5 Fakta Menarik Masjid Sunan Muria di Kudus, Lokasinya Berada di Puncak Gunung

Merdeka.com - Masjid Sunan Muria berjarak 18 kilometer di sebelah utara Kota Kudus. Lokasinya beralamat di Desa Colo, Kecamatan Gawe, Kudus. Selain terdapat bangunan masjid, di tempat itu juga terdapat makam salah satu dari sembilan Wali Songo. Dialah Raden Umar Said yang terkenal dengan sebutan Sunan Muria.
Dibutuhkan perjuangan keras untuk mencapai Masjid Sunan Muria. Lokasi masjid itu berada di puncak Gunung Muria yang mempunyai ketinggian 1.600 mdpl. Ditambah lagi, untuk menuju ke sana wisatawan harus melalui jalan setapak yang menanjak.
Walau begitu, tempat wisata religi ini memiliki pesona tersendiri yang tak bisa terelakkan.
Berada di Puncak Gunung
©Daaruttauhid.org
Masjid Sunan Muria diperkirakan dibangun pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Lokasi masjid ini berada di puncak Gunung Muria yang memiliki ketinggian 1.600 mdpl.
Pada zaman dulu, Sunan Muria berdakwah menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Muria. Di kemudian hari, dia mendirikan pesantren dan sebuah masjid di puncak gunung itu.
Dikutip dari Islamic.center.or.id, nama “Muria” sendiri berasal dari nama sebuah bukit yang berada di dekat Yerusallem. Nama bukit itu “Moriah”. Konon, Nabi Daud bersama putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah rumah ibadah di puncak Bukit Moriah.
Cara Menuju Masjid
©Islamic-center.or.id
Ketika menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan tidak bisa langsung tiba di halaman masjid. Ketika tiba di halaman parkir, wisatawan harus melanjutkan perjalanan dengan menaiki 430 anak tangga.
Sepanjang perjalanan dengan berjalan kaki menuju masjid, wisatawan akan menjumpai kios-kios pedagang yang banyak menjajakan dagangan yang sangat variatif. Mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi. Selain itu wisatawan bisa menikmati perjalanan sembari menghirup udara pegunungan yang segar.
Sedangkan cara yang kedua adalah dengan menggunakan ojek. Cara ini bisa digunakan apabila wisatawan lelah mendaki. Pos ojek di sana tak hanya bisa dijumpai pada awal titik pendakian, namun juga di beberapa titik. Hal ini membuat wisatawan tak perlu khawatir tak bisa mencapai masjid karena kelelahan di tengah jalan.
Bentuk Bangunan Sudah Tidak Asli
©Kemdikbud.go.id
Dilansir dari Daaruttauhid.org, secara arsitektur Masjid Sunan Muria sudah banyak berubah bentuk dari aslinya karena mengalami beberapa kali pemugaran. Hanya beberapa bagian saja yang masih menyisakan peninggalan dari Sunan Muria di antaranya pondasi masjid, umpak batu, tiang atau pilar penyangga masjid, dan mihrab yang menjorok ke dalam.
Selain itu ada pula bedug yang sudah berumur lebih dari satu abad. Bedug itu dibuat dari kayu jati pada tahun 1884 M. Di atas bedug ini terdapat ukiran naga dan ayam jantan yang menyimbolkan perpaduan budaya antara Jawa dan Tionghoa.
Dibagi Menjadi Dua
©Traveltodayindonesia.com
Masjid Sunan Muria Kudus dibagi menjadi dua, yaitu masjid yang khusus untuk pria dan masjid yang khusus untuk wanita. Di dalam masjid untuk kaum pria inilah terdapat berbagai peninggalan dari zaman Sunan Muria.
Sementara itu masjid khusus wanita merupakan hasil renovasi di tahun 1976 yang peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH Tingkat II Kudus pada tahun 1978.
Makam Sunan Muria
©Kemdikbud.go.id
Tak jauh dari Masjid Sunan Muria, terdapat pula makam Sunan Muria. Pada tiap Kamis Legi dan Jum’at Pahing, banyak orang berziarah ke sana. Ketika memasuki pintu gerbang makam, wisatawan akan dihadapkan pada pelataran yang dipenuhi 17 batu nisan. Menurut juru kunci makam, nisan itu merupakan makam para prajurit dan punggawa kraton.
Sementara itu makam Sunan Muria berada di sebuah bangunan cungkup beratap sirap dua tingkat. Di sebelah timur makam itu terdapat nisan yang konon menjadi makam putri Sunan Muria, Raden Ayu Nasiki.
Sementara di sebelah barat dinding belakang masjid terdapat makam Panembahan Pengulu Jogodipo yang merupakan putra sulung dari Sunan Muria. (mdk/shr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya