Alat terbatas, kebakaran lahan di Kalbar dipadamkan dengan ember

Merdeka.com - Petugas Babinkamtibmas bersama warga Desa Kuala Mandor B di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mesti berjibaku memadamkan kebakaran satu hektare lahan gambut, di parit Cua Dusun Pelita Jaya, di desa setempat. Api diketahui berkobar sejak Minggu (10/7) lalu.
Pemadaman kebakaran lahan gambut membuat repot warga dan petugas, lantaran di samping sulitnya sumber air, juga keterbatasan peralatan pemadam. Meski begitu, kobaran api berhasil dipadamkan sehari kemudian.
"Kita cuma gunakan peralatan sederhana, berupa ember. Tapi karena kekompakan kita bersama masyarakat, pakai ember bukan jadi kendala memadamkan api," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Pol Suhadi SW, dalam keterangannya kepada wartawan, di Pontianak, Selasa (12/7).
Aparat bersama warga, memang berupaya keras melakukan pemadaman dini kebakaran lahan gambut, agar peristiwa sebelumnya di medio Juli-September 2015 lalu tidak terulang. Mengingat, struktur tanah di Kalimantan Barat, sebagian besar merupakan lahan gambut.
"Lahan gambut itu kalau terbakar, sulit dipadamkan. Karena api ada di bawah permukaan, pemadamannya memerlukan keahlian tertentu," ujar Suhadi.
"Kami minta pengusaha sawit, membuat bloking kanal di lahan gambut yang sudah dieksploitasi jadi lahan sawit. Bloking kanal ini penting, dengan terjaganya kelembaban lahan gambut yang cukup, maka gambut tidak mudah kering dan tidak mudah terbakar," tambahnya.
"Soal minimnya peralatan pemadam, khususnya di desa, kami koordinasikan dengan BKSDA Kalbar, menindaklanjuti keluhan petugas di lapangan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kalau memungkinkan, pompa pemadam kebakaran ditempatkan di desa-desa, yang berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan," terangnya.
Masih menurut Suhadi, kebakaran lahan dan hutan, khususnya lahan gambut, disebabkan fungsi gambut sebagai penyangga air, tidakagj berfungsi sebagaimana mestinya. "Tapi justru memberikan kontribusi yang signifikan dalam kebakaran hutan dan lahan," demikian Suhadi.
Data diperoleh dari BMKG Kalimantan Barat, titik panas di Kalimantan Barat, kembali bermunculan. Sembilan titik panas terpantau di kabupaten dan kota di Kalbar, pada 11 Juli 2016 pukul 16.00 WIB. Namun demikian, sejauh ini, meski terlihat kabut asap tipis, belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Supadio Pontianak. (mdk/ary)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya