Kisah Bandara Halim Perdanakusuma dan catatan rekor dunia

Merdeka.com - Beberapa bulan terakhir, perhatian pemerintah, masyarakat dan pelaku jasa penerbangan terfokus pada rencana penggunaan Bandara Halim Perdanakusuma untuk melayani penerbangan komersial.
Rencana yang sudah digulirkan sejak 2012 lalu akhirnya mulai direalisasikan hari ini, Jumat (9/1). Pesawat milik maskapai penerbangan Citilink menjadi pesawat komersial pertama yang lepas landas dari bandara yang milik TNI AU tersebut.
Usia Bandara Halim Perdanakusuma jauh lebih tua dari usia republik ini. Halim yang dulunya bernama Bandara Tjililitan juga punya sejarah panjang dan kisah-kisah yang belum banyak diketahui orang. Indonesia patut berbangga lantaran bandara Halim juga menjadi bagian dari sejarah kedirgantaraan dunia.
Jika saat ini Citilink menjadi pesawat komersial pertama yang lepas landas dari Bandara Halim, dulu ada pesawat milik maskapai Belanda, Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij yang tercatat sebagai pesawat pertama yang terbang dari Bandara Tjililitan pada 1 November 1928 dengan rute dari Batavia ke Bandung dan Batavia-Semarang hingga Surabaya.
Setahun kemudian, nama Bandara Tjililitan mulai dikenal dunia. Pesawat milik maskapai Belanda KLM berperan mengangkat nama Bandara Tjililitan dalam catatan kedirgantaraan dunia. KLM membuat rekor dunia penerbangan lintas benua.
Dengan pesawat Fokker F.VII, KLM menempuh perjalanan udara dari Belanda menuju Batavia. Totalnya 14.500 km dan ditempuh dalam waktu 10 hari. Pesawat hanya berisi 4 orang penumpang. Sebelum mendarat mulus di Bandara Tjililitan pesawat Fokker F.VII harus singgah terlebih dahulu di beberapa negara.
Rekor itu tercipta saat Perang Dunia berkecamuk di Asia Pasifik. Saat itu, perjalanan dari Amsterdam menuju Batavia dalam waktu 10 hari merupakan catatan yang membuat dunia berdecak kagum. Rekor dunia tersebut terus mengalami kemajuan.
Lima tahun kemudian atau tepatnya 1934, waktu tempuh penerbangan dari Amsterdam menuju Batavia yang semula 10 hari berhasil dipersingkat hanya 5,5 hari. Tapi dengan pesawat jenis lain yakni Douglas DC-2 berpenumpang 14 orang.
Sambutan meriah dilakukan di Bandara Tjililitan sesaat setelah pesawat berjuluk Uiver ini mendarat dari etape terakhir Singapura-Batavia selama 3 jam 20 menit. Kapten pesawat Parmentier diwawancarai langsung oleh radio di Tjililitan dan disiarkan hingga Belanda. Itulah revolusi besar yang dicatat dalam sejarah penerbangan dunia.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya