5 Indikasi bangkrutnya Bakrie
Merdeka.com - Kelompok usaha konglomerat Aburizal Bakrie terlilit utang, masyarakat telah lama mengetahuinya. Rupanya, permasalahan kerajaan bisnisnya ternyata maha berat, dan terus menggelayuti calon presiden yang diusung Partai Golkar ini.
Laporan keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyatakan utang perseroan tahun lalu tercatat Rp 6,44 triliun. Memang telah jauh menurun dibanding jumlah utang pada 2011 yang mencapai Rp 10,71 triliun.
Namun, permasalahan utang 10 anak perusahaan Bakrie sulit dihapus. Pasalnya, penyakit lama diidap grup usaha yang sempat jatuh sebelum reformasi 1998 ini belum disembuhkan. Yaitu kebiasaan gali lubang tutup lubang. Alias membayar utang perusahaan lama, dengan mencari debitor baru.
-
Mengapa banyak perusahaan global terancam bangkrut? Banyak tanda menunjukkan ancaman kebangkrutan bagi perusahaan-perusahaan global, terutama karena krisis utang dan kenaikan biaya pinjaman yang menjadi isyarat 'kiamat' baru bagi korporasi di seluruh dunia.
-
Bagaimana BRI mengelola resiko di tengah pemulihan? Kendati demikian untuk memperkuat kondisi yang semakin membaik, pihaknya menerapkan strategi konservatif dengan mengalokasikan dana pencadangan yang lebih dari memadai sebagai salah satu mitigasi risiko.
-
Bagaimana BNI menghadapi krisis? BNI terbukti tangguh dalam menghadapi krisis yang terjadi di tahun 1998, 2005, 2008, dan 2020. BNI melakukan berbagai transformasi bisnis digital untuk tetap bisa mengerek kinerja keuangan, salah satunya dengan membangun ekosistem digital nelayan.
-
Kenapa keuangan seseorang bisa memburuk? Kebiasaan yang tidak baik ini tidak hanya menghambat kesuksesan finansial, tetapi juga dapat memperburuk keadaan keuangan individu.
-
Kenapa negara-negara takut dengan bunga pinjaman? Karena begitu bunga pinjaman naik sedikit saja, beban fiskal itu akan sangat, sangat besar,' jelasnya.
-
Bagaimana riba bisa merugikan masyarakat? Riba dapat menyebabkan kemiskinan karena peminjam kerap terjebak dalam perangkap utang yang sulit untuk dibayar. Bunga yang tinggi dapat menyebabkan beban utang yang semakin berat, hal itu kemudian menyulitkan mereka untuk mengatasi masalah keuangan.
Jurus Bakrie berutang memang terbukti menyimpan kunci kelemahan paling fatal yang bisa dialami pengusaha paling kawakan sekalipun. Setiap bisnis yang dibangun dari hasil pinjaman, sebetulnya rentan ambruk ketika ada krisis besar tak terduga.
Tanda-tanda masa kejayaan bisnis Bakrie mulai meredup sebetulnya telah kentara. Berikut merdeka.com mencoba merangkumnya.
Wilayah kekuasaan dipreteli
Masalah utang masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dihadapi korporasi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Hampir semua anak perusahaan di bawah payung BNBR, terbelit utang.
Tahun ini, petinggi-petinggi BNBR berniat mengurangi utang korporasi dari Rp 6,7 triliun menjadi Rp 3,5 triliun. Bisa ditebak, penjualan aset masih diyakini sebagai strategi ampuh untuk mengurangi beban utang perusahaan.
"Kita berniat untuk mengurangi utang sebesar Rp 2,5 triliun sampai Rp 3 triliun. Kalau agresif sebenarnya tahun depan itu bisa Rp 3,5 triliun," ungkap Direktur Keuangan BNBR Eddy Soeparno di penghujung tahun lalu.
"Utang itu sebenarnya kita turunkan dari tengah tahun ini. Seperti dengan penjualan aset," ujar Eddy.
Satu per satu aset dan saham kerajaan bisnis Bakrie mulai dijual ke perusahaan lain. Semisal konsesi jalan tol milik Bakrieland yang dilepas ke MNC Grup. Kerajaan bisnis milik Hary Tanoe juga membeli 19,90 persen saham PT Bali Nirwana Resort dari Sugilite Company Tbk dan PT Bakrie Nirwana Semesta.
Penjualan aset-aset milik kerajaan bisnis Bakrie terus bergulir. Bahkan, sejak tahun lalu, penjualan aset sudah dilakukan di wilayah kekuasaan kerajaan bisnis Bakrie di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Wajar saja mengingat jantung kerajaan bisnis Bakrie itu berada di kawasan strategi pusat bisnis dan ekonomi. Dengan pertimbangan itu, banyak investor tertarik mengakuisisi aset dan lahan Bakrie.
Sejak 2006, PT Bakrie Swasakti Utama (BSU) mengembangkan lahan seluas 28 hektare (ha) di kawasan Epicentrum. Superblok yang berada di kawasan bisnis itu memiliki lahan 53,5 hektar. Dari data tahun lalu, harga tanah di kawasan Kuningan rata-rata Rp 40 juta per meter persegi. Bakrieland masih memiliki cadangan lahan (landbank) seluas 10 hektar di Epicentrum.
Penjualan aset di kawasan utama bisnis kerajaan Bakrie dimulai Juli 2011. PT Bakrie Swasakti Utama (BSU), anak usaha Bakrieland, menjual tanah seluas 3 hektar (ha) di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Penjualan dilakukan ke anak usaha Grup Tiara Marga Trakindo (TMT) yakni PT Triyasa Propertindo (Triyasa).
Proses penjualan ini dilakukan 27 Juli 2011 dengan total luas 30.000 meter persegi (m2). Rencananya, Triyasa akan membangun Gran Rubina Business Park yang terdiri dari dua menara perkantoran dan dua apartemen, dengan total investasi sebesar Rp 1,8 triliun.
Bakrie kembali menjual lahannya di kawasan Epicentrum. Kali ini ke Sinar mas Land Grup. Anak usahanya di bidang properti, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) semakin berambisi melebarkan sayap bisnis propertinya. Pada semester satu tahun lalu, BSDE berhasil menancapkan kukunya untuk pertama kalinya di kawasan kekuasaan Bakrie. BSDE mengakuisisi lahan seluas 5 hektar (ha) di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Nilai investasi aksi ini ditaksir mencapai Rp 8 juta per meter persegi atau mencapai Rp 400 miliar.
Sekretaris Perusahaan BSDE Hermawan Wijaya mengatakan, lahan di kawasan ini disiapkan untuk pembangunan dua unit apartemen dengan masing-masing nilai investasi Rp 320 miliar.
"Tingginya permintaan dan posisi tanah yang strategis menjadi salah satu alasan perseroan untuk segera membangun proyek tersebut," ujar Hermawan. Rencananya, lahan yang dibeli dari Bakrieland ini akan dibangun apartemen. Pembangunannya direncanakan mulai tahun ini.
Tidak berhenti di situ saja, BSDE menggebrak di awal tahun ini. BSDE berambisi memperluas bisnisnya di wilayah kekuasaan bisnis Bakrie. Kali ini yang dibeli adalah strata title mal Epicentrum Walk yang selama ini dikelola anak perusahaan Bakrie.
BSDE mengakuisisi proyek Epicentrum Walk dengan luas 14.850 meter persegi. Nilai akuisisi tersebut mencapai Rp 297 miliar. Perseroan berharap, dengan mencaplok mal Epicentrum, pendapatan berkelanjutan (recurring income) hingga lima tahun ke depan bisa meningkat signifikan.
"Saat ini proporsi recurring income 15:85 terhadap pendapatan pengembangan. Nantinya ditargetkan mencapai 20:80 hingga lima tahun ke depan," ujarnya dalam siaran pers, Jakarta, Selasa (11/2).
Utang menumpuk
Bukan rahasia lagi jika kerajaan bisnis milik konglomerat Aburizal Bakrie terbelit masalah utang. Persoalan ini seolah tidak lepas dari sepak terjang kelompok bisnis PT Bakrie & Brothers Tbk.
Selama ini, kelompok usaha Bakrie selalu bisa berkelit dari masalah ini. Caranya hanya dengan cara menjual aset-aset milik anak usaha yang nantinya dijadikan modal untuk membayar utang dan ekspansi perusahaan.
Daftar panjang perusahaan Bakrie yang sudah dilego sahamnya ke investor lain adalah Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries hingga yang terbaru adalah menjual saham PT Energi Mega Persada Tbk.
Meskipun selalu mencoba mencari celah dan jalan keluar dari persoalan utang, beberapa kali anak usaha grup Bakrie terbentur dengan jalan buntu hingga akhirnya digugat pailit oleh debitur.
Salah satu anak usahanya yang digugat pailit adalah Bakrie Life, perusahaan yang bergerak di lini bisnis asuransi. Bakrie Life mengalami gagal bayar pada 2008 sebesar Rp 360 miliar kepada nasabah diamond investa. Seiring perjalanan, utang Bakrie Life kepada nasabah tersisa Rp 270 miliar. Kesulitan likuiditas yang dialami Bakrie Life membuat pihak Bakrie belum juga dapat melunasi utang-utangnya pada nasabah.
Yang terbaru, anak usahanya yang bergerak di bidang properti, PT Bakrieland Development juga digugat pailit oleh The Bank of New York Mellon cabang London terhadap anak usaha Bakrieland yakni BLD Investment Pte yang memiliki utang USD 155 juta.
Persoalan utang yang terus menggelayut kerajaan bisnis Bakrie bukan hal baru. "Sejak 2008 keuangan perusahaan Bakrie sangat parah dan utangnnya sudah besar sekali, tidak menghasilkan keuntungan. Mereka beli aset menggunakan uang utang. Mereka membeli aset dengan harga mahal, ketika aset itu dijual dengan harga murah bukan menutupi utang malah nambah utang," ujar Analis Pasar Modal Kiswoyo Adijoe kepada merdeka.com, Selasa (10/9) malam.
Menurutnya, lilitan utang sudah menjerat hampir di seluruh anak usaha perusahaan Bakrie dan sudah berlangsung selama lima tahun terakhir. Gugatan pailit yang dialamatkan ke Bakrieland dan anak usahanya, salah satu dampak dari sistem bisnis perusahaan Bakrie yang bertumpu pada utang.
"Sekarang mereka terbentur dengan persoalan ini karena tagihan utangnya besar, yang tagihan kecil juga ada. Karena ini besar aja makanya dipailitkan," ucapnya.
Kinerja perusahaan mulai meredup
PT Bakrie&Brothers Tbk menaungi beberapa anak usaha mulai dari Bumi Resources (35 persen), Bakrie Sumatera Plantations (54,59 persen), Bakrie Telecom (52,6 persen), Energi Mega Persada (40 persen).
Ada pula Bakrieland Development (40 persen), Bakrie Metal Industries (99,9 persen), Bakrie Indo Infrastructure (99,9 persen), Berau Coal Energy hingga Viva Media Asia.
Meski masih terlilit utang, Direktur Utama & CEO BNBR Bobby Gafur Umar mengklaim bahwa unit-unit usaha BNBR dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kinerja yang semakin baik.
Laporan keuangan perusahaan milik Aburizal Bakrie menunjukkan, unit-unit usaha Perseroan menyumbang 66 persen dari total revenue BNBR, dengan nilai mencapai Rp 10,11 triliun.
Dari beberapa perusahaan milik Bakrie tersebut, hanya dua yang disebut-sebut Bobby masih memiliki prospek cerah dan bisa dikembangkan. Yakni, PT Bakrie Building Industries (BBI) dan PT Bakrie Tosanjaya (BTJ).
"Industri bahan bangunan memiliki prospek sangat bagus, seiring dengan pertumbuhan industri properti dan konstruksi. Didukung juga dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan daya beli konsumen yang terus meningkat, kami sangat optimis, industri bahan bangunan di dalam negeri akan terus melaju," kata Bobby melalui keterangan pers yang diterima merdeka.com, Minggu (31/3).
Perusahaan yang memproduksi aneka jenis bahan bangunan di pabriknya di kawasan Jakarta Barat ini, tahun lalu berhasil meraup laba bersih Rp 39,2 miliar. Nilai ini meningkat 62 persen dibanding perolehan laba tahun sebelumnya. Tahun lalu, nilai penjualan PT BBI tumbuh 45 persen hingga mencapai Rp 651 miliar. Tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp 873 miliar.
"Ini target yang sangat realistis, mengingat berbagai inisiatif yang sedang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan usaha PT BBI," kata Bobby.
PT Bakrie Tosanjaya (BTJ), unit usaha Perseroan yang memproduksi komponen otomotif juga diakui memiliki prospek yang cerah untuk berkembang. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan industri otomotif nasional.
"Kami serius memacu pertumbuhan bisnis divisi manufaktur komponen otomotif menjadi bidang usaha utama PT BTJ," ucap Bobby.
Dalam upaya pengembangan PT BTJ, perseroan belum lama ini menuntaskan proses akuisisi aset terkait dengan komponen otomotif yang dimiliki oleh salah satu anak kelompok usaha besar asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia.
"Ya, sudah final, dengan dukungan pembiayaan dari perbankan nasional," ujarnya.
Chief Investor Relations BNBR Indra Ginting menambahkan, PT BTJ selama ini tercatat sebagai produsen dan pemasok komponen beberapa merk mobil komersial.
"BTJ selama ini menjadi salah satu pemasok utama komponen untuk kendaraan niaga seperti Mitsubishi, Hino, Daihatsu dan Toyota. Kinerja Bakrie Tosanjaya sangat bagus, dengan pertumbuhan EBITDA sekitar 60 persen dibanding tahun 2011. Ini juga didukung oleh pasar mobil komersial yang rata-rata per tahun tumbuh 24 persen sampai 26 persen," tutup Indra.
Keluar dari daftar orang kaya
Sejak 2012, Bakrie telah keluar dari daftar orang terkaya di Indonesia. Sebelumnya, dalam daftar orang terkaya Forbes 2011, Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, menduduki peringkat 30 dengan harta kekayaan USD 890 juta.
Setali tiga uang dengan Samin Tan, Ical juga menderita kerugian akibat seteru Bumi Plc. Forbes mengungkapkan, melorotnya harta kekayaan Ical karena hasil penjualan perusahaan tambang batubara Bumi Resources digunakan untuk membayar utang.
Pada 2011, harta kekayaan kandidat calon presiden 2014 ini turun hingga USD 1,2 miliar atau 57 persen. Padahal, tahun sebelumnya atau 2010, Ical bertengger di posisi orang terkaya nomor 10 di Indonesia dengan total harta USD 2,1 miliar.
Menurunnya harta kekayaan Ical besar kemungkinan karena utang yang melilit tubuh bisnis keluarga Bakrie. Hal tersebut ditunjukkan dengan melemahnya saham-saham perusahaan Bakrie & Brothers (BNBR) dan beberapa anak usahanya.
Aset dijual
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menargetkan akan mengurangi utang perseroan mencapai sebesar 15-20 persen atau menjadi Rp 4 triliun. Utang perseroan hingga 2012 mencapai Rp 6,4 triliun.
Bakrie & Brothers masih mengandalkan penjualan aset untuk mengurangi utang. Namun, tidak disebutkan aset perusahaan yang bakal kembali dijual setelah sebelumnya melepas aset Seamless Pipe Indonesia Jaya, Bakrie Pipe Indonesia, South East Asian Pipe Indonesia, South East Asian Pipe, Bakrie Construction, Bakrie Building Industries hingga yang terbaru adalah menjual saham PT Energi Mega Persada Tbk.
"Kami mengharapkan minimal 15-20 persen, caranya yang kami akan melakukan penjualan sebagian aset," ujar Direktur Keuangan BNBR, Eddy Suparno saat konferensi pers BNBR di JS Luwansa Hotel, Jakarta, Rabu (12/6).
Pihaknya mengaku tidak ingin terlalu agresif mengurangi utang perseroan. "Kami lakukan itu agar strategi perusahaan kami baik ke depannya," jelas dia.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Holmes mendadak bangkrut setelah alat-alat kesehatan buatannya diragukan.
Baca SelengkapnyaDirut BRI tegaskan bankir perlu memiliki risk awareness yang baik dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Baca SelengkapnyaJumlah bank bangkrut pada tahun ini telah mengalami peningkatan pesat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Baca SelengkapnyaKekacauan dunia terjadi dipicu oleh potensi resesi Amerika Serikat hingga perang yang terjadi di Eropa dan Timur Tengah
Baca SelengkapnyaKepercayaan diri dalam mengelola pasar, tergantung dengan kepercayaan pasar.
Baca SelengkapnyaIndonesia mulai memasuki pesta demokrasi yang dapat memengaruhi risk appetite investor dan pelaku usaha.
Baca SelengkapnyaMeningkatnya fragmentasi ekonomi dan geopolitik yang bersumber tidak hanya dari konflik Rusia-Ukraina, namun juga tensi geopolitik antara China dan AS.
Baca Selengkapnya