Tanda ilmiah dan tanda alam Gunung Agung akan meletus
Merdeka.com - Aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali masih bertahan di level IV atau berstatus Awas. Ratusan ribu warga sudah mengungsi ke zona aman, dalam radius di atas 12 km. Tidak ada satupun pihak yang bisa memastikan kapan gunung tertinggi di Pulau Bali itu meletus.
Namun sejumlah pihak melihat tanda-tanda gunung itu bakal meletus. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menyebutkan bahwa saat ini kondisi Gunung Agung ibarat pasien yang dalam kondisi kritis. Tanda-tanda akan terjadinya letusan haya tinggal beberapa saat lagi dikatakan petugas PVMBG. PVMBG sudah menemukan adanya rekahan pada kawah Gunung Agung yang menandakan jika gunung dengan ketinggian 3.142 Mdpl itu sudah akan meletus.
Pantauan di Pos Pantau Gunung Api Agung, Desa/Kecamatan Rendang, Jumat (29/9) secara visual petugas pemantau menemukan adanya kepulan asap putih yang sudah mulai kontinyu. Artinya aktivitas vulkanik dalam kawah terus meningkat secara signifikan.
-
Kapan gunung meletus? Dengan adanya faktor-faktor tersebut, terjadilah letusan gunung meletus yang dapat berdampak pada kerusakan lingkungan dan ancaman terhadap kehidupan manusia.
-
Dimana lokasi Gunung Agung? Gunung Agung yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini memiliki ketinggian 3.031 mdpl.
-
Dimana Gunung Agung berada? Gunung Agung berada di Kabupaten Karangasem, Bali, tepatnya di bagian timur pulau.
-
Dimana letak Gunung Agung? Gunung Agung, yang memiliki ketinggian 3.142 mdpl, adalah gunung tertinggi di Pulau Bali dan terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
-
Bagaimana memprediksi erupsi gunung berapi? Cara lain untuk melihat kapan gunung berapi akan erupsi adalah dengan mengukur gas yang keluar. Ketika magma bergerak ke permukaan, gas keluar dengan cepat dan mendahului magma. Gas ini bisa diukur dari angkasa atau dari daratan.
-
Gunung Agung berada di mana? Gunung Agung berada di Kabupaten Karangasem, Bali, tepatnya di bagian timur pulau.
"Dulu asap putih jarang sekali terlihat dari jauh dan hanya bisa dilihat di kawah. Artinya sudah ada konsentrasi tekanan asap dan gas luar yang semakin hari semakin besar. Dan sekarang sudah ada rekahan. Sekarang ini kepulan asapnya yang keluar sudah seperti asap pabrik," ujar Kabid Mitigasi dan Bencana Geologi PVMBG, I Gede Suantika.
Dia memprediksi, peluang meletusnya Gunung Agung di Bali cukup besar. Ini didasari beberapa pengamatan yang sudah dilakukan sejak gunung mengalami peningkatan aktivitas. "Sangat kritis sekali, ini bisa saja akan meletus," kata Gede Suantika.
Gejala yang ada pada Gunung Agung saat ini sama persis dengan kondisi pada saat 1963. Saat itu gunung tersebut meletus dengan hebat. "Hampir 50 tahun tidak ada asap solvatar di puncak. Tapi kemarin tiba-tiba muncul, seperti yang di-video kan," katanya.
Tak hanya itu, berdasarkan alat pendeteksi yang dipasangnya, frekuensi gempa di gunung tersebut terus meningkat. Jika dalam kondisi normal terjadi 10 kali gempa dalam setiap tahunnya, saat ini jumlahnya terus meningkat hingga berkali-kali lipat.
"Bulan Juli lima kali, Agustus bertambah, September semakin bertambah. Akhirnya kita naikkan (kondisinya). Selain karena didukung hasil pemantauan, gempa juga makin terasa. Semua ini ciri-cirinya akan gempa," paparnya.
Efek letusan Gunung Agung diprediksi bakal besar. Jika letusan terjadi, gunung tersebut akan menyemburkan awan panas hingga radius 12 kilometer. Material tersebut akan meluncur ke daratan di tenggara, selatan, dan barat daya arah gunung tersebut. Tak hanya itu, lanjutnya, letusan Gunung Agung pun akan memuntahkan abu pasir dan batu kerikil dengan radius sembilan kilometer.
Ada tanda-tanda lainnya yang diyakini sebagai tanda alam bakal meletusnya Gunung Agung. Sejumlah satwa 'keluar' dari hutan di Gunung Agung. Salah satu tetua di Karangasem Bali, Made Nyadeg (92) meyakini seperti tahun 1963 di mana saat itu kera putih memunculkan diri dan kemudian hanya dalam hitungan hampir sehari gunung langsung meletus.
"Tandanya sang wenara petak tedun (kera putih turun). Itu berati mau meletus. Dulu begitu wenara petak terlihat, saat itu pagi dan malam dini hari langsung meletus," kenangnya di pengungsian Gunung Agung di Denpasar, Jumat (29/9).
Informasi yang diterima, kera putih berhasil diselamatkan saat turun dari gunung Agung. Namun karena liar pihak pecinta dan pelindung satwa membius dan ditempatkan di tempat aman.
Petugas pantau di Gunung Agung menyebutkan kera putih sudah aman dalam penanganan pihak JAAN (Jakarta Animal Aid Network) yang datang khusus ke Bali untuk menyelamatkan satwa liar di area Gunung Agung pasca ditetapkannya status awas.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Dikenal sebagai negara kepulauan yang berada di Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif.
Baca SelengkapnyaSaat kejadian, warga sedang asyik menggarap kebunnya yang berlokasi di dekat kaki Gunung Marapi.
Baca SelengkapnyaGunung Slamet dikaitkan dengan berbagai mitos gaib dan unik.
Baca SelengkapnyaLetusan eksplosif memunculkan fenomena alam kilatan petir vulkanik
Baca SelengkapnyaErupsi Gunung Ruang Menguat, PVMBG Keluarkan Peringatan Tsunami untuk Warga Pulau Tagulandang Sulut
Baca SelengkapnyaKondisi hingga sore ini, dari kejuhan api tidak terlihat hanya tinggal kepulan asap. Namun demikian, pihaknya tetap bersiaga.
Baca SelengkapnyaMakna kalimat tinggal menunggu waktu muncul lantaran Selat Sunda dan Mentawai-Siberut memang dalam kondisi geografis yang dapat memicu gempa besar.
Baca SelengkapnyaSebelumnya, kebakaran terjadi di kawasan hutan di lereng Gunung Agung, di Kabupaten Karangasem, Bali, dan hingga kini masih ada titik api yang belum padam.
Baca SelengkapnyaGunung Slamet punya karakteristik yang "tenang namun menghanyutkan"
Baca SelengkapnyaBerikut beberapa dampak positif gunung meletus dan dampak negatifnya dari berbagai sisi.
Baca SelengkapnyaGunung Slamet memiliki mitos yang berkembang di tengah masyarakat sekitar maupun para pendaki
Baca SelengkapnyaTeramati kolom abu setinggi 800 meter dari puncak gunung dan guguran material ke arah Besuk Kobokan.
Baca Selengkapnya