Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perbaiki Kualitas Berita, AMSI Tawarkan Ide Berita Berbayar

Perbaiki Kualitas Berita, AMSI Tawarkan Ide Berita Berbayar Indonesia Digital Conference 2019. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut menawarakan ide berita berbayar. Hal ini lantaran semakin menurunnya kualitas berita disebabkan mengikuti algoritma mesin pencarian dan media sosial.

"Saya berpikir bahwa mengapa kita enggak paywall, kenapa kita enggak berbayar? Seperti Washington Post, seperti New York Time, lain-lain lah," kata pria yang akrab disapa Wens itu dalam acara Konferensi Nasional Komunikasi Humanis, Kamis (19/11).

Mekanisme ini disebut Wens, cenderung lebih ramah karena tak terpengaruh harus berebut pembaca mengikuti pakem-pakem algoritma ala mesin pencarian dan media sosial yang memancing wartawan untuk membuat konten berita dengan kualitas buruk.

Akan tetapi hal itu bukan tanpa hambatan. Masalahnya adalah karena suplai berita banyak, maka masyarakat akan sulit untuk mau membayar demi berita.

"Problem di kita itu satu ini over supply. Jumlah medianya terlalu banyak sehingga menyulitkan. Jadinya banyak (media) yang gratis, akan susah orang (mau) membayar," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum AMSI itu menilai algoritma pada mesin pencarian di internet begitu mengganggu kualitas berita. Pasalnya konten berita yang ditulis oleh seorang wartawan supaya dapat mudah ditemukan pembaca harus mengikuti pakem-pakem algoritma yang telah ditentukan.

"Yang kita bayangkan orang datang ke Google, bawa dengan keyword, Google bilang supaya berita anda itu ada di halaman pertama atau paling atas, itu keyword yang dicari itu harus ada di judul. Supaya berita itu ada di atau halaman pertama, keyword itu sesering mungkin muncul di body tulisan anda. Lebih bagus kalau keyword itu nongol dua kali di judulnya. Kan kacau sekali judul berita kalau mengikuti semua syarat dari si algoritma itu. Algoritma ini jelas mengganggu kualitas berita," ujar Wens.

Menurut Wens, hal ini akhirnya memaksa para wartawan untuk belajar search engine optimizer atau SEO. Di mana sebagai rumusan-rumusan dalam menulis agar dapat ditemukan pembaca di mesin pencarian.

"Sekarang juga wartawan harus belajar soal itu, SEO itu. Tidak cukup hanya belajar menulis, dia harus belajar SEO, dia harus belajar cara pikirnya Google, dan juga harus belajar cara pikirnya Facebook, kalau tidak gak akan ketemu dengan pembaca tulisan dia," ujar Wens.

Algoritma dalam Facebook yang menitikberatkan pada 'engagement' misalnya seperti comment, share dan juga like, juga berpotensi mengamplifikasi ujaran kebencian ataupun hoaks.

"Bayangin aja, kalau hate speech, kalau hoax itu tinggi engagement-nya, maka daya sebenarnya akan semakin cepat menggunakan rumusan algoritma seperti ini," jelas Wens.

Jika mekanisme ini dilanggengkan, maka menurut Wens lama-kelamaan akan mempengaruhi sikap wartawan dalam menulis konten berita. Imbasnya mereka akan tergoda membuat berita dengan kualitas rendah asalkan dapat meraup banyak pembaca.

"Eh agar berita itu viral, gini loh caranya. Engagement-nya harus diperhatikan. Mereka tergoda untuk bikin click bait, mereka tergoda untuk bikin berita menimbulkan polemik dan mengorbankan kualitas, karena ada algoritma engagement ini salah satunya," papar dia.

Muaranya, lanjut Wens jurnalis akan disetir oleh publik, bukan malah yang seharusnya yakni jurnalisme yang dikontrol oleh standar jurnalisme yang berlaku. Dan media akhirnya menulis apa yang disukai publik ketimbang apa yang seharusnya.

"Pada akhirnya justru media atau jurnalisme disetir oleh publik, bukan disetir oleh rumusan jurnalisme. Yang makin disukai diklik banyak orang, dikonter banyak orang, makin tinggi di-share itu yang diproduksi oleh media," ucap Wens.

Reporter: Yopi MakdoriSumber: Liputan6.com (mdk/fik)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP
Desak Presiden Segera Sahkan Publisher Right, AMSI: Sebelum Kehilangan Relevansi Ekosistem
Desak Presiden Segera Sahkan Publisher Right, AMSI: Sebelum Kehilangan Relevansi Ekosistem

AI merupakan pembunuh publisher right. Dengan adanya AI, poin utama dan isu terkait publisher right ini bisa berubah.

Baca Selengkapnya
AMSI, AJI, IJTI & IDA Minta Presiden Cari Jalan Terbaik untuk Perpres Publishers Rights
AMSI, AJI, IJTI & IDA Minta Presiden Cari Jalan Terbaik untuk Perpres Publishers Rights

AMSI dan AJI merupakan dua organisasi dari Indonesia yang terlibat dalam perumusan prinsip global tersebut.

Baca Selengkapnya
Merdeka.com Dinobatkan Sebagai Media Nasional dengan Inovasi Teknologi Terbaik dalam AMSI Award 2023
Merdeka.com Dinobatkan Sebagai Media Nasional dengan Inovasi Teknologi Terbaik dalam AMSI Award 2023

Terobosan yang baru pertama kali diterapkan di dunia ini diprediksi akan menjadi tren baru tampilan media online ke depan.

Baca Selengkapnya
Bertemu Dewan Pers, AMSI Pertanyakan Perkembangan Regulasi 'Publisher Rights' di Indonesia
Bertemu Dewan Pers, AMSI Pertanyakan Perkembangan Regulasi 'Publisher Rights' di Indonesia

Tanpa adanya regulasi yang jelas, media siber cenderung tidak mendapatkan insentif dari berita atau konten yang diambil oleh platform digital.

Baca Selengkapnya
Google Mulai Merayu Perusahaan Pers Gunakan AI
Google Mulai Merayu Perusahaan Pers Gunakan AI

Alat tersebut diharapakan dapat membantu jurnalis dalam menyusun berita.

Baca Selengkapnya
Menkominfo Sudah Teken Aturan Publisher Rights: Tenang, Kita di Pihak Media
Menkominfo Sudah Teken Aturan Publisher Rights: Tenang, Kita di Pihak Media

Regulasi ini akan memberi jaminan kepada media-media lokal maupun nasional.

Baca Selengkapnya
Begini Cara Kapanlagi Youniverse Menyesuaikan Portal Berita Agar Tak Kalah dari Sosial Media
Begini Cara Kapanlagi Youniverse Menyesuaikan Portal Berita Agar Tak Kalah dari Sosial Media

Agar tetap menyesuaikan dengan pembaca, Kapanlagi Youniverse melakukan terobosan.

Baca Selengkapnya
Ketua Dewan Pers Sebut Perpres Publisher Rights Segera Diteken Presiden
Ketua Dewan Pers Sebut Perpres Publisher Rights Segera Diteken Presiden

Dewan pers bersama konstituen dan pemerintah sudah memiliki kesamaan pandangan soal perpres publisher rights untuk segera disahkan

Baca Selengkapnya
Pakar Siber AS Ungkap Bahaya AI, Warga Bisa Ditelepon dengan Suara Presiden
Pakar Siber AS Ungkap Bahaya AI, Warga Bisa Ditelepon dengan Suara Presiden

Pakar Siber AS Ungkap Bahaya AI, Warga Bisa Ditelepon dengan Suara Presiden

Baca Selengkapnya
Tak Kekang Kebebasan Pers, DPR Sebut Revisi UU Penyiaran untuk Harmonisasi UU Cipta Kerja
Tak Kekang Kebebasan Pers, DPR Sebut Revisi UU Penyiaran untuk Harmonisasi UU Cipta Kerja

Menurut dia, revisi UU Penyiaran merupakan sebuah kewajiban

Baca Selengkapnya
PBNU Ingatkan Masyarakat Waspadai Kelompok Teror Lakukan Propaganda Gunakan AI
PBNU Ingatkan Masyarakat Waspadai Kelompok Teror Lakukan Propaganda Gunakan AI

Menyiapkan diri, bangsa, dan negara memanfaatkan AI dan menanggulangi dampak buruknya bukan lagi suatu pilihan, namun menjadi keharusan.

Baca Selengkapnya