Santoso tak kunjung tertangkap, aparat persilakan rakyat bertindak
Merdeka.com - Kepolisian Republik Indonesia terus berupaya menangkap komplotan teroris Santoso di Poso. Ditargetkan polisi kelompok teroris yang terkenal licin ini habis pada Januari 2016.
Untuk menumpas teroris Indonesia nomor wahid ini pun, Polri-TNI membuat operasi tim gabungan yang diberi nama operasi Camar Maleo. Tim gabungan yang terdiri dari Polri, TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan pimpinan dari teroris ini dapat ditangkap sebelum Januari.
"Target bulan Januari tangkap Santoso, harus tertangkap," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.
-
Kapan polisi dibakar? Diketahui, Briptu FN yang berdinas di Polres Mojokerto Kota itu diduga membakar suaminya, Briptu RWD di rumah mereka yang berada di kompleks Asrama Polisi Polres Mojokerto pada Sabtu (8/6) pagi.
-
Bagaimana Brimob Polri mengatasi terorisme? Intensitas perlibatan kekuatan Brimob Polri dalam penanggulangan terorisme di Indonesia meningkat usai serangan teror Bom Bali I. Selain dilibatkan dalam operasi-operasi kepolisian lain, khususnya dalam menghadapi kejahatan berintensitas tinggi seperti keberhasilan Polri mengungkap kasus terorisme di wilayah Poso Sulawesi Tengah tidak terlepas dari adanya peran Korps Brimob Polri yang tergabung dalam operasi Tinombala bersama dengan TNI.
-
Kenapa polisi bakar polisi? 'Yang menjadi catatan dari peristiwa ini adalah pertama motif. Motifnya adalah saudara Briptu Rian sering menghabiskan uang belanja yang harusnya dipakai untuk membiayai hidup ketiga anaknya, mohon maaf, ini dipakai untuk main judi online,' ujarnya, Minggu (9/6).
-
Siapa yang bakar polisi? Dalam kasus ini, Briptu FN sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Reknata Ditreskrimum Polda Jatim. Ia pun dijerat dengan pasal tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
-
Apa yang dibakar polisi? 'Yang menjadi catatan dari peristiwa ini adalah pertama motif. Motifnya adalah saudara Briptu Rian sering menghabiskan uang belanja yang harusnya dipakai untuk membiayai hidup ketiga anaknya, mohon maaf, ini dipakai untuk main judi online,' ujarnya, Minggu (9/6).
-
Bagaimana cara mencegah terorisme di Indonesia? Di Hari Peringatan dan Penghargaan Korban terorisme ini, Anda bisa membagikan cara mencegah radikalisme di media sosial. Hal ini penting dilakukan agar tindakan terorisme bisa diminimalisir atau dihilangkan.
Satu persatu data kelompok Santoso dikumpulkan. Strategi serta langkah teknis terus didiskusikan oleh pihak-pihak yang tergabung dalam operasi tersebut.
Namun, Santoso cs tak tinggal diam. Mengetahui dia dan anggota lainnya jadi target utama TNI-Polri, Santoso justru mengambil tindakan yang cukup mengejutkan. Melalui media sosial Facebook, Santoso mengancam akan meledakkan markas Polda Metro Jaya.
Mendapat ancaman itu, tim gabungan tidak gentar. Badrodin menantang Santoso untuk melakukan hal tersebut. Jenderal bintang empat ini, menegaskan sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi gertakan kelompok Santoso.
"Yah silakan saja, kita sudah siapkan langkah-langkah antisipasi dengan meningkatkan keamanan," tegas Badrodin.
Seiring operasi Camar Maleo berjalan, akhirnya tim gabungan sudah mengendus keberadaan Santoso cs. Di dalam hutan dengan medan yang sulit, gembong teroris itu bersembunyi.
Hanya saja, Badrodin tidak mau menyebutkan secara gamblang di mana tempat persembunyian Santoso dan anggotanya. Mantan Wakapolri itu, hanya menyatakan kelompok teroris Santoso sedang dikejar.
"Sudah (terdeteksi) keberadaan Santoso. Sedang dikejar," ujar dia.
Selain tidak mau membeberkan lokasi persembunyian Santoso secara detail, Badrodin pun belum bisa memastikan kapan operasi penangkapan teroris Indonesia itu selesai. Dia beralasan, lamanya waktu penangkapan tidak bisa diprediksi.
"Sedang kita kejar. Namanya orang mau ditangkap kan menghindar lah," ungkap Badrodin.
Bukan hanya mengejar dan bersembunyi, operasi Camar Maleo memakan korban. Tepat pada 29 November, di Dusun Gayatri, Desa Meranda kecamatan Poso pesisir utara Kabupaten Poso di KM 6-7 salah satu anggota TNI, Serka Sainudin tewas tertembak saat terjadi kontak senjata dengan Santoso cs.
Tak kunjung tertangkapnya Santoso, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak warga sipil ikut memburu kelompok bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah itu.
"Dalam kondisi sekarang ini rakyat menangkap pun boleh. TNI sama Polri melakukan operasi bersama-sama yang penting atas tujuan. Tujuan kita menangkap Santoso Cs. Leadernya Polri, kita beri masukan kepada Polri. Kita evaluasi sama-sama," kata Gatot saat ditemui dalam acara Rapimnas TNI-Polri di PTIK, Jakarta, Jumat (29/1).
Meski begitu, Gatot menegaskan, bahwa TNI tidak perlu mengambil alih keamanan di Poso. Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini, posisi TNI dalam operasi untuk menangkap kelompok Santoso hanya memberikan bantuan personel kepada kepolisian.
"Ini bukan kayak ikan di kolam, lalu airnya disurutkan, ikannya ditangkap. Tidak seperti itu. Jadi ibaratnya dalam tertib sipil, polisi adalah tangan kanan presiden, TNI adalah tangan kiri presiden. Semuanya saling menguatkan," ujar Gatot.
Gatot menambahkan, kondisi Poso yang saat ini masuk dalam keamanan sipil sehingga TNI tak perlu mengambil alih keamanan. Dirinya menegaskan, untuk sekarang ini TNI bertugas untuk memberikan bantuan personel dan strategi kepada kepolisian untuk menangkap kelompok Santoso.
"Dalam kondisi darurat militer, baru TNI jadi tangan kanan presiden, polisi tangan kiri. Dalam artian memberi bantuan. Hilangkan sifat kompetisi dari masing-masing angkatan, harus sinergi. Seperti yang dikatakan Kapolri bahwa dalam kondisi sekarang ini, TNI Polri adalah pemersatu," ujar Gatot.
Gatot melanjutkan tak menampik kerap terjadi gesekan antara personel Polri dan TNI dalam operasi penangkapan kelompok Santoso. Akan tetapi menurut dia keributan itu tidak perlu diperbesar.
"Kalau ada gesekan, dalam keluarga aja, kakak adik suka ribut biasa itu. Yang penting jangan sampai ibunya bela-bela. Nanti jadi bapak sama ibu yang ribut," tandasnya.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Meski begitu, ia memastikan hingga kini belum ada peningkatan eskalasi ancaman teroris di Indonesia.
Baca SelengkapnyaCalon Presiden Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah cepat TNI memproses anggotanya yang menganiaya relawan.
Baca SelengkapnyaTim Prabu berhasil menangkap puluhan gangster yang terciduk membawa senjata tajam.
Baca Selengkapnya