Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Setelah Tak Jadi Presiden, Soeharto Menangis Lihat Rakyat Antre Beli Minyak

Setelah Tak Jadi Presiden, Soeharto Menangis Lihat Rakyat Antre Beli Minyak Soeharto dan Tutut saat di Cendana. ©2023 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Ada kisah menarik setelah Presiden Soeharto lengser. Rupanya penguasa Orde Baru ini masih memperhatikan perkembangan sosial ekonomi di Indonesia setelah reformasi.

Peristiwa itu terjadi tahun 2004. Pengusaha sekaligus keluarga Soeharto, Probosutedjo tengah menemani kakaknya menonton TV.

Saat itu terlihat rakyat berbaris panjang. Antre untuk beli minyak tanah.

"Pak Harto terus menyimak berita itu, kemudian berkata pelan. Kasihan rakyat kecil," kata Probosutedjo menirukan Soeharto.

Menurutnya, saat itu rona wajah mantan Pangkostrad itu terlihat sedih. Tak lama terlihat air matanya menetes.

Prihatin Lihat Rakyat

"Pak Harto menangis melihat penderitaan rakyat," kenang Probosutedjo dalam buku Pak Harto The Untold Stories.

Soeharto sempat bercakap-cakap soal keprihatinannya melihat rakyat yang untuk memasak saja kesulitan mendapatkan minyak.

"Kalau begini terus nanti akibatnya pohon-pohon akan ditebangi untuk memasak,' keluh Pak Harto.

Walau merasa prihatin terhadap kondisi masyarakat, rupanya Soeharto tidak pernah mengkritik presiden-presiden lainnya secara terbuka.

Letjen (Purn) Ary Mardjono, mantan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN di Era Orde Baru menilai hal itu bukan sikap Soeharto.

"Pak Harto tidak pernah mengkritik atau mengomentari kinerja para presiden, baik yang sebelumnya maupun sesudah masa kepemimpinannya. Beliau konsisten berpegang pada falsafah Jawa: Mikul dhuwur mendhem jero," tulis Ary dalam buku yang sama. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP