Ini 5 Industri Paling Berisiko Selama Resesi Ekonomi
Merdeka.com - Perekonomian dunia di tahun 2023 banyak diramalkan suram dan gelap sebagai dampak resesi ekonomi. Sejumlah pengamat percaya, penurunan ekonomi tidak bisa dihindari dah resesi global hanya tinggal menunggu waktu saja.
"Yang terburuk belum datang dan bagi banyak orang, 2023 akan terasa seperti resesi," dalam laporan International Monetary Fund pada 11 Oktober lalu.
Disebutkan dalam laporan tersebut, inflasi yang terus melonjak menyebabkan kekacauan di pasar saham dan perusahaan-perusahaan telah bersiap menghadapi masa depan yang tidak pasti dengan melakukan pemutusan hubungan kerja, pembekuan perekrutan. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem, perusahaan membatalkan tawaran pekerjaan.
-
Bagaimana inflasi memengaruhi saham? Misalnya, saham dapat berkinerja baik selama periode inflasi jika perusahaan menaikkan harga untuk mengimbangi biaya yang meningkat.
-
Apa itu inflasi? Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu perekonomian selama periode tertentu.
-
Mengapa banyak perusahaan global terancam bangkrut? Banyak tanda menunjukkan ancaman kebangkrutan bagi perusahaan-perusahaan global, terutama karena krisis utang dan kenaikan biaya pinjaman yang menjadi isyarat 'kiamat' baru bagi korporasi di seluruh dunia.
-
Apa dampak buruk dari tekanan finansial? Dampak buruk dari kelelahan ini adalah banyak warga Amerika menghindari atau mengabaikan penanganan masalah keuangan secara keseluruhan. Hampir 44 persen responden survei mengakui bahwa mereka akan mengabaikan masalah keuangan hingga menjadi krisis.
-
Kapan masa berakhir kontrak kerja jadi penuh ketidakpastian? Masa berakhirnya kontrak kerja bisa menjadi momen yang penuh ketidakpastian.
-
Bagaimana tekanan finansial berdampak pada orang-orang? Dampak buruk dari kelelahan ini adalah banyak warga Amerika menghindari atau mengabaikan penanganan masalah keuangan secara keseluruhan. Hampir 44 persen responden survei mengakui bahwa mereka akan mengabaikan masalah keuangan hingga menjadi krisis.
Meskipun tidak ada pekerjaan yang sepenuhnya kebal terhadap hambatan ekonomi, beberapa industri cenderung bernasib lebih buruk dari pada yang lain.
Dilansir dari CNBC Make It, para ekonom memprediksi, ada Industri yang paling berisiko terhadap pandemi. Di antaranya adalah perumahan, konstruksi, manufaktur, ritel hingga industri jasa dan pelayanan.
Ekonom senior di LinkedIn, Kory Kantenga memperkirakan pekerjaan pertama terdampak ketika resesi melanda adalah pekerjaan yang bergantung pada pengeluaran konsumen dan orang-orang yang memiliki pendapatan yang dapat dibelanjakan.
Kemudian dia menyebut, ritel, restoran, hotel, dan real estat adalah beberapa bisnis yang akan paling sering dirugikan selama resesi.
"Meskipun layanan semacam itu dapat meningkatkan kualitas hidup kita, layanan tersebut tidak diperlukan untuk mempertahankan standar hidup dasar kita," kata Kantenga.
Konstruksi dan Manufaktur
Kepala ekonom di ZipRecruiter Industri, Julia Pollak menyebut, industri yang membutuhkan banyak modal seperti manufaktur dan real estat, juga cenderung menderita karena kurang tahan terhadap resesi.
"Itu bisa terjadi pada resesi berikutnya, mengingat kenaikan suku bunga dan rekor inflasi tertinggi yang kita lihat saat ini," tambah Pollak.
Menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja Konstruksi dan manufaktur Amerika Serikat, konstruksi dan manufaktur mengalami penurunan yang cukup besar dalam pekerjaan selama ‘Great Recession’ yang berlangsung dari 2007 hingga 2009.
Pollak memperkirakan bahwa industri-industri ini akan mengalami penurunan serupa jika resesi akan segera terjadi karena orang cenderung menunda pembelian besar seperti rumah dan mobil baru selama penurunan ekonomi.
Namun, Kepala Ekonom di Economic Innovation Group, Adam Ozimek mengungkapkan akan sulit untuk memprediksi dengan pasti apa yang akan terjadi selama penurunan ekonomi berikutnya, berdasarkan resesi masa lalu.
"Ini adalah ekonomi yang benar-benar aneh. Saya tidak yakin sejarah masa lalu akan menjadi panduan yang berguna bagi kami," ujarnya.
Meski begitu, Ozimek optimis bahwa bank sentral akan berusaha menekan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi tanpa memicu resesi dan pengangguran yang tinggi.
"Saya rasa belum waktunya untuk panik. Risiko resesi itu nyata, tetapi saya pikir ada juga peluang yang sangat bagus bahwa kita tidak mengalami resesi sama sekali."
Reporter Magang: Hana Tiara Hanifah
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
PHK yang terjadi sebagian besar dipicu oleh krisis di berbagai lini pada sektor manufaktur.
Baca SelengkapnyaPemerintah berkomitmen untuk hadir bersama para buruh dalam menghadapi situasi ini.
Baca SelengkapnyaPeraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 memicu komoditas tekstil impor secara lebih bebas ke Indonesia.
Baca SelengkapnyaKondisi kritis sektor tekstil tidak hanya dialami oleh Sritex.
Baca SelengkapnyaAngka ini meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sekitar 25.000 orang yang di-PHK.
Baca SelengkapnyaGelombang PHK di sektor teknologi berlanjut di 2024, dengan lebih dari 136.000 karyawan terkena dampak.
Baca SelengkapnyaMengatur keuangan secara ketat menjadi hal wajib sepanjang Anda masih memiliki pendapatan tetap.
Baca SelengkapnyaApa yang harus dilakukan para investor saat inflasi terjadi?
Baca SelengkapnyaSituasi ketenagakerjaan di Indonesia sedang menghadapi tantangan serius, dengan hampir 60 ribu pekerja yang di-PHK pada tahun 2024.
Baca SelengkapnyaKekacauan dunia terjadi dipicu oleh potensi resesi Amerika Serikat hingga perang yang terjadi di Eropa dan Timur Tengah
Baca SelengkapnyaMasih sering bingung kenapa harga saham bisa naik turun dengan cepat? Begini penjelasannya!
Baca SelengkapnyaData BPS menunjukkan kinerja industri tekstil menurun seiring dengan adanya PHK massal sektor tersebut.
Baca Selengkapnya