BPN Sebut RI Belum Penuhi Gizi Seimbang: Lebih Banyak Makan Karbohidrat & Lemak
Merdeka.com - Kepala Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA) Arief Prasetyo Adi menyebut, kualitas pangan konsumsi masyarakat Indonesia belum beragam dan memenuhi gizi seimbang. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) 2021 menunjukkan angka 87,2 dari target 91,6. Sementara itu, angka kecukupan energinya mencapai 102,1 persen.
"Kita punya 102,1 persen terhadap angka kecukupan energi, jadi energinya cukup yang artinya kita pemakan karbo semua," kata Arief dalam HUT Ke-1 Badan Pangan Nasional (NFA) di Komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (31/7).
Berdasarkan data pemerintah, masyarakat Indonesia mengalami kelebihan konsumsi pada produk padi-padian, minyak dan lemak. Sementara konsumsi sayur, buah dan protein hewaninya kurang.
-
Apa tujuan utama Presiden Prabowo soal pangan? Saya telah mencanangkan bahwa Indonesia harus segera swasembada pangan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita tidak boleh tergantung sumber makanan dari luar,' ujar Presiden Prabowo dalam pidato berapi-api di depan anggota MPR, DPR, dan DPD pada Minggu, 20 Agustus 2024 lalu.
-
Kenapa swasembada pangan penting bagi Indonesia? 'Kita harus jamin kemampuan kita memberi makan rakyat kita sendiri,' ucap Prabowo kepada para pembantunya itu.
-
Apa itu makanan gizi seimbang? Makanan gizi seimbang adalah asupan yang mengandung berbagai jenis nutrisi seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
-
Apa manfaat program makan bergizi Prabowo? 'Ini tentunya juga di samping anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, kita juga mempekerjakan masyarakat sekitar sini, pedagang-pedagang juga akan sangat terbantu dengan program makan bergizi,' lanjutnya.
-
Bagaimana cara mencapai gizi seimbang? Untuk mencapai gizi seimbang, seseorang perlu mengonsumsi berbagai macam makanan dari berbagai kelompok, termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
-
Apa fokus kebijakan pangan Jokowi? Kebijakan pangan dan pertanian pada era Jokowi secara umum sudah relatif bagus. Dari sisi produksi juga sudah dilakukan diversifikasi sumber, termasuk food estate dan pemberdayaan lahan rawa.
Tingkat konsumsi padi-padian mencapai 60,1 persen dari yang seharusnya hanya 50 persen. Minyak dan lemak mencapai 12,8 persen dari yang idealnya hanya 10 persen. Sedangkan konsumsi sayur dan buah hanya 5 persen dari yang seharusnya 6 persen. Lalu pangan hewani 11,6 persen dari idealnya 12 persen.
"Protein hewani ini enggak mesti gading, bisa ayam dan ikan. Ikan ini harusnya jadi tuan rumah di negeri sendiri," tuturnya.
Sehingga Arief menilai masyarakat harus bisa mulai mengubah pola makan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. "Jadinya kita harus mulai common dengan pola makan beragam, bergizi seimbang dan aman," kata dia.
Luncurkan Gerakan Penganekaragaman Konsumsi Pangan B2SA
Maka dari itu, mulai tahun ini NFA akan mengkampanyekan penganekaragaman konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman (B2SA). Beragam artinya mengkonsumsi keanekaragaman sumber pangan. Bergizi seimbang artinya mengkonsumsi secara seimbang dan dapat memenuhi kebutuhan gizi yang dianjurkan sesuai dengan (PPH). Aman artinya bebas dari cemaran fisik kimia dan berkualitas.
Program ini sejalan dengan instruksi Presiden Joko Widodo yang meminta menggali kearifan pangan lokal dari seluruh Indonesia. "Tidak usah memaksakan pangan-pangan tertentu kepada wilayah tertentu karena Indonesia ini punya kearifan lokal pangan yang luar biasa," kata dia.
Dalam Kampanye Penganekaragaman Konsumsi Pangan B2SA ini kata Arief perlu ada jaminan keamanan pangan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Sehingga nantinya jaminan pangan tersebut akan dilakukan oleh NFA. "Kita titip ini supaya bisa dikampanyekan dan perlu ada jaminan keamanannya," katanya.
Dalam program ini NFA tidak bekerja sendiri, melainkan bekerja sama dengan berbagai kementerian/lembaga, BUMN Pangan dan Asosiasi pelaku usaha pangan. "Dengan semua KL dan badan terkait hadir di sini dalam rangka mendukung kegiatan ini dan ini triple helix. Kita punya kegiatan melibatkan seluruh pihak sehingga diharapkan treat kebawah ini sangat baik," tandasnya.
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Masalah kekurangan gizi termasuk salah satu masalah atau penyakit besar di Indonesia, disamping beberapa penyakit lainnya.
Baca SelengkapnyaMegawati Soekarnoputri mendukung salah satu program Presiden Prabowo Subianto yakni makan bergizi gratis (MBG).
Baca SelengkapnyaEkosistem pangan nasional ini bukan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi didorong untuk memenuhi kebutuhan pangan Asia Tenggara.
Baca SelengkapnyaPenerapan Nutri-Level di Indonesia merupakan langkah penting dalam upaya mengendalikan konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat.
Baca SelengkapnyaPrabowo telah menyiapkan anggaran sebesar Rp71 triliun pada tahun 2025 untuk program makan bergizi gratis
Baca SelengkapnyaAncaman masalah ganda nutrisi bisa dialami Indonesia akibat stunting di anak dan obesitas di orang dewasa.
Baca SelengkapnyaGizi seimbang adalah dasar penting untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
Baca SelengkapnyaAda empat tingkatan (level A, B, C, dan D) yang menunjukkan kategori pangan olahan berdasarkan kandungan GGL.
Baca SelengkapnyaGubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat bicara soal ciri khas orang miskin dan kaya.
Baca SelengkapnyaPemerintahan Prabowo-Gibran menurunkan harga makanan bergizi gratis per porsi menjadi Rp10 ribu. Awalnya, alokasi anggaran per porsi program tersebut Rp15 ribu.
Baca SelengkapnyaKonsumsi nasi bagi masyarakat Indonesia dan Asia merupakan salah satu pemicu tingginya angka diabetes.
Baca SelengkapnyaUntuk itu, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp139,4 triliun di 2025. Alokasi itu menyebar di beberapa kementerian/lembaga.
Baca Selengkapnya