Cerita PSK Kramat Tunggak jual nasi uduk dan jadi tukang cuci
Merdeka.com - Sekitar 2.000 pekerja seks komersil (PSK) di Kramat Tunggak putar otak setelah lokasi mangkal mereka digusur. Untuk bertahan hidup, akhirnya banyak PSK insyaf lalu alih profesi.
Lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu kini menjadi Jakarta Islamic Centre (JIC). Setelah berdiri rumah Allah, lambat laun perubahan positif pun dirasakan oleh warga sekitar.
Ketua RW 019, Kampung Beting Remaja, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Richardo Hutahaean mengungkapkan, para PSK yang tinggal di lingkungannya, maupun para pecandu minuman keras sudah berubah pola hidupnya. Mereka mulai ingat dengan akhirat.
-
Dimana sekolah itu berada? Peristiwa itu terjadi di Sekolah Al-Awda di Abasan al-kabira, bagian selatan Jalur Gaza dekat Khan Younis.
-
Bagaimana Bapak Joko bisa menyekolahkan anaknya? 'Ya suatu kebanggan bagi saya, memang dari dulu sebelum menikah, bahkan saya itu punya cita-cita nanti kalau sudah berkeluarga dan punya anak, yang saya utamakan memang segi pendidikan, walaupun bapaknya kondisinya kayak begini, yang penting anaknya bisa sekolah,' jelas Joko.
-
Dimana anak Komeng bersekolah? Keduanya lulus dari International Islamic School (IISS).
-
Dimana anak-anak bisa belajar? Aktivitas seperti berjalan-jalan di alam, memasak bersama, atau mengunjungi taman atau kebun binatang memberi anak-anak kesempatan untuk bertanya dan belajar.
-
Siapa yang mengantar anak-anak ke sekolah? Baru-baru ini, Celine Evangelista berbagi tentang rutinitas paginya saat ia menyiapkan anaknya untuk pergi ke sekolah.
"Perubahan warga sini drastis, terutama pekerja seks itu. Mereka ada yang alih profesi seperti berdagang nasi uduk, menjadi cuci pakaian di rumah-rumah orang paruh waktu, kerja pabrik," kata Richardo saat ditemui di rumahnya, Rabu (16/9).
Richardo bercerita awal banyak orang menggantungkan hidup di lokalisasi. Tetapi, lanjutnya, meski secara roda perekonomian baik, tetapi tidak secara moral karena semakin menghancurkan moral warga.
"Semenjak didirikannya JIC, aura positif mulai muncul. Moral lingkungan sini semakin membaik seiring berjalannya waktu," tuturnya.
Richardo menjelaskan, semenjak adanya JIC kontribusi warga semakin terlihat. Kini sekolah keagamaan, pengajian anak kecil sampai ibu-ibu dan bapak-bapak terus berjalan.
"Imam Besar JIC juga seringkali mengisi ceramah di kampung ini. Jadi artinya memberi kontribusi yang besar bagi kampung ini. Kampung ini kan pernah rusak karena adanya Kramat Tunggak, nah imam besarnya memberikan pencerahan kepada masyarakat
sini," jelasnya. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Viral kisah haru Ustaz Gunawan tinggal di gubuk. Semua hartanya sudah diwakafkan.
Baca SelengkapnyaDari hasil kerjanya, dia menabung hingga bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Baca SelengkapnyaPerempuan asal Jakarta Timur ini rela memberikan ilmunya secara cuma-cuma kepada anak-anak pemulung di wilayah TPU Pondok Kelapa.
Baca SelengkapnyaTK ini pernah menjadi sistem pendidikan percontohan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.
Baca SelengkapnyaDari hasil berjualan sapu ijuk, ia menyisihkan 4 ribu rupiah setiap harinya dan berhasil membangun sekolah gratis untuk anak-anak.
Baca SelengkapnyaSeorang pemuda menceritakan kisah almarhumah ibunya yang ditolak disholatkan di masjid karena profesinya viral di media sosial.
Baca Selengkapnya