Hewan-hewan percobaan tak lazim penyelamat umat manusia

Merdeka.com - Manusia memanfaatkan hewan dengan cara beragam. Tidak hanya untuk sumber makanan atau transportasi, hewan dipakai untuk percobaan-percobaan ilmiah demi kesejahteraan umat manusia.
Tentu kita tahu bahwa tikus adalah salah satu kelinci percobaan paling populer. Bahkan, sekitar 95 persen hewan percobaan di laboratorium adalah tikus. Akan tetapi, tahukah Anda bila ada banyak hewan tidak biasa di luar sana yang dipakai untuk binatang percobaan?
Meski aneh, hewan-hewan ini mempunyai beberapa kesamaan dengan manusia, sehingga dipakai untuk percobaan berbahaya yang tidak mungkin dilakukan pada manusia. Lalu, hewan-hewan apa saja itu, da apa yang membuat mereka spesial bagi manusia? Berikut ulasannya.
Lalat buah
Siapa sangka lalat buah atau Drosophila Melanogaster adalah kelinci percobaan penting bagi manusia? Ya, di dunia genetika, lalat buah sudah menjadi raja kelinci percobaan selama hampir 100 tahun terakhir.
Lalat buah banyak dipakai untuk penelitian tentang penyakit yang diderita oleh manusia. Selain mudah diternak, lalat ini bisa bertelur ratusan bahkan ribuan hanya dalam satu minggu. Sehingga ilmuwan bisa dengan mudah mengamati jika ada mutasi.
Kromosom lalat buah pun sangat besar dan mudah dipetakan. Dan yang paling penting, sekitar 75 persen gen manusia yang terinfeksi penyakit bisa ditemukan di lalat buah. Selain itu, lalat buah juga memiliki gen hox, gen yang sama pada manusia yang menentukan pertumbuhan anggota tubuh saat masih dalam kandungan.
Cacing nematoda
Cacing dengan nama latin Caenorhabditis elegans ini dipakai sebagai hewan percobaan bukan karena kemiripannya dengan manusia, tetapi akibat 'kesederhanaanya'. Ya, C. elegans hanya mempunyai maksimal 959 sel di tubuhnya.Â
Sehingga sangat mudah untuk meneliti perkembangan dari setiap sel di tubuh cacing ini. Tak aneh bila C. elegans menjadi hewan pertama yang susunan gennya bisa dipetakan ilmuwan.
Setiap sel dari cacing ini juga sangat peka terhadap teknik 'RNA interference' alias 'on/off' gen. Menggunakan teknik ini, ilmuwan bisa mematikan dan menghidupkan kembali gen si cacing secara berulang-ulang untuk mengungkap fungsi setiap gen dan kaitannya dengan penyakit.
Bulu babi
Percaya atau tidak saat masih dalam tahap pertumbuhan awal, seperti dalam kandungan, manusia sangat mirip dengan bulu babi atau landak laut (Echinoidea). Kesamannya mungkin akan membuat anda kaget, kita dan bulu babi sama-sama tumbuh dari anus.
Saat manusia pertama kali berkembang di dalam kandungan, bagian tubuh yang pertama muncul adalah anus kemudian terus tumbuh bagian-bagian lain tubuh. Hal ini juga terjadi pada bulu babi, sehingga ilmuwan mempelajari pertumbuhan awal manusia lewat hewan ini. Membuat ilmuwan tidak usah repot-repot dan membahayakan penelitian pada ibu hamil.
Terlebih, embrio bulu babi lebih mudah diamati karena berada di luar tubuh. Berbeda dari embrio manusia yang tersimpan dengan aman dalam lahir.
Ferret
Tikus tidak bersin, oleh karena itu mustahil untuk memakai hewan ini sebagai kelinci percobaan untuk penyakit influenza atau flu. Untungnya, ilmuwan sudah mendapat pengganti tikus, yakni ferret. Ferret atau Mustela putorius furo, adalah mamalia berbulu yang berkerabat dengan berang-berang dan musang.
Ferret bisa bersin dan mengalami penyakit pernapasan lain, seperti flu. Jika ferret bisa sakit seperti manusia, maka perawatan sakit si ferret bisa diterapkan pada manusia. Oleh karena itu ilmuwan sejak lama melakukan percobaan vaksin dan obat-obatan untuk penyakit pernapasan pada hewan lucu ini.
Berkat hal ini, manusia bisa selangkah lebih maju soal infeksi virus flu, menghindari korban jiwa besar akibat virus flu yang kini sudah berevolusi dan mengakibatkan banyak penyakit berbahaya, seperti flu babi.
Sumber: SciShow YouTube
(mdk/bbo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya