Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Titip doa dengan uang sudah jadi tradisi di kampung-kampung

Titip doa dengan uang sudah jadi tradisi di kampung-kampung Ilustrasi berdoa. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Titip doa dengan membayar sejumlah uang belakangan menjadi obrolan hangat di sosial media. Sebuah program yang digagas oleh Komunitas Sedekah Harian dengan menawarkan doa di hadapan Baitullah menjadi kontroversi.

Sebenarnya, menitip doa dengan membayar sejumlah uang bukan hal yang baru. Di kampung-kampung di beberapa daerah di Indonesia, menitip doa biasanya dilakukan bersamaan dengan peringatan hajatan atau haul ulama besar dan ternama di daerah yang bersangkutan.

Namun istilahnya bukan menitip doa. Tapi mendaftarkan keluarga yang telah wafat untuk didoakan bersama dengan acara haul sang ulama.

"Kita memberikan uang seikhlasnya, dan mendaftarkan nama-nama almarhum keluarga kita untuk ikut didoakan," kata Ismia, warga Banyuwangi, Jawa Timur yang belum lama ini mendaftarkan keluarganya yang sudah almarhum untuk ikut didoakan dalam acara haul ulama setempat, Jumat (3/1).

Namun Ismia mewanti-wanti bahwa tidak ada kewajiban untuk membayar uang dengan jumlah yang telah ditentukan.

"Saya mendaftarkan beberapa nama, dan menyerahkan uang kepada panitia haul uang Rp 150.000," tutur Ismia.

Nantinya, uang yang dikumpulkan dari masyarakat yang menitip doa ini dijadikan sebagai tambahan modal buat menggelar acara haul, yang biasanya diisi dengan pengajian akbar yang tentunya membutuhkan biaya yang besar.

"Kami sih ikhlas-ikhlas saja," tutup Ismia.

Sebelumnya, setelah menuai sorotan, Komunitas Sedekah Harian langsung menghentikan program yang seharusnya berjalan dari tanggal 31 Desember-7 Januari 2014 tersebut. Mereka juga mengklarifikasi bila uang sejumlah Rp 102.014, menjadi sedekah dan akan disumbangkan pada yang berhak, bukan untuk Ahmad Ghazali.

"Jadi semua donasi pada #TitipDoaBaitullah yang masuk seluruhnya untuk program Kemanusiaan Sedekah Harian. Kami juga memutuskan untuk menghentikan program tersebut agar tidak menimbulkan kontroversi lebih lanjut," ujar Abdul Aziz, Presiden Komunitas Sedekah Harian dalam keterangan pers, Kamis (2/1).

Abdul mengakui poster yang disebarkan lewat sosial media itu menuai kontroversi. Mereka juga meminta maaf telah menimbulkan polemik soal tata cara beribadah.

(mdk/bal)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP