Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya: Tidak Ada Mahasiswa Dipukul Hingga Meninggal
Merdeka.com - Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS) Pieter F. Rumaseb menegaskan warga Papua termasuk para mahasiswa yang ada di Surabaya dalam keadaan baik dan aman. Dia juga menyatakan tidak ada pengusiran terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.
"Kami di Surabaya baik, adik mahasiswa hidup dengan damai," ujarnya saat ditemui di Mapolda Jatim di Surabaya, Senin (19/8).
Dia juga menyanggah ada perlakuan diskriminatif dari aparat penegak hukum kepada mahasiswa Papua. Termasuk saat jajaran Polrestabes Surabaya mengamankan 43 mahasiswa Papua pada Jumat (16/8).
-
Kenapa ketua KPPS dibacok? Pemicunya karena saat pencoblosan siang harinya pelaku kesal istrinya yang hamil meminta didahulukan mencoblos tetapi tidak digubris korban. OS tetap menyuruh istri pelaku mencoblos sesuai antrean.
-
Bagaimana ketua KPPS dibacok? Dia membacok kepala korban hingga terluka parah di bagian kiri.
-
Siapa yang membacok ketua KPPS? Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Palembang inisial OS (30) dilarikan ke rumah sakit akibat dibacok petugas Linmas, RV (40).
-
Mengapa KKB Papua menyerang Brimob dan TNI? Gerakan mereka lambat laun semakin meresahkan dan mengancam keselamatan warga Papua yang tidak tahu menahu dengan agenda aktivitas kelompok bersenjata tersebut.
-
Siapa yang terlibat dalam konflik Papua? Gerakan Papua Merdeka semakin terorganisir melalui budaya, sosial, politik luar negeri, senjata, bahkan berhasil menarik perhatian aktivis NGO.
-
Siapa pelaku pembakaran di Tanjung Priok? Pengungkapan kasus ini bermula dari peristiwa kebakaran Seorang paman bernama DZ (53), tega menghabisi nyawa remaja perempuan berinisial AZH (15) yang juga merupakan keponakannya di Jalan Sunter Permai Raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Dia juga menegaskan, informasi mengenai adanya mahasiswa yang dipukuli polisi hingga tewas, hoaks. Menurutnya, pengamanan yang dilakukan polisi sangat baik. Bahkan saat proses pemulangan pun mahasiswa Papua diantarkan dengan baik.
"Kalau ada pemberitaan (mahasiswa) dipukul atau meninggal itu hoaks. Kepolisian bawa ke Polrestabes dengan baik, dipulangkan jam 12 malam juga dalam keadaan baik," ucapnya.
Dia tidak menyangkal adanya ucapan atau tindakan rasisme dari ormas yang mendatangi asrama mahasiswa Papua. Pihaknya menyerahkan sepenuhnya pada aparat penegak hukum.
"Terkait adanya ucapan kata yang mengganggu kenyamanan masyarakat kami di sana (Papua), kami serahkan ke petugas kepolisian dan keamanan. Kalau itu (ucapan berbau rasis) kan sudah bisa dimonitor, di media ada. Kami serahkan ke kepolisian," katanya.
Disinggung insiden perusakan bendera merah putih, Pieter menyerahkan ke aparat kepolisian untuk mencari pelakunya. Dia hanya berharap masyarakat yang ada di Papua dan Papua Barat bisa meredam diri. Dia kembali menegaskan bahwa warga Papua di Surabaya dapat menuntut ilmu dengan aman, tanpa ada masalah.
"Kami berharap semua bisa positive thinking, kepala dingin, menyikapi permasalahan ini. Bila ada info beredar tidak baik maka diharapkan selektif. Hati-hati menyikapi itu. Kepada semua masyarakat, jangan cepat terprovokasi atau terpancing di media sosial," tuturnya.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengakui jika kerusuhan yang terjadi di Manokwari Papua, dipicu dari hoaks yang sengaja dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu. Untuk itu, pihaknya meminta pada semua pihak untuk ikut meredam kesalahpahaman ini.
Kapolri menjelaskan, aksi massa di Papua ini di 'triger' dari adanya kejadian di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Malang. Menurutnya, ada kesalahpahaman yang terjadi saat itu.
"Malam itu sebetulnya hanya peristiwa kecil, yang sebetulnya sudah dilokalisir, dan diselesaikan oleh muspida setempat baik ibu Gubernur, Kapolda maupun Pangdam, sudah dinetralisir tapi kemudian muncul hoaks. Kemarin memang ketriger gara-gara ada kesalapahaman dan membuat kata-kata yang kurang nyaman. Sehingga sahabat-sahabat kita yang ada di Papua merasa terusik dengan bahasa-bahasa seperti itu. Dan ada pihak-pihak yang mengembangkan kejadian yang ada di Surabaya dan Malang," ujarnya, Senin (19/8).
Dia menambahkan, persoalan itu sebenarnya sudah dilokalisir oleh muspida setempat. Namun, ada kesimpangsiuran informasi atau kesalah pahaman, sehingga membuat warga Papua merasa terusik.
"Ada kesimpangsiuran informasi, kemudian mungkin ada yang membuat kata-kata yang kurang nyaman sehingga saudara kita yang ada di Papua mungkin merasa terusik dengan bahasa seperti itu dan ada pihak-pihak yang mengembangkan informasi seperti itu untuk kepentingan mereka sendiri," tambahnya.
Dia menambahkan, munculnya hoaks mengenai kata yang kurang etis dan ada juga hoaks gambar seolah-olah warga dari Papua yang meninggal, menjadi berkembang dan dikembangkan oleh oknum tertentu, sehingga membuat mobilisasi massa membuat kerusuhan.
"Jadi saya minta kepada saudara-saudara kita yang ada di Papua, saya sendiri pernah menjadi bagian dari Papua, dua tahun saya berdinas di sana, sangat memahami kondisi psikologis saudara kita di Papua, jangan mudah terpancing, dengan berita-berita yang tidak benar," tegasnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Aksi persekusi dan penganiayaan terhadap mahasiswa Papua yang berunjuk rasa di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) viral di media sosial.
Baca SelengkapnyaPihak keluarga korban sebelumnya mengancam menuntut kampus dan mendesak pelaku penganiayaan dihukum berat.
Baca SelengkapnyaKapolda NTT menyayangkan perbuatan oknum ormas tersebut terhadap mahasiswa.
Baca SelengkapnyaTidak benar Pos TNI di Kampung Pamebut Distrik Yugumuak Kabupaten Puncak diserang KKB pada hari Jumat 1 Maret 2024," kata Kapendam XVII/Cen Letkol Inf Candra
Baca SelengkapnyaMahasiswa tingkat pertama yang meninggal diduga dianiaya senior itu bakal diberangkatkan ke kampung halamannya pada Minggu (5/5) besok.
Baca SelengkapnyaSambil Pegang Foto Afif Maulana, Kapolda Sumbar Bersumpah: Demi Allah Saya Hanya Bicara Fakta
Baca SelengkapnyaMahasiswa STIP tewas diduga dianiaya di dalam toilet
Baca SelengkapnyaOrganisasi Papua Merdeka (OPM) lewat akun Twitter (X) @Revolutions1977 menyebarkan kabar korban penembakan merupakan Anggota TNI Serka Rusli
Baca SelengkapnyaSiswa SMP korban bullying di Cilacap, Jawa Tengah, dikabarkan meninggal dunia.
Baca SelengkapnyaKorban diduga meninggal akibat menerima kekerasan dari senior di lingkungan kampus pada Jumat (3/5) pagi.
Baca SelengkapnyaSebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan petugas menjadi korban kekejian KKB Papua.
Baca SelengkapnyaKepastian itu berdasarkan penyelidikan Kompolnas dan Polres Bekasi Kota terkait kematian tujuh remaja di kali Bekasi.
Baca Selengkapnya