Merinding, Kisah TNI AD Putra Asli Timor Leste Memilih Jadi WNI 'Pas Lagi Ultah'
Seorang prajurit berdarah Timor Leste bagikan kisahnya saat pilih setia NKRI di hari ulang tahun.

Dikutip dari YouTube AL VIGEST, Kamis (20/2) prajurit bernama Prajurit Kepala (Praka) Xisto Jose Ameral menceritakan bagaimana perjuangannya dan keluarga untuk bisa tetap setia menjadi bagian dari NKRI saat konflik Timor Timur pada tahun 1999 lalu.
Prajurit yang bergabung sebagai TNI pada tahun 2016 tersebut menjelaskan betapa beratnya saat harus pindah dari tanah kelahiran menuju Kupang karena memilih setia dengan Indonesia.
Terlebih keluarga besarnya diketahui memiliki darah militer terutama dari sang ayah.

Cita-cita Jadi TNI
Praka Xisto mengaku bahwa menjadi seorang tentara merupakan cita-citanya sejak kecil.
"Memang cita-cita dari kecil Bang karena bapak juga tentara. bapak dari Apa itu tentara pas makanya kita pindah ke Indonesia karena bapak tentara juga makanya pas 99 kerusuhan. Bapak dari mil milsus," jelasnya.
Sang ayah pun tidak semudah yang dibayangkan untuk masuk menjadi tentara. Menurut ceritanya, ayahnya harus memulai dari awal sebagai Wanra dan sudah dibekali persenjataan.
"Bapak itu dulu masuk tentara itu dari Wanra dulu. Jadi Prada itu tapi sudah ada kakak saya. udah ada cita-cita dari kecil karena memang sudah dari kecil itu sering ikut Bapak kan ikut bapak apel jaga malam kayak ngebok-ngbok itu saya sering ikut bang," tambahnya.
Keinginanya menjadi seorang prajurit TNI semakin menguat tatkala ia sering diajak ayahnya tidur di asrama dan ikut dalam kegiatan sang ayah.
"Tinggalnya di diasama mana di Bapak kan dulu dinasnya di masih aktif Sudah pensiun Bang 2013. Sebenarnya pensiunnya itu 2008 2008 cuma waktu itu dapat perubahan lagi tambahan 5 tahun jadi pensiunnya 2013 sekarang sudah sudah sempat MPP sudah MPP masa persiapan pensiun sudah jalan 8 bulan tiba-tiba keluar aturan baru tambah 5 tahun jadi masuk dinas lagi sampai 2013 baru pensiun," jelasnya.
Keluarga Besar Masih di Timor Leste
Sang ayah sudah bertugas di militer sejak tahun 1992 sebelum kerusuhan melanda. Tak heran jika masih ada keluarga besarnya yang tinggal di Timor Leste hingga sekarang.
"Dulu masih di Timor sudah jadi tentara 92 waktu belum kerusuhan."
"Bapak itu ada empat bersaudara satu perempuan tiga laki-laki bapak yang anak pertama. Adik-adiknya semua di Timor Leste sampai sekarang. Mama juga sama mama anak bungsu kakaknya delapan orang eh tujuh orang semua di sana," jelasnya.
Meski demikian, tidak mudah untuknya bisa bertemu dengan keluarga besarnya di Timor Leste. Apalagi ada aturan yang membuatnya dilarang ke Timor Leste selagi masih menjadi prajurit TNI.
"Iya tidak bisa karena kita sekarang sudah ini kan kalau anggota dilarang ke sana katanya. kalau sipil boleh. Ya palingmereka yang dari sana ke sini bisa," sambungnya.

Putuskan Jadi WNI Saat Hari Ulang Tahun
Xisto mengatakan bahwa keluarganya memutuskan menjadi WNI tepat di hari ulang tahun ke-4nya yang kala itu sedang digelar jajak pendapat.
Keluarganya mendukung tetap menjadi bagian dari NKRI dan tidak menjadi bagian dari pendukung referendum.
"Saya umur pas genap 4 tahun pas 4 tahun jadi waktu itu saya pas hari ulang tahun saya Kita kan keluar jajak pendapat itu kan dia apanya itu tanggal 30 Agustus Apa itu pas referendum yang pemilihan Apa itu apa antara apa namanya jajak pendapat jadi masyarakat Timor Leste itu dikasih pilihan, kamu mau merdeka atau atau mau tetap Indonesia," kata Praka Xisto.
Karena memilih setia, alhasil Xisto dan keluarganya pergi ke luar Timor Leste dan memilih tinggal di Kupang, NTT.
"Jadi waktu itu referendumnya itu tanggal 30 Agustus, jadi waktu itu setelah referendum kan dikasih pilihan kamu mau Timur leste ya mau merdeka sebagai warga negara Timor Leste atau mau tetap bertahan dengan Indonesia tapi kamu harus keluar dari Timor Leste," tambahnya.
Jiwa nasionalisme tinggi yang dimiliki sang ayah membuat Xisto dan keluarganya harus angkat kaki dari Timor Leste dan memilih ikut Indonesia.
"Jadi waktu itu karena bapak juga kan mungkin anggota juga kan TNI jiwa merah putihnya masih kuat jadi dia memilih untuk ikut Indonesia jadi ya mau Tidak mau dengan berat hati harus meninggalkan Timor leste," tandasnya.
Perjuangan tak berakhir saat Xisto dan keluarganya harus meninggalkan Timor Leste menggunakan truk yang mengantarkannya hingga ke pelabuhan menuju Kupang.
"Kita pakai di apa dijemput sama mobil TR truk Fuso tentara pun zaman dulu bangar dimuat itu pakai dibawa ke pelabuhan Jadi sampai sana saya pun kita masih kecil tidak tahu apa-apa tahunnya ya sudah ikut saja langsung menuju kita menuju ke kapal naik sampai di apa di kapal kita naik selama 4 hari kita perjalanan dari Timor Leste sampai diKupang itu 4 hari kali iya," jelasnya.