Mudah Kelola Sampah Botol Kemasan dengan RVM Plasticpay, Solusi Ramah Lingkungan
Aquviva bekerja sama dengan Plasticpay untuk memperkenalkan inovasi pengelolaan sampah, yaitu "reverse vending machine" (RVM).

Sampah masih menjadi masalah yang perlu diatasi, termasuk sampah botol plastik yang sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari. Agar konsumen dapat lebih berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, produsen perlu memberikan kemudahan. Salah satu contohnya adalah Wings Group yang baru saja meluncurkan air minum Aquviva. Konsumen yang membeli air minum dalam kemasan botol "polyethylene terephthalate" (PET) diajak untuk berkontribusi dalam pengelolaan sampah plastik, guna mendukung ekonomi sirkular.
Aquviva bekerja sama dengan Plasticpay untuk meluncurkan inovasi dalam pengelolaan sampah melalui "reverse vending machine" (RVM). Setiap botol plastik Aquviva ukuran 700 mililiter yang dikembalikan dapat ditukarkan dengan poin senilai Rp56 (rupiah) yang dapat digunakan di berbagai platform seperti Gopay, OVO, Shopeepay, dan Dana. Dalam peluncurannya, Devi Chrisnatalia, Manajer Senior Brand Aquviva, menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mengajak konsumen berpartisipasi dalam pengelolaan sampah plastik. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung ekonomi sirkular demi masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
“'Reverse Vending Machine' (RVM) dan 'Dropbox' tersedia di beberapa titik di Jabodetabek sebagai tahap awal,” ujarnya saat peluncuran resmi produk air mineral dari Wings Food di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Selasa, 25 Februari 2025. Plasticpay merupakan gerakan sosial berbasis platform digital yang mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah. Sampah plastik yang terkumpul akan didaur ulang menjadi butiran "Recycled Polyester Staple Fiber", benang, dan kain yang memenuhi standar kualitas tinggi. Bahan-bahan ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk berbagai produk seperti bantal, boneka, tempat tidur, karpet, furnitur, dan interior otomotif, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber pada, Rabu(26/3/2025).
Manfaatkan Botol Plastik melalui Aplikasi Plasticpay

Brand air minum tersebut menyediakan kemasan botol dalam berbagai ukuran, yaitu kecil (250 mililiter), sedang (700 mililiter), dan besar (1.600 mililiter). Setiap ukuran kemasan ini ternyata ditujukan untuk segmen pasar yang berbeda-beda. Devi Chrisnatalia menjelaskan bahwa target pasar untuk masing-masing ukuran kemasan memang tidak sama. "Ukuran kecil cocok untuk acara-acara nih, misalnya acara hajatan, atau acara pertemuan, 'open house' pas lebaran nanti mau mengundang tamu-tamu ke rumah, buat bekal anak sekolah, itu cocok banget 250 mili," ungkap Devi.
Ia juga menambahkan bahwa sampah plastik tidak selalu berdampak negatif bagi lingkungan; sebaliknya, sampah tersebut dapat menjadi bernilai ekonomi. Dalam kesempatan tersebut, influencer dr Nadia Alaydrus turut berpartisipasi dalam mengumpulkan sampah botol plastik dengan menggunakan "reverse vending machine" (RVM).
Proses pengumpulan botol plastik ini dijelaskan secara rinci di mesin penerima, yang mencakup langkah-langkah berikut:
1. Pastikan Anda telah mengunduh dan registrasi aplikasi Plasticpay di ponsel masing-masing.
2. Kemudian klik mulai pada layar, lalu letakkan botol plastik.
3. Letakkan botol satu persatu, tunggu hingga botol tertarik otomatis dan lampu berwarna hijau.
4. Klik tombol ambil poin pada layar, kemudian pindai kode QR yang muncul dengan membuka aplikasi Plasticpay. Selanjutnya klik konfirmasi poin hingga bertuliskan "transaksi berhasil".
5. Apabila terjadi kendala, hubungi dukungan pelanggan Plasticpay di nomor WhatsApp 081213120300.
Pengelolaan Sampah di Indonesia Memiliki Beberapa Fakta Penting

Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah di berbagai daerah, baik itu sampah organik maupun anorganik. Namun, laporan penelitian berjudul 'Potret Sampah 6 Kota' yang dilakukan oleh Net Zero Waste Consortium mengungkapkan bahwa jumlah sampah organik lebih tinggi dibandingkan dengan sampah anorganik. Meskipun tonase sampah organik lebih besar, volume sampah anorganik seperti plastik dan kertas justru mendominasi di berbagai lokasi. Misalnya, di tempat-tempat seperti tong atau bak sampah, Tempat Pembuangan Sampah (TPS), transporter, dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta di lingkungan seperti badan air, pinggir jalan, sawah, dan pesisir laut.
Dokumen riset tersebut mencatat, "Serpihan kemasan produk berbagai brand adalah timbulan sampah terbesar di 6 kota berikut sampah plastik kresek dan kemasan plastik seperti saset, bungkus plastik, tetrapack, botol, cup, popok, wadah plastik juga mendominasi timbulan sampah di berbagai site dan rantai jalur sampah termasuk di TPA." Penelitian ini mencakup enam kota, yaitu Medan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Surabaya, dan DKI Jakarta, yang menunjukkan bahwa masalah sampah adalah isu yang sangat serius dan perlu perhatian lebih dari semua pihak.
Hasil Penelitian Sampah

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi jumlah timbulan sampah di enam kota dengan metode pengambilan sampel di tempat pembuangan sampah (TPS), tempat pembuangan akhir (TPA), serta lokasi-lokasi lain yang telah ditentukan, yaitu sekitar 12 hingga 17 titik sampling di setiap kota. Selanjutnya, dilakukan pengukuran berat sampah yang dimasukkan ke dalam wadah berbentuk kotak dari kawat wiremash berukuran 1 x 1 x 1 meter untuk mengetahui volumenya.
Setelah itu, sampah dipilah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan anorganik. "Sampah organik kembali dipilah ke dalam beberapa jenis dan demikian juga sampah anorganik juga dipilah jadi beberapa jenis. Langkah berikutnya sampah plastik dipilah kembali berdasarkan jenis kemasan yakni saset, bungkus, kantong, botol, cup, styrofoam yang kemudian dari masing-masing jenis kemasan plastik ini dikumpulkan sesuai merek dan diakhiri dengan menghitung satuan sampah plastik sesuai merek," demikian tertulis dalam dokumen penelitian tersebut.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam daftar sepuluh besar merek yang sampahnya paling banyak ditemukan, porsi terbanyak (59.300 buah) terdiri dari serpihan plastik berbagai merek yang tidak dapat diidentifikasi. Di peringkat kedua, terdapat sampah kantong kresek dengan jumlah 43.957 buah, diikuti oleh sampah bungkus Indomie sebanyak 37.548 buah.
Lima peringkat selanjutnya diisi oleh sampah plastik dari empat merek minuman terkenal, yaitu AQUA dalam kemasan gelas, botol Sprite, Club dalam kemasan gelas, VIT dalam kemasan gelas, dan botol Fanta. Sedangkan dua peringkat terbawah adalah sampah saset Sunsilk dan bungkus kopi Kapal Api. Secara keseluruhan, sampah dari sepuluh merek makanan dan minuman ini mencapai 17 persen dari total sampah yang berhasil diidentifikasi dalam riset.