Banyumas kini punya sistem operasi komputer bahasa lokal
Merdeka.com - Komunitas BlankOn Banyumas mengembangkan sistem operasi dan piranti lunak berbasis open source berbahasa Banyumasan. Sistem operasi ini dinilai cocok untuk warga desa yang lebih akrab dengan bahasa ibu mereka.
Direktur Politeknik Pratama Purwokerto, Djati Kusumo Widjoyo mengatakan, kemunculan BlankOn Banyumas yang mengembangkan sistem operasi Bahasa Banyumasan setidaknya menjawab tiga persoalan penting di Banyumas. "Sistem ini bertujuan untuk mengurangi pembajakan piranti lunak, penghematan belanja, dan kemandirian teknologi," katanya.
-
Apa tujuan Banyuwangi meluncurkan program Digitalisasi Kelurahan? Peluncuran tersebut, menurut Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, sebagai upaya mewujudkan peningkatan layanan publik dan penguatan data.
-
Siapa yang meluncurkan aplikasi Si-Denakwangi di Banyuwangi? Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk juga meluncurkan inovasi Si-Denakwangi, akronim Aplikasi Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Kabupaten Banyuwangi.
-
Aplikasi apa yang dibuat untuk mengatasi kemiskinan di Bantul? Pemkab Bantul punya cara sendiri dalam menanggulangi kemiskinan. Salah satunya dengan menyiapkan aplikasi Sistem Data Informasi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan.
-
Mengapa Banyuwangi mengadaptasi layanan publik digital dari Estonia? Masyarakat akan lebih mudah untuk mengurus berbagai keperluannya. Dalam beberapa layanan bahkan tidak harus datang ke kantor,“ imbuh Ipuk yang mengaku hal tersebut mengadaptasi layanan publik digital yang dikembangkan di Estonia.
-
Di mana program Digitalisasi Kelurahan diluncurkan? Di antaranya dengan meluncurkan program Digitalisasi Kelurahan di Kantor Kecamatan Banyuwangi, Jumat (18/8).
-
Siapa Pj Bupati Banyumas yang baru? Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana melantik pejabat Bupati Banyumas, Hanung Cahyo Saputro di Gradhika Bhakti Praja Building, Komplek Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan No 9 Semarang pada Minggu (24/9) kemarin.
Peluncuran sistem operasi BlankOn Banyumas sendiri dilakukan di Pendopo Wakil Bupati Banyumas (17/8) saat peringatan HUT RI ke 67. Acara ini dihadiri oleh beragam kalangan dari budayawan, kepala desa, akademisi, guru, pelajar, blogger, pegiat buruh migran, pers, dan praktisi teknologi informasi.
Djati menambahkan, sebagian besar pengguna komputer di Banyumas menggunakan piranti lunak bajakan/curian. Secara hukum, kata dia, perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Selain itu, pembajakan sendiri bukan karakter warga Banyumas yang menjunjung tinggi watak kesatria.
"Kita mendapat ranking pembajak nomor dua sedunia. Ironisnya, pembajakan software ini dilakukan oleh pemerintah, penegak hukum, akademisi, mahasiswa/pelajar, dan warga. Lama-kelamaan, tindak pencurian dan korupsi dianggap biasa. Apa ini yang dinamakan kota satria? Bahaya kan," kata dia menegaskan.
Menurut dia, sistem operasi itu juga memangkas dana belanja piranti lunak. Bagi Djati, pengguna komputer di Banyumas sudah di atas 20 ribu pengguna. Bila mereka taat hukum maka belanja sistem operasi bisa mencapai Rp 2 miliar. Bila komputer digunakan sekadar keperluan kantoran (mengetik, olah data, dan presentasi) maka ada Rp 4-5 miliar untuk belanja aplikasi office.
Ia menambahkan, bila menggunakan OS BlankOn Banyumas dana itu bisa dialihkan untuk keperluan yang lebih penting seperti pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalokasian dana untuk keperluan tersebut menjadi ciri kesatria juga.
"Harga sistem operasi proprietary sekitar Rp 1 juta, aplikasi office bisa Rp 2-3 juta. Sementara itu, BlankOn Banyumas bisa didapat gratisan, pengguna komputer sekadar mengganti ongkos pengiriman dan pengemasan sekitar Rp 10 ribu. Ini bentuk penghematan anggaran yang luar biasa," kata dia menambahkan.
Masih menurut Djati, sistem tersebut juga menjadi penanda kemandirian teknologi. Lewat BlankOn Banyumas, warga Banyumas menunjukkan pada khalayak umum bahwa mereka mampu membangun kemandirian teknologi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya desa dan pengguna komputer yang sudah mempergunakan sistem operasi ini. Semangat kemandirian teknologi itu langkah maju bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di Banyumas.
"Kemandirian teknologi merupakan cita-cita para pendiri bangsa. Pengembangan BlankOn Banyumas jangan sampai berhenti, mari terus berinovasi," kata dia berapi-api.
Koordinator Komunitas BlankOn Banyumas, Pri Anton Subardio mengatakan, BlankOn Banyumas merupakan sistem operasi BlankOn dengan dukungan antarmuka (interface) bahasa Banyumas. "Sistem operasi ini telah diterapkan di 23 desa anggota Gerakan Desa Membangun di Kabupaten Banyumas," katanya.
Ia mengatakan, BlankOn Banyumas dikembangkan oleh Komunitas BlankOn Banyumas selama 8 bulan dengan melibatkan ratusan sukarelawan, mulai dari praktisi teknologi informasi, mahasiswa, pelajar, blogger, dan warga desa.
Menurut dia, bagi GDM dan Komunitas BlankOn Banyumas, peluncuran BlankOn Banyumas menjadi bukti masyarakat Banyumas mampu memutus ketergantungan pada sistem operasi impor berbayar untuk dukungan kerja komputer. Pada akhir 2011, mereka sepakat untuk bergotong-royong mengembangkan sistem operasi secara mandiri. Untuk memangkas kesenjangan teknologi di masyarakat akar rumput maka BlankOn Banyumas menggunakan bahasa antarmuka dalam Bahasa Banyumas.
Peluncuran BlankOn Banyumas dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Masih menurut Pri Anton, BlankOn Banyumas diluncurkan menandai kemerdekaan warga Banyumas dalam urusan teknologi piranti lunak setelah sebelumnya tergantung pada produk piranti lunak impor berbayar (proprietary).
Ia menambahkan, bagi yang ingin mencicipi racikan sistem operasi BlankOn Banyumas tinggal mengunduh di portal resmi BlankOn Banyumas.
Pri Anton yakin keberadaan BlankOn Banyumas akan disambut antusias oleh masyarakat Banyumas karena selama ini piranti lunak itu sudah digunakan oleh 28 desa yang tergabung dalam Gerakan Desa Membangun (GDM) wilayah Banyumas. (mdk/ikh)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Pemkab Banyuwangi berinovasi untuk memperkuat penguatan pemerintahan berbasis digital.
Baca SelengkapnyaKonsistensi Pemkab Banyuwangi dalam pelestarian bahasa daerah, yakni Bahasa Using mendapat apresiasi positif.
Baca SelengkapnyaASEAN Smart City Network (ASCN), dihadiri delegasi 10 negara anggota ASEAN, di Luang Prabang, Laos.
Baca SelengkapnyaSalah satu suku yang mendiami Provinsi Aceh ini kehidupannya jarang disorot media namun mereka sudah bersentuhan langsung dengan dunia luar daerahnya.
Baca SelengkapnyaMPP Digital Banyuwangi diaplikasikan ke MPP Digital Nasional yang merupakan pelayanan publik berbasis elektronik.
Baca SelengkapnyaDi kantor BPN kini telah dilengkapi dengan fasilitas ramah kelompok rentan. Seperti pagar pegangan untuk lansia, guiding block, dan kursi roda.
Baca SelengkapnyaAksara kuno rupanya tak hanya dikenal di Suku Jawa saja, melainkan Suku Batak juga memiliki aksaranya sendiri.
Baca SelengkapnyaTak punya tempat pembuangan akhir, sampah tersebut dibawa kemana ya?
Baca SelengkapnyaBupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani diundang memaparkan tentang progres program Smart Kampung, sistem digitalisasi di Banyuwangi.
Baca SelengkapnyaSinyal internet yang kini bisa diakses membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat di daerah yang tadinya blankspot.
Baca SelengkapnyaTerpilihnya Banyumas menjadi tuan rumah acara tersebut karena reputasinya sebagai salah satu daerah yang memiliki inovasi dalam pengelolaan sampah.
Baca SelengkapnyaPemkab Banyuwangi setiap tahunnya menggelar berbagai program peningkatan kemampuan bisnis.
Baca Selengkapnya