Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Peneliti Temukan Hubungan Antara Meningkatnya Kasus Autisme dengan Makanan Olahan

Peneliti Temukan Hubungan Antara Meningkatnya Kasus Autisme dengan Makanan Olahan Ilustrasi Makanan Olahan. ©medicalnewstoday.com

Merdeka.com - Jenis makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat saat ini sudah jauh berbeda dibanding pada masa lalu. Pada saat ini, konsumsi makanan olahan sudah jauh meningkat dibanding pada masa lalu.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa konsumsi makanan olahan berhubungan dengan peningkatan autisme. Dilansir dari Medical Daily, saat ini peneliti sudah selangkah lebih dekat dalam menemukan hubungan makanan yang dikonsumsi ketika hamil dengan perkembangan otak janin.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mencoba menemukan perubahan molekular yang terjadi pada sel otak yang disebabkan kandungan asam dalam jumlah tinggi seperti yang biasa ditemukan di makanan olahan. Peneliti menemukan bahwa tingkat asam propionik (PPA) yang tinggi dan biasa digunakan untuk memperlama daya tahan makanan olahan seperti pada keju dan roti, menurunkan perkembangan neuron pada otak janin.

Saleh Naser, salah satu peneliti pada temuan ini melakukan studinya setelah menemukan laporan bahwa anak autis sering menderita masalah pencernaan seperti sindrom iritasi perut. Dia mencoba melihat apakah ada hubungan antara usus dan otak. Lebih lanjut, dia mulai mempelajari bagaimana bakteri di usus cukup berbeda antara orang-orang yang mengalami autisme dengan mereka yang tidak mengalami hal ini.

"Penelitian telah menunjukkan tingkat PPA yang lebih tinggi pada sampel kotoran anak-anak yang memiliki autisme serta mikrobioma usus mereka juga cukup berbeda. Saya ingin mengetahui hal apa yang menyebabkan ini," jelas Naser.

Di laboratorium, peneliti menemukan bahwa terjadi paparan terhadap sistem sel saraf otak hingga sel PPA otak yang cedera secara berlebihan melalui berbagai cara. Pertama, kandungan asam mengganggu keseimbangan alami antara sel otak dengan mengurangi jumlah neuro dan memproduksi sel glial secara berlebihan.

Walaupun sel glial membantu mengembangkan dan melindungi fungsi neuron, terlalu banyak sel gial mengganggu hubungan antara neuron. Hal ini juga menyebabkan peradangan yang biasa muncul pada otak anak yang memiliki autisme.

Jumlah asam yang berlebihan juga memperpendek dan mencederai jalur yang digunakan neuron untuk berkomunikasi dengan bagian lain tubuh. Kombinasi dari menurunnya neuron serta cedera pada jaringan ini membuat kemampuan otak untuk berkomunikasi menurun dan menghasilkan perilaku yang muncul pada anak yang memiliki autisme. Hal ini termasuk perilaku berulang, masalah mobilitas, serta ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.

(mdk/RWP)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP