Permodalan hingga tenaga kerja jadi tantangan revolusi industri 4.0
Merdeka.com - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengatakan dunia industri, khususnya mamin (makanan dan minuman) menyambut positif revolusi industri 4.0. Dia mengingatkan perjalanan menuju industri 4.0 membutuhkan banyak perbaikan.
Menurut dia, salah satu tantangan yang dihadapi dunia industri adalah modal. Industri 4.0 tentu membutuhkan peralatan berteknologi canggih yang membutuhkan modal yang tidak sedikit.
"Ini juga jadi satu tantangan di mana kita terus terang bunga bank masih sangat mahal, sedangkan penerapan teknologi 4.0 ini membutuhkan investasi besar, tapi dalam jangka panjang akan menguntungkan, akan meningkatkan daya saing," ungkapnya ketika ditemui di JCC, Jakarta, Kamis (5/4).
-
Bagaimana MMA Impact Indonesia 2024 membantu pemimpin industri? Acara ini berfungsi sebagai wadah bagi para pemimpin untuk berbagi wawasan, strategi, dan solusi marketing terkini.
-
Bagaimana Kemenko Perekonomian tingkatkan daya saing industri? 'Perjalanan transformasi industri untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah produknya masih Panjang, sehingga sinergi yang sudah terjalin selama ini harus dilanjutkan dan diperkuat lagi,' jelas Menko Airlangga.
-
Bagaimana HIPMI ingin atasi tantangan iklim usaha? Perlu ada akselerasi dengan suatu program yang tepat yang melibatkan dunia usaha dalam proses pendidikan misalnya,' kata Anggawira.
-
Bagaimana Kemenkop UKM mendorong UMKM untuk terlibat dalam rantai nilai global? Untuk itu Hanung mendorong agar pelaku UMKM memanfaatkan kebijakan yang mengatur agar Pemerintah Pusat/Daerah dan BUMN berbelanja produk UMKM.
-
Mengapa UMKM penting? UMKM tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain karena kemampuannya dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
-
Bagaimana Kementan meningkatkan produksi di Lamongan? 'Kita lakukan pompanisasi, kita lihat tadi, ini bisa mengairi 16.000 hektar sawah, total yang dilewati sekitar 22.000 hektar, dan itu bisa meningkatkan produksi di Kabupaten Lamongan hingga 380.000 ton,' rinci Amran.
Setelah teknologi, hal lainnya ialah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Maka dari itu, dibutuhkan peningkatan SDM sektor industri. "Kesiapan sebenarnya kalau teknologi tidak masalah, sangat siap. Tapi tantangan yang paling terbesar adalah sumber daya manusia. Ini yang harus kita siapkan," kata dia.
Karakteristik era industri 4.0 yang menurut dia begitu costumized alias membutuhkan produk yang sangat spesifik dan tertentu juga menjadi hal yang harus diwaspadai. "Kalau dulu yang dikejar industrial scale, sekarang yang dikejar adalah customize permintaan yang secara spesifik, baik di personal, area, dan sebagainya, dengan jumlah yang tidak besar, tapi bisa menekan biaya serendah mungkin. Ini tantangan industri 4.0 ke depan," jelasnya.
Adhi mengakui, saat ini jumlah pelaku industri mamin yang sudah mengaplikasikan industri 4.0 masih sedikit. "Kalau industri besar yang sudah mengarah ke 4.0 sudah 20 persen. Untuk menengah kecil malah 70 persen masih di 2.0. 30 persen baru menuju 3.0. Belum ada yang 4.0," ujarnya.
"Menurut saya kalau kita bisa menjadikan 50 persen dari industri ini menerapkan 4.0 di tahun depan, itu sudah bagus sekali," tandasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Selama masa pandemi pada 2020-2021 merupakan masa-masa sulit bagi industri minuman di dalam negeri.
Baca SelengkapnyaNamun demikian, tantangan ini bukan tak ada solusi. Teknologi dipercaya akan memperkuat industri makanan dan minuman dalam negeri.
Baca SelengkapnyaBahan baku makanan minuman masih didominasi oleh impor dari luar negeri, sehingga hal itu memberikan efek terhadap Industri tersebut.
Baca SelengkapnyaBPS mencatat jumlah kelas menengah pada tahun 2019 mencapai 57,33 juta orang.
Baca SelengkapnyaAda empat tantangan besar yang dihadapi dalam pengembangan industri fintech di Indonesia.
Baca SelengkapnyaPerusahaan dituntut untuk bertransformasi secara digital, termasuk bidang manufaktur.
Baca SelengkapnyaSektor manufaktur merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar dalam perekonomian Indonesia.
Baca SelengkapnyaMenkop Teten meminta agar UMKM bisa berevolusi agar memiliki daya saing.
Baca SelengkapnyaPAN menilai UMKM harus kreatif dan manfaatkan digital
Baca SelengkapnyaPemerintah menyiapkan anggaran Rp20 miliar untuk industri makanan dan minuman (mamin) di tahun 2024.
Baca SelengkapnyaPara pelaku usaha mengungkapkan bahwa ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi oleh industri ini.
Baca SelengkapnyaSubsektor tersebut antara lain teh, kopi, buah, coklat atau kakao, dan susu yang produksi dalam negerinya melimpah.
Baca Selengkapnya