Figurkan Mesias, kegiatan Gafatar di hotel selalu tertutup
Djati menanyakan, kalau maksudnya baik, tetapi mengapa harus disampaikan secara tertutup.
Kegiatan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) selalu tertutup dengan peserta anak-anak sampai orang tua. Mereka mempercayai dan memfigurkan seseorang sebagai mesias atau imam mahdi.
Budayawan Malang, Djathi Kusumo pernah berkesempatan hadir di sebuah acara yang digelar di sebuah hotel di sekitar Stasiun Gubeng Surabaya. Acara tersebut disiapkan untuk kepengurusan wilayah Jawa Timur.
"Saat kegiatan di Surabaya, ada sedikit tanya-tanya dan curiga. Karena waktu itu pintunya ditutup. Saat itu banyak yang hadir. Seluruh Jawa Timur sekitar 700 sampai 800 orang," kata Djathi Kusumo saat ditemui di padepokannya di Desa Biru, Gunungrejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Selasa (12/1).
Djati melihat seseorang yang disebut-sebut sebagai mesias dengan panggilan Yang Mulia. MC sempat memperkenalkan kepada para undangan yang hadir.
"Di situ memfigurkan seseorang, mungkin karena memfigurkan seseorang inilah yang menyakitkan keyakinan-keyakinan yang lain. Karena figur seseorang ini, pemimpinnya itu Mesias," katanya.
Figur Messias, kata Djati adalah orang yang dinanti oleh orang-orang Nasrani, sebagaimana dalam Islam juga menanti datangnya Imam Mahdi atau Sang Khaki di Hindu atau lebih mudahnya Satrio Piningit.
Djati menanyakan, kalau maksudnya baik, tetapi mengapa harus disampaikan secara tertutup. Saat itulah, dirinya mengacungkan tangan untuk menyampaikan pendapatnya.
"Semula saya diam saja di belakang. Saya dipaksa teman-teman yang duduk berdekatan untuk bicara. Saya juga ikut memanggil Yang Mulya," katanya.
Djati berpendapat, kalau yang disampaikan demi kebenaran, kenapa tidak terbuka saja. Kenapa harus tertutup rapat, padahal semakin terbuka semakin baik. Karena yang namanya kebenaran harus disebarkan.
"Kalau memang didasari perjuangan Tuhan Yesus, itu namanya kebenaran, Tuhan Yesus itu lho mati di tiang salib, kenapa kita tidak menyerukan. Maaf orang Jawa Timur sifatnya terbuka," kata Djati.
Saat itu hadirin mendukung pendapatnya dengan memberi tepuk tangan. Sepertinya memang sebelum-sebelumnya tidak ada yang berpendapat atau protes sedikitpun.
"Mereka itu saking taatnya kepada organisasi. Apa yang diucapkan pemimpinnya selalu diikuti, mungkin karena faktor ekonomi juga," katanya.