi terkait:
- Antidepresan
- Anxiolytik (obat anti-kecemasan)
- Obat tidur (untuk kasus dengan gangguan tidur parah)
10. Dukungan Emosional
- Bergabung dengan kelompok dukungan tinnitus atau konseling individual dapat membantu mengatasi dampak emosional dari kondisi ini.
11. Manajemen Tidur
- Karena tinnitus sering kali lebih mengganggu saat hendak tidur:
- Gunakan suara latar belakang seperti musik lembut atau suara alam
- Hindari keheningan total
- Praktikkan rutinitas tidur yang konsisten
12. Perlindungan Pendengaran
- Untuk mencegah perburukan tinnitus:
- Gunakan pelindung telinga saat berada di lingkungan bising
- Batasi penggunaan headphone atau earphone dengan volume tinggi