Setya Novanto dan jejak perseteruan Riza Chalid vs Ari Soemarno

Merdeka.com - Transkrip percakapan yang diduga dilakukan Ketua DPR Setya Novanto bersama Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dan seorang pengusaha minyak Muhammad Riza Chalid, bocor di media massa. Dalam perbincangan itu, Setya Novanto bicara soal saham Freeport yang ingin diberikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) 11 persen dan Wapres Jusuf Kalla (JK) 9 persen.
Menteri ESDM Sudirman Said menuding jika Setya Novanto mencatut nama Jokowi dan JK dalam pembagian saham itu agar kontrak Freeport dapat diperpanjang yang akan jatuh tempo pada 2022. Sudirman pun melaporkan pencatutan nama Jokowi oleh Setya Novanto ini kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR yang akhirnya ramai diberitakan dua pekan belakangan.
Setya Novanto bahkan diminta mundur karena dinilai menyalahgunakan jabatan serta mencoreng citra DPR sebagai lembaga wakil rakyat. Bahkan muncul mosi tak percaya yang dilakukan oleh beberapa anggota DPR. Namun sebetulnya, apa yang terjadi di balik kisruh pencatutan nama Jokowi ini?
Setya Novanto disebut hanya menjadi 'kambing hitam' dalam hal ini. Pertarungan sebetulnya terjadi antara pengusaha minyak kelas kakap Muhammad Riza Chalid dan mantan Dirut Petral Ari Soemarno periode 2003-2004.
Dua nama bos minyak, Ari dan Riza ini awalnya satu kongsi. Ari menjadi orang nomor satu di Petral, sementara Riza merupakan pemilik perusahaan minyak Global Energy Resources yang bekerja sama dengan Petral dalam menguasai impor minyak mentah Indonesia.
Hubungan keduanya belakangan tidak harmonis. (mdk/rnd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya