Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mewarnai Jakarta dengan kritik rupa

Mewarnai Jakarta dengan kritik rupa Mural 12 Mei 1998. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - "Dijual tanah ini, Hub: Tuhan," begitu The Popo menyindir sebuah bangunan permanen di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kritik itu bukan tanpa sebab di lakukan pemilik nama lengkap Riyan Riyadi, bangunan itu menyalahi aturan Izin Mendirikan bangunan karena letaknya hanya delapan meter dari rel kereta api.

Popo menggambar itu memang di tujukan bagi orang-orang yang mendirikan bangunan di sepajang jalur kereta api menuju arah Bogor itu. Dia mengkritik lantaran pendiri bangunan itu seolah memiliki tanah.

"Karena banyak orang yang ngaku-ngaku kan. Soalnya rumah itu kan ilegal di situ. Cuma emang sudah digusur sekarang," ujar Popo. Rumah itu pun kini rata dengan tanah lantaran menjadi salah satu dari banyak bangunan di sepanjang rel kereta api yang ditertibkan oleh PT KAI.

Karena ulahnya menggambar di salah satu bangunan, Popo kena tegur Satuan Polisi Pamong Praja yang diduga membekingi berdirinya bangunan tersebut. Namun Popo punya argumen. "Bangunan itu jaraknya 8 meter dari rel dan itu ilegal," tutur Popo.

The Popo memang salah satu seniman mural tersohor di Jakarta. Karya-karyanya yang nyentrik namun berisi kritik sosial mengantarkan dia meraih penghargaan The Best Mural Artist pada Tembok Bomber Award 2010. Sebagai salah satu seniman jalanan, karya-karya Popo memang banyak menghiasi berbagai tembok di ruang publik di Jakarta.

Popo memang memiliki konsep dalam karyanya. Setiap gambar yang dia buat berisi cerita dari lokasi ruang itu sendiri. "Mulai dari strategi gue minta izin, strategi membaca ruang, karena itu bagian dari karya gue juga. Jadi menurut gue, hal itu yang lebih gue ke depankan dalam modal utama gue sebagai seniman mural," tutur The Popo.

Selain Popo, salah satu seniman jalanan lain ialah 'Bujangan Urban', karya-karya dari lelaki yang akrab disapa Jablay ini juga mengisi ruang publik di Jakarta. Salah satu karyanya yang fenomenal ialah gambar bunga di tembok depan Gedung Wisma BNI 46, Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Pusat.

Gambar itu begitu menohok bagi para pekerja kantoran daerah yang lalu lalang melintas. Tulisan di tembok itu berbunyi 'Loyalitas Tanpa Batas Bikin Hidup Makin Terbatas'. "Lo pada kerja buat menghidupi keluarga. Tetapi ketika kerjaan lo bertambah dan elo naik jabatan, kenapa lo malah melupakan keluarga," ujar Jablay saat berbincang dengan merdeka.com di toko cat semprot miliknya, Kamis pekan lalu

Keberadaan seniman jalanan berupa seni graffiti dan mural memang marak sejak tahun 2003. Meski kebanyakan dari mereka hanya merusak ruang publik dengan menonjolkan nama sendiri, namun tidak bagi The Popo dan Bujangan Urban. Kehadiran dua seniman ini justru berkontribusi akan perilaku dalam lingkungan di ruang yang mereka gambar. Pesan moral dan kritik sosial pun menjadi tema besar dari hasil karya-karyanya.

Bagi mereka, berseni dengan cat harus mempunyai tujuan. "Ada benang merah antara gambar dan tempat itu. Soalnya kan si tembok ini punya peran juga di lingkungan tersebut," ujar Popo.

Sejatinya kehadiran The Popo dan Bujangan Urban ialah sarana komunikasi. Melalui gambar keduanya mencoba berkomunikasi apa dengan lingkungan itu sendiri. Pesan moral bagi keduanya dipegang teguh sebagai seniman jalanan.

"Tujuan utamanya sih untuk menciptakan komunikasi saja. Ini cara gue berkomunikasi melalui gambar. Enggak ada maksud mau membuat ruang itu jadi lebih baik atau enggak. Gue enggak merasa menjadikan tempat itu jadi lebih baik. Karena kalau nyatanya ada mural gue terus tempat itu enggak jadi lebih baik gimana ? Itu kan tanggung jawabnya besar. Makanya gue cuma mau buat untuk sarana komunikasi saja," kata The Popo. (mdk/arb)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP