Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengintip Uniknya PLTA Lamajan, Pembangkit Peninggalan Belanda

Mengintip Uniknya PLTA Lamajan, Pembangkit Peninggalan Belanda PLTA Lamajan. Syifa Hanifa ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Mungkin masih sedikit orang yang mengetahui tentang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Lamajan. PLTA ini ada sejak zaman penjajahan Belanda yaitu tepatnya pada 1924, dan mulai beroperasi tahun 1925 hingga sekarang.

Untuk mencapai ke ruang di mana pembangkit dan turbin PLTA yang berada di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat berada ternyata tidaklah mudah. Pekerja yang ada di sana harus turun menggunakan lori sederhana yang sudah ada sejak zaman Belanda dengan jalur yang cukup curam.

lamajan©2019 Liputan6.com

Namun sayangnya, lori ini tidak dapat beroperasi setiap hari mengingat sudah tua. Untuk itu para pekerja nantinya akan menuruni anak tangga yang berjumlah kurang lebih 500 buah yang berada di samping jalur lori.

"Memang harus jalan kaki untuk sampai ke bawah, kami semua memang sudah terbiasa untuk itu," kata salah satu operator senior PLTA Lamajan, Saiful Anwar, Bandung, Selasa (14/5).

lamajan©2019 Liputan6.com

PLTA Lamajan ini ditopang oleh tiga (3) unit pembangkit yang berkapasitas total 19,56 Mega Watt (MW) di mana unit 1 dan 2 dibangun pada 1924 sedangkan unit 3 pada 1933 dan mulai beroperasi 1934.

Meskipun PLTA ini telah beroperasi selama 94 tahun, namun salah satu Sub Unit Pembangkit UP Saguling ini baru sekali mengalami renovasi yaitu pada 1995. Namun ini bukan perbaikan yang besar melainkan hanya penambahan kapasitas pada unitnya saja.

"Pernah direnovasi 1993, tapi itu cuma penambahan kapasitas saja tapi semua termasuk mesinnya masih original Belanda," kata Darar Almas salah satu operator PLTA Lamajan.

Dalam PLTA ini ada dua buah pipa pesat sebagai penghubung antara Kolam Tando Harian (KTH) dengan power house yang berisikan tiga buah unit turbin dengan daya terpasang mencapai 7,25 MW. Air yang berada di PLTA Lamajan ini berasal dari air olahan PLTA Pengalengan.

"Jadi air olahan dari PLTA Pengalengan itu ditampung di KTH yang ada di atas, lalu air itu dialirkan ke sini melalui pipa pesat," jelasnya.

004 debby restu utomo©2019 Liputan6.com

Almas menambahkan energi yang dihasilkan oleh air yang mengalir dari atas ini nantinya akan digunakan untuk memutarkan mesin turbin yang ada di power house hingga akhirnya menjadi energi listrik yang dapat di gunakan.

Sebagai tambahan informasi, Unit Pembangkitan Saguling atau biasa disingkat UP Saguling memiliki tujuh Sub Unit Pembangkit yang terletak di Kabupaten Bandung Barat dengan total kapasitas terpasang mencapai 797,36 MW dengan ditopang tujuh Sub Unit Pembangkit, sedangkan untuk kapasitas Unit PLTA Saguling sendiri berkapasitas 700,72 MW.

003 debby restu utomo©2019 Liputan6.com

Tujuh Sub Unit itu antara lain, Sub Unit PLTA Bengkok dan Dago (Kab. Bandung), Sub Unit PLTA Plengan (Kab. Bandung), Sub Unit PLTA Lamajan (Kab. Bandung), Sub Unit PLTA Cikalong (Kab. Bandung), Sub Unit PLTA Ubrug (Kab. Sukabumi), Sub Unit PLTA Karacak (Kab. Bogor), Sub Unit PLTA Parakan Kondang (Kab. Sumedang).

General Manager UP Saguling Rudiansyah mengatakan energi yang dihasilkan PLTA UP Sagulin ini dapat memenuhi seluruh pasokan listrik yang kosong akibat dari Black Out. "Unit pembangkit ini siap untuk mengcover pasokan listrik saat Black Out," jelasnya.

Reporter: Ayu Lestari Wahyu Puranidhi

Sumber: Liputan6

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP