Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Nasib pembangunan mega proyek JSS masih pudar

Nasib pembangunan mega proyek JSS masih pudar jembatan selat sunda. blogspot.com/

Merdeka.com - Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) hingga saat ini belum menemui titik terang. Pembiayaan feasibility Study (FS) atau uji kelaikan pembangunan jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera tersebut masih menggantung.

"Kelanjutan JSS belum-belum. Belum ada dan mau kita rapatkan. Belum tahu tergantung ketuanya. Kan Dewan Pengarahnya pak Menko Perekonomian. Kalau laporan saya sudah. Pembiayaan FS yang masih bermasalah," ujar Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/2).

Menurutnya, konsep awal pembangunan mega proyek ini menggunakan APBN. Namun, hingga saat ini persoalan anggaran tersebut masih belum diputuskan.

"Masih bermasalahnya. Sebenarnya dulu konsepnya adalah pakai uang APBN semua, okelah sampai hari ini belum ada. Tarik ulurnya belum selesai," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Hediyanto W Husaini menyatakan, setidaknya terdapat dua masalah teknis dalam pembangunan JSS. Yakni ketersediaan pasokan beton dan keterbatasan alat.

"Kita harus memperhitungkan kita akan ada suplai beton yang begitu besar 7,7 juta meter kubik, artinya kita harus siapkan," ujar Hediyanto di sela Indonesia-Japan Conference on Contruction di Jakarta, Kamis (21/11) tahun lalu.

Hediyanto mengatakan, kebutuhan beton untuk membangun JSS terbilang besar. Sejauh ini belum ada produsen dalam negeri yang mampu menyediakan beton dalam jumlah tersebut.

Tidak hanya keterbatasan beton, belajar dari pengalaman pembangunan Jembatan Suramadu, dia memastikan, proyek JSS juga akan mengalami kendala yang sama yaitu keterbatasan alat. Tidak ada alat pengecor untuk pembangunan konstruksi lepas pantai atau biasa disebut traveler

"Itu (traveler) di Asia kita cari-cari, adanya di Thailand, kita beli, ada juga di Taiwan, kita beli. Itu khusus untuk Suramadu. Artinya, jangankan di Indonesia, di Asia pun susah mencari peralatan itu," kata Hediyanto.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP