Jokowi diminta tindak tegas rumah sakit yang tolak pasien BPJS

Merdeka.com - Kasus pasien tewas karena ditolak rumah sakit kembali terjadi. Kali ini menimpa bocah asal Sumedang M Rizki Akbar yang meninggal di usia 2,9 tahun karena ditolak 6 rumah sakit setelah menderita penyakit kelainan jantung.
"Kasus seperti ini seharusnya tidak terjadi lagi, tapi kenyataannya kan berkata lain. Pemerintah harus lebih serius membenahi Kartu Indonesia Sehat, BPJS, jangan cuma sibuk iklan saja," kata Wasekjen Gerindra Andre Rosiade di Jakarta, Senin (29/8).
Rizki memang sempat diterima di sebuah rumah sakit sebelum meninggal. Ironisnya, rumah sakit itu justru tidak bekerja sama dengan BPJS.
Menurut Andre, UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS mewajibkan seluruh rakyat Indonesia mengikuti program BPJS Kesehatan. Rakyat selanjutnya dipungut iuran meski BPJS sudah mendapatkan alokasi anggaran dari APBN.
Untuk tahun 2016, BPJS bahkan mengajukan penambahan alokasi anggaran hingga triliunan rupiah melalui skema penyertaan modal negara (PMN).
"Satu sisi BPJS minta tambahan anggaran, iuran juga diminta, tapi perlakuan beda antara pasien BPJS dengan asuransi lain. Kalau asuransi lain langsung dilayani, kalau BPJS masih sering ditolak," jelasnya.
Kenyataannya, kata dia, kerap didapati pasien pemegang kartu BPJS dari kalangan tidak mampu ditolak pihak rumah sakit. Beberapa di antaranya bahkan sampai meninggal karena tidak segera mendapatkan penanganan rumah sakit seperti dialami M Rizki.
Andre mendesak Presiden Joko Widodo melalui Kemenkes dan Kemenkeu mengevaluasi program BPJS hingga rumah sakit. Dia juga meminta Presiden menerbitkan dalam bentuk Peraturan Presiden atau Peraturan Menteri, dimana salah satunya mengatur perizinan RS bisa dicabut hingga dipidana apabila menolak pasien BPJS.
"Pihak rumah sakit jantung terbesar di Jakarta, RS Harapan Kita, yang menolak pasien BPJS harus dievaluasi, terbitkan Perpres atau Permen, jika alasan RS-nya tidak jelas bisa dicabut bahkan bisa dipidanakan. Karena kita sudah sering dengar pasien ditolak rumah sakit berujung pada kematian," tambah Andre.
Andre juga menyinggung janji Joko Widodo - Jusuf Kalla sebagaimana dituangkan dalam 9 program prioritas (Nawa Cita), khususnya bidang kesehatan. Jokowi berjanji memberikan layanan kesehatan gratis secara maksimal kepada rakyat Indonesia. Janji yang disebutnya akan terus ditagih, bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat.
Untuk diketahui, kasus yang menimpa M Rizki Akbar, bocah berusia 2,9 tahun asal Sumedang Jawa Barat disampaikan pegiat kemanusiaan Yuli Supriati melalui akun Facebooknya. Ia menceritakan bagaimana Rizki ditolak enam RS penerima BPJS di Tangerang dan Jakarta hingga meninggal pada Sabtu (27/8).
Padahal, ayah Rizki setiap bulan dipotong pihak perusahaan untuk membayar iuran BPJS. Akan tetapi dengan alasan klise, keenam rumah sakit menolak memberikan pelayanan. Salah satu RS Jantung terbesar di Jakarta misalnya, hanya memeriksa Rizki tidak sampai 10 menit dan menyatakan pasien hanya menderita batuk biasa.
Penderitaan Rizki berlanjut. Setelah mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Tangerang yang tidak bekerjasama dengan BPJS, pihak keluarga sempat kesulitan membawa pulang jenazah Rizki karena alasan biaya. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya