Adab Presiden Prabowo Sowan Temui Profesor Sepuh Emil Salim, Serius Mencatat Nasihat Penting dari Senior
Di lokasi, Prabowo turut melontarkan adab yang tak terduga.

Ada momen menarik yang berlangsung pada Rabu (22/1) lalu di kediaman sosok profesor senior ahli ekonomi dan politik. Presiden Prabowo Subianto terlihat berkunjung seorang diri.
Dalam pertemuan itu, sang senior tampak mengungkap sejumlah nasihat penting yang ditujukannya kepada dirinya sendiri. Di lokasi, Prabowo turut melontarkan adab yang tak terduga.
Dia mencatat sejumlah pesan penting seorang diri hingga mencium tangan sang senior. Seperti apa momennya tersebut? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Adab Prabowo saat Bertemu Senior
Kediaman eks Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PPLH) Emil Salim di Jakarta pada Rabu lalu mendadak banyak menuai sorotan. Bagaimana tidak, Presiden Prabowo Subianto terlihat sowan dalam balutan kemeja safari krem seorang diri.
Sementara Emil Salim terlihat formal dengan balutan kemeja batik berwarna biru terang dan celana panjang gelap.
Keduanya terlibat perbincangan serius saat duduk saling berhadapan satu sama lain di sebuah kursi panjang. Momen tersebut selayaknya yang tergambar jelas dalam unggahan akun TikTok @tumgrd belum lama ini.
"Beliau benar-benar ingin menyelesaikan permasalahan bangsa dengan cepat," demikian dikutip dari keterangan unggahan.

Diberi Nasihat
Dalam ungggahan yang terungkap ke publik, sosok ekonom yang dihormati di tanah air itu tampak memberi nasihat penting. Dia terdengar berbicara soal tugas kepala negara.
Di sana, Emil mengingatkan Prabowo soal amanat negara saat seorang presiden hendaknya menjalankan Undang-Undang yang berlaku.
"Tentu tugas sebagai kepala negara bukan pejabat dari golongan apapun. Saudara menjalankan Undang-Undang," tegas Emil, demikian dikutip dari keterangan unggahan.
Saat itu juga, Presiden Prabowo terlihat serius mencatat dengan pulpen hitam di atas sebuah kertas berwarna putih.
Sementara saat berpisah, Presiden Prabowo tampak berpamitan dengan wajah yang tersenyum. Dia turut menjabat tangan sang senior sembari menundukkan kepala.
Melansir dari Antara, Prabowo usai pertemuan tersebut diketahui lantas menceritakannya kepada jajaran menteri, wakil menteri, kepala badan dan anggota Kabinet Merah Putih lainnya pada Sidang Kabinet Paripurna yang diselenggarakan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (22/1).
Dalam momen itu, Presiden disebut telah menyampaikan pesan mendalam dari sosok Profesor Emil Salim soal pentingnya orientasi pengabdian pejabat negara kepada kepentingan rakyat dan negara.

Ungkap Isi Perbincangan
Presiden Prabowo Subianto pun secara gamblang mengungkap isi pertemuannya dengan eks Menteri Perhubungan itu.
"Saya tadi pagi kebetulan berjumpa dengan Profesor Emil Salim seorang senior usianya 94 tahun berkali-kali jadi menteri ya beliau menyampaikan pesan-pesan, menyampaikan harapan-harapan, dan menyampaikan apa-apa yang beliau jadikan pegangan beliau," kata Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (22/1).
Prabowo menyampaikan, Emil Salim mengingatkannya bahwa menteri merupakan pejabat negara. Sehingga, para menteri harus mengabdi kepada negara.
"Inti yang saya kira saya tangkap dari beliau (Emil Salim), beliau ingatkan bahwa seorang menteri adalah seorang pejabat negara, berarti orientasi pengabdiannya adalah negara," ujarnya.
"Dengan demikian, saudara-saudara apa yang kemarin atau apa yang tadi disampaikan sebagai harapan para senior kita kita diingatkan bahwa sebagai pejabat negara orientasi kita pertama untuk negara," sambung Prabowo.
Profil Singkat Profesor Emil Salim
Profesor Emil Salim sendiri merupakan ahli ekonomi dan politik kelahiran Palembang tahun 1930.
Sebelum kini akhirnya menjabat sebagai anggota dewan pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional, Emil diketahui telah malang melintang di tubuh pemerintahan.
Tahun 1971 lalu, dia dipercaya menjadi Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara Indonesia lalu Menteri Perhubungan pada tahun 1973.
Emil pun turut dipercaya kembali dengan menjadi Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup Indonesia era Presiden Soeharto.
Sementara semasa Presiden SBY, dia menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.
Sejak kecil, Emil mendapatkan akses pendidikan yang cukup bergengsi. Semasa pendudukan kolonial, dia bahkan telah menempuh studi di Frobel School, Banjarmasin, Europesche Lagere School, hingga Dai Ichi Syo-Gakko, Palembang.
Setelah merdeka, Emil lantas melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Bogor, Jawa Barat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan University of California, Berkeley, Amerika Serikat.