Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Stafsus Milenial Jokowi Jangan Main-main Urus Negara

Stafsus Milenial Jokowi Jangan Main-main Urus Negara Jokowi kenalkan staf khusus milenial. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Tindakan Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Andi Taufan Garuda Putra menuai banyak kecaman. Dia mengirim surat berkop istana kepada Camat se-Indonesia untuk membantu program Relawan Desa Lawan Covid-19.

Surat itu berisi permintaan dukungan kepada Camat atas program relawan yang diinisiasi Kemendes berkerjasama dengan PT Amartha Mikro Fintek. Persoalannya, Andi Taufan merupakan bos PT Amartha.

Andi Taufan disebut amatiran. Bahkan dinilai perlu dipecat, bukan cuma ditegur keras.

Orang lain juga bertanya?

"Pertama, ini sangat fatal dan terlihat amatiran. Presiden harus tegas pecat atau secara moral yang bersangkutan (Andi Taufan) mengundurkan diri tanpa harus dipecat. Ini stafsus malah jadi beban bagi presiden. Bukan kali ini saja stafsus bikin kesalahan memalukan," ujar Direktur Eksekutif Parameter Indonesia Adi Prayitno, kepada merdeka.com, Rabu (15/4).

Tindakan Andi tersebut, lanjut Adi, seakan mengkonfirmasi ‘nyinyiran’ publik selama ini bahwa staf khusus milenial tidak bisa tampil meyakinkan. “Minim jam terbang dan pengalaman politik. Tak heran jika kesalahan mereka berulang dan bukan kali ini saja,” ungkapnya.

Dia pun mendesak agar dilakukannya investigasi mendalam dan juga transparan. Jika mengacu pada nomor surat Andi, maka bisa diambil kesimpulan bahwa surat kepada camat yang muncul ke publik tersebut bukanlah surat yang pertama.

"Harus ada audit dan transparansi. Karena kop surat yang dikeluarkan nomor 003. Itu artinya ada surat lain atas nama pribadi yang berlogo Seskab dengan nomor 001 dan 002 yang sudah dikeluarkan juga. Itu perlu dilacak ditujukan kemana. Janganlah negara diurus suka-suka begini," tegas dia.

Perburuk Citra Istana

Sementara itu, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, tindakan Andi Taufan jelas merupakan pelanggaran etik berat. Tindakan tersebut juga menunjukkan adanya penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

"Ini jelas pelanggaran etik berat, karena menyangkut simbol negara digunakan dalam ranah personal. Kondisi ini menandai adanya abuse of power. Andi Taufan telah memperburuk muka Istana. Terlebih tidak ada relasi apapun antara Andi Taufan sebagai stafsus dalam persoalan di materi surat," kata dia.

Dalam pandangan dia, Andi Taufan sudah selaiknya dipecat. Paling kurang ada dua tujuan dari pemecatan tersebut.

"Pemecatan Andi Taufan diperlukan sekurangnya untuk dua hal, pertama, Istana menjaga marwah simbol negara. Kedua, sebagai bentuk tanggung jawab moral, bahwa siapapun harus menjaga integritas terlebih terkait langsung dengan Presiden," tandas Dedi.

Jangan Main-main Urus Negara

Pandangan senada diungkapkan oleh Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute, Iskandarsyah. Menurut dia, apa yang dilakukan Andi adalah bentuk penyalahgunaan wewenang.

Buat saya ini pembelajaran bagi Istana, hati-hati merekrut Stafsus apalagi dari kalangan milenial," ungkapnya.

Menurut Iskandarsyah, bukan perkara usia masih muda dan energik, ini perkara mengurus negara, bukan buat gagah-gagahan. "Saya kritisi dalam hal ini, jangan bermain-main soal mengurus negara ini," tegasnya.

Iskandarsyah menyarankan, semestinya Andi berkonsultasi terlebih dahulu dengan mereka yang lebih paham jika dirasakan dirinya tidak mengerti. Jangan justru bertindak melampaui wewenangnya sebagai Stafsus.

"Saya sarankan presiden cabutlah semua mandat Stafsus milenial-milenial itu, dari pada menghamburkan uang negara menggaji orang yang justru membuat ulah yang efeknya ke semua masyarakat," tegasnya kembali.

Klarifikasi dan Minta Maaf

Sebelumnya diketahui, beredar surat dari Andi di media sosial yang ditujukan kepada seluruh camat di Indonesia. Surat bernomor 003/S-SKP-ATGP/IV/2020 dengan kop Sekretaris Kabinet berisikan kerja sama sebagai relawan desa lawan Covid-19.

Dalam surat itu, Andi menjelaskan bahwa PT Amartha Mikro Fintek terlibat dalam program Relawan Desa Lawan Covid-19 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Andi Taufan adalah CEO PT Amartha yang bergerak di bidang pemberdayaan dan pembangunan UMKM melalui sistem Peer to Peer Landing.

Surat berisi program bertajuk Kerja Sama Sebagai Relawan Desa Lawan Covid-19 itu akan dijalankan untuk area Jawa, Sulawesi dan Sumatra. Kerja sama yang dimaksud mencakup perihal edukasi Covid-19 dan pendataan kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) Puskesmas.

Namun, setelah mendapatkan beragam kritikan, Andi menarik surat tersebut serta memberikan klarifikasi.

surat stafsus jokowi buat camat

2020 Merdeka.com/istimewa

Andi menjelaskan, surat tersebut bersifat pemberitahuan dan dukungan kepada program desa untuk melawan Covid-18 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Taufan juga menjelaskan tidak ada maksud buruk dalam surat tersebut.

Dia mengatakan dukungan tersebut murni dari dasar kemanusiaan dan dengan biaya Amartha serta donasi masyarakat, yang akan dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel. Dukungan dan biaya tersebut Taufan mengklaim tidak ada campur tangan dari negara.

"Dukungan yang diberikan dilakukan tanpa menggunakan anggaran negara, baik APBN maupun APBD," jelas Andi Taufan.

Tahu suratnya menuai kecaman meski tak bermaksud buruk, Andi pun akhirnya meminta maaf. Dia juga menarik kembali surat tersebut.

"Saya mohon maaf atas hal ini dan menarik kembali surat tersebut," kata Andi Taufan dalam surat terbuka yang didapat merdeka.com, Selasa (14/3).

Taufan mengatakan, akan terus membantu pemerintah dalam penanganan Covid-19 dengan cara lain. Termasuk bekerja sama dengan semua lapisan.

"Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang timbul. Apapun yang terjadi, saya tetap membantu desa dalam kapasitas dan keterbatasan saya," jelas Andi.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP
Civitas Akademika Universitas IBA Palembang Sampaikan Petisi Kritik Jokowi
Civitas Akademika Universitas IBA Palembang Sampaikan Petisi Kritik Jokowi

Civitas akademika Universitas IBA Palembang turut menyampaikan keprihatinan pada kondisi negara menjelang Pemilu 2024.

Baca Selengkapnya
TOP NEWS: Jokowi Tegas Evaluasi Perwira TNI Soal Suap Basarnas | Prabowo 'Ultimatum' Cak Imin
TOP NEWS: Jokowi Tegas Evaluasi Perwira TNI Soal Suap Basarnas | Prabowo 'Ultimatum' Cak Imin

Presiden Jokowi menegaskan akan mengevaluasi perwira tinggi TNI yang menduduki jabatan sipil.

Baca Selengkapnya
Buntut Pantun Sindir Jokowi, Butet Kartaredjasa Dilaporkan ke Polisi
Buntut Pantun Sindir Jokowi, Butet Kartaredjasa Dilaporkan ke Polisi

Butet dinilai menghina Presiden Jokowi saat membacakan pantun di kampanye Ganjar Pranowo.

Baca Selengkapnya
PDIP: Prabowo Enggak Perlu Ragu Imbau Jokowi Jangan Terlalu Cawe-Cawe di Pilkada
PDIP: Prabowo Enggak Perlu Ragu Imbau Jokowi Jangan Terlalu Cawe-Cawe di Pilkada

Hasto ungkap hasrat Jokowi yang terus ingin berkuasa meski sudah tak lagi menjadi presiden.

Baca Selengkapnya
Petisi 100 Minta Pemakzulan Jokowi, Ini Respons Gibran
Petisi 100 Minta Pemakzulan Jokowi, Ini Respons Gibran

Gibran mempersilakan permintaan pemakzulan terhadap Presiden Joko Jokowi oleh sejumlah tokoh yang tergabung dalam Petisi 100.

Baca Selengkapnya
Jokowi Sebut Presiden Boleh Memihak, NasDem: Penyelenggara Negara Itu Harus Netral
Jokowi Sebut Presiden Boleh Memihak, NasDem: Penyelenggara Negara Itu Harus Netral

Jokowi Sebut Presiden Boleh Memihak, Nasdem: Penyelenggara Negara Itu Harus Netral

Baca Selengkapnya
PDIP soal Akademisi Buat Petisi Kritik Pemerintah: Demokrasi Hadapi Masalah Serius
PDIP soal Akademisi Buat Petisi Kritik Pemerintah: Demokrasi Hadapi Masalah Serius

Hasto mengatakan, perguruan tinggi merupakan cerminan dari kekuatan moral.

Baca Selengkapnya
Jokowi Evaluasi Perwira TNI Duduki Jabatan Sipil Buntut Kasus Suap Kepala Basarnas
Jokowi Evaluasi Perwira TNI Duduki Jabatan Sipil Buntut Kasus Suap Kepala Basarnas

Kepala Basarnas Marsekal Madya Henri Alfandi diduga terima suap Rp88,3 miliar.

Baca Selengkapnya
VIDEO: Todung TPN Ganjar Desak Bukan Hanya Butet, Laporan Kasus Aiman Juga Dicabut!
VIDEO: Todung TPN Ganjar Desak Bukan Hanya Butet, Laporan Kasus Aiman Juga Dicabut!

Deputi Hukum TPN Ganjar Mahfud, Todung Mulya Lubis menyatakan informasi dari Butet laporan tersebut sudah dicabut

Baca Selengkapnya
Kompol Syarif Asisten Ajudan Jokowi Tulis Pesan untuk Sang Presiden, Ucapannya Ramai jadi Sorotan
Kompol Syarif Asisten Ajudan Jokowi Tulis Pesan untuk Sang Presiden, Ucapannya Ramai jadi Sorotan

Berikut isi pesan Kompol Syarif asisten ajudan Jokowi untuk sang Presiden.

Baca Selengkapnya
Hasto Kritik Jokowi, dari Karir Keluarga hingga Pembagian Bansos
Hasto Kritik Jokowi, dari Karir Keluarga hingga Pembagian Bansos

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto melontarkan kritik keras kepada Presiden Jokowi.

Baca Selengkapnya
Megawati: Pemimpin Harusnya Mengayomi Rakyat, Bukan Menurunkan Aparat Diam-Diam
Megawati: Pemimpin Harusnya Mengayomi Rakyat, Bukan Menurunkan Aparat Diam-Diam

Megawati mengambil contoh kasus pengeroyokan relawan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Boyolali.

Baca Selengkapnya