Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bimanesh pertanyakan keterangan Fredrich di sidang berbeda dengan BAP

Bimanesh pertanyakan keterangan Fredrich di sidang berbeda dengan BAP Sidang lanjutan Fredrich Yunadi. ©2018 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Terdakwa perintangan penyidikan korupsi proyek e-KTP, Bimanesh Sutarjo menyangsikan keterangan Fredrich Yunadi terkait kecelakaan tunggal yang melibatkan Setya Novanto. Sebab, keterangan Fredrich di depan majelis hakim bertolak belakang dengan keterangan yang tercantum di Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Saat memberi keterangan sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Fredrich menyarankan ajudan Nocanto yakni AKP Reza Pahlevi membawa bosnya ke rumah sakit terdekat dari lokasi kecelakaan. Sementara keterangannya di BAP, Fredrich mengatakan agar Reza selaku ajudan membawa Novanto ke rumah sakit Medika Permata Hijau dan melarang Reza ke rumah sakit pusat Pertamina, ataupun Pondok Indah. Meski dua rumah sakit tersebut berada di radius dekat dengan lokasi kecelakaan.

"Anda katakan bahwa dihubungi Reza ada kecelakaan dan Reza disuruh tanya rumah sakit terdekat. Betul keterangan saksi seperti ini?" tanya Bimanesh kepada Fredrich, Jumat (4/5).

"Berdasarkan keterangan Reza demikian," ujar Fredrich.

"Tapi kok di BAP Anda berbeda. Ya sudah bawa saja ke rumah sakit terdekat Medika Permata Hijau jangan dibawa ke Pertamina atau Pondok Indah. Bawa saja nanti saya ke sana," ujar Bimanesh sambil membacakan BAP milik Fredrich.

Usai dibacakan, Fredrich berkilah keterangan itu tidak benar. Dia meralat keterangannya seperti yang tertuang di BAP saat proses penyidikan. Namun sikap Fredrich dikritisi Ketua Majelis Hakim Mahfudin.

Hakim Mahfudin menanyakan alasan Fredrich baru meralat keterangannya saat ini, bukan saat proses penyidikan.

"Kenapa Anda tidak meralat saat itu?" Tanya Hakim Mahfudin.

"Saya tidak perhatikan yang mulia," ujar Fredrich.

Diketahui saat ini Fredrich menjadi pesakitan KPK dengan status terdakwa bermula saat Kamis (16/11) petang, Novanto mengalami kecelakaan di Permata Hijau bersama Hilman Mattauch dan Reza. Ketiganya berencana ke Metro TV untuk melakukan wawancara, sebelum akhirnya ke DPD Golkar dan Novanto menyerahkan diri ke KPK. Dari kecelakaan itu, Novanto langsung dibawa ke RSMPH dan masuk ke kamar inap VIP 323 lantai 3 .

Dari kecelakaan tersebut, KPK menduga adanya rekayasa dan upaya melakukan perintangan penyidikan oleh Fredrich Yunadi sebagai kuasa hukum Novanto saat itu. Fredrich menyampaikan kepada Novanto akan melakukan uji materi mengenai undang-undang MPR, DPR, DPRD, dan DPD atau disebut dengan undang-undang MD3, atas pemanggilan Novanto oleh KPK.

Sebelum kecelakaan terjadi, Fredrich diketahui telah memesan kamar untuk Novanto. Dia juga meminta agar diagnosa rawat inap mantan Ketua Umum Golkar itu adalah kecelakaan. Hal itu dikonfirmasi oleh Bimanesh Sutarjo, dokter spesialis penyakit dalam pada RSMPH, saat mendapat telepon dari Fredrich.

Atas perbuatannya, Fredrich didakwa telah melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP
Tim Hukum Anies dan Prabowo Debat Panas, Hakim MK: Kalau Mau Bicara Semua, Keluar Saja
Tim Hukum Anies dan Prabowo Debat Panas, Hakim MK: Kalau Mau Bicara Semua, Keluar Saja

Semula, Bambang bertanya kepada saksi dari Prabowo-Gibran yakni Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia tentang pelanggaran tahapan verifikasi faktual.

Baca Selengkapnya
Hakim Emosi Dengar Saksi Gazalba Saleh Kembali Cabut BAP: Saudara Anggap Apa Sidang Ini!
Hakim Emosi Dengar Saksi Gazalba Saleh Kembali Cabut BAP: Saudara Anggap Apa Sidang Ini!

Saksi Gazalba Saleh Ahmad Riyadh mendadak mencabut keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saat sidang korupsi hakim agung Gazalba Saleh.

Baca Selengkapnya
PN Jaksel Belum Terima Surat Pencabutan Gugatan Praperadilan Firli Bahuri
PN Jaksel Belum Terima Surat Pencabutan Gugatan Praperadilan Firli Bahuri

"Hakim praperadilan belum menerima surat permohonan pencabutan,” kata Pejabat Humas PN Jakarta Selatan, Djuyamto

Baca Selengkapnya