Tak Hanya Indonesia, Ini Negara yang Punya Tradisi Mudik dan Unik saat Lebaran
Mudik Lebaran bukan hanya tradisi Indonesia! Temukan keunikan tradisi pulang kampung di berbagai negara, dari Pakistan hingga Australia.

Idul Fitri atau Lebaran, hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan, identik dengan tradisi mudik atau pulang kampung. Di Indonesia, tradisi ini sudah mendarah daging, namun tahukah Anda bahwa negara lain juga memiliki tradisi serupa? Perjalanan jauh untuk berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di berbagai belahan dunia.
Artikel ini akan mengupas beberapa negara yang juga memiliki tradisi mudik Lebaran, menunjukkan betapa universalnya semangat kebersamaan keluarga dalam merayakan hari kemenangan ini. Dari Pakistan hingga Australia, kita akan melihat bagaimana tradisi pulang kampung dirayakan dengan berbagai keunikan dan kekhasan budaya masing-masing negara.
Selain Indonesia, beberapa negara lain juga memiliki tradisi mudik yang tak kalah meriah. Tradisi ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan keluarga dan pentingnya berkumpul bersama di hari kemenangan setelah berpuasa Ramadan. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai tradisi mudik Lebaran di berbagai negara.
Tradisi Mudik Lebaran di Berbagai Negara
Mudik atau pulang kampung saat Lebaran merupakan tradisi yang sangat kental di berbagai negara, terutama di wilayah dengan populasi Muslim yang besar. Mudik menjadi momen istimewa di mana keluarga yang tinggal di kota-kota besar kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama orang tercinta. Tradisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain seperti Pakistan dan Malaysia, serta negara dengan minoritas Muslim seperti Australia yang tetap menunjukkan inklusivitas tinggi terhadap perayaan Idul Fitri.
1. Pakistan – Perjalanan Panjang Menuju Kampung Halaman
Di Pakistan, mudik saat Lebaran merupakan tradisi yang sangat kuat. Penduduk yang bekerja atau menetap di kota-kota besar seperti Karachi, Lahore, dan Islamabad akan berbondong-bondong melakukan perjalanan panjang menuju desa atau kota asal mereka untuk berkumpul dengan keluarga besar.
Perjalanan mudik di Pakistan sering kali padat dan penuh tantangan, mirip dengan yang terjadi di Indonesia. Stasiun bus, terminal kereta api, dan bandara selalu dipenuhi pemudik yang ingin pulang kampung. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk bisa menikmati momen kebersamaan dengan keluarga saat Lebaran.
2. Malaysia – Tradisi Balik Kampung yang Kental
Di Malaysia, tradisi mudik dikenal dengan sebutan "Balik Kampung". Keluarga yang tinggal di kota-kota besar seperti Kuala Lumpur dan Penang akan kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara.
Seperti di Indonesia, persiapan mudik di Malaysia dilakukan dengan sangat matang. Pemerintah bahkan menyediakan libur nasional dan layanan transportasi khusus untuk mendukung kelancaran perjalanan para pemudik.
Jalanan di Malaysia biasanya mulai dipadati oleh kendaraan beberapa hari sebelum Lebaran, dan suasana haru serta bahagia selalu terasa di rumah-rumah penduduk yang akhirnya bisa berkumpul bersama keluarga besar.
Balik Kampung adalah momen yang paling kami nantikan setiap tahun. Ini bukan hanya sekadar perjalanan pulang, tetapi juga tentang mempererat tali silaturahmi dengan keluarga dan mengenang masa kecil.

3. Indonesia – Mudik Akbar yang Penuh Makna
Indonesia dikenal sebagai negara dengan tradisi mudik terbesar di dunia. Setiap tahun, jutaan orang melakukan perjalanan dari kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan menuju kampung halaman mereka di berbagai daerah.
Mudik di Indonesia tidak hanya melibatkan kendaraan pribadi, tetapi juga transportasi umum seperti kereta api, bus, kapal laut, dan pesawat terbang. Pemerintah biasanya mengantisipasi lonjakan pemudik dengan menyediakan program mudik gratis dan posko mudik di berbagai titik jalur perjalanan.
Mudik di Indonesia memiliki makna mendalam, bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga cara untuk mempererat hubungan keluarga dan mengenang akar budaya. Lebaran di kampung halaman selalu lebih bermakna. Tidak ada yang bisa menggantikan momen berkumpul dengan keluarga setelah lama merantau.
4. Australia – Toleransi Tinggi terhadap Tradisi Lebaran
Meskipun bukan negara mayoritas Muslim, Australia menunjukkan toleransi yang tinggi terhadap perayaan Idul Fitri. Banyak perusahaan di Australia yang memberikan cuti kepada karyawan Muslim agar mereka dapat merayakan Lebaran bersama keluarga.
Di beberapa kota besar seperti Sydney dan Melbourne, jalanan tertentu bahkan ditutup sementara untuk memberikan ruang bagi umat Muslim melaksanakan shalat Id berjamaah di tempat terbuka. Hal ini mencerminkan tingginya nilai inklusivitas dan penghormatan terhadap keberagaman budaya serta agama di Australia.

5. Arab Saudi – Mudik Sambil Beribadah
Di Arab Saudi, mudik saat Lebaran sering kali bertepatan dengan ibadah umrah bagi umat Muslim. Banyak warga lokal yang kembali ke kampung halaman mereka, sementara umat Muslim dari berbagai negara datang ke Makkah dan Madinah untuk beribadah.
Di kota-kota besar seperti Riyadh dan Jeddah, arus mudik juga cukup tinggi karena banyak penduduk yang kembali ke kota asal mereka untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Selain itu, suasana di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi lebih semarak dengan kehadiran jutaan umat Muslim dari berbagai belahan dunia.
Keunikan Tradisi Lebaran di Berbagai Negara
Lebaran atau Idul Fitri selalu menjadi momen spesial bagi umat Muslim di seluruh dunia. Meskipun memiliki makna yang sama, yaitu merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, setiap negara memiliki tradisi uniknya masing-masing dalam menyambut hari besar ini. Dari pesta permen di Turki hingga adu telur di Afganistan, berikut adalah beberapa tradisi unik Lebaran yang dilakukan di berbagai belahan dunia.
1. Turki – Şeker Bayramı, Pesta Permen untuk Anak-anak

Di Turki, Lebaran dikenal sebagai ‘Şeker Bayramı’, yang berarti “Pesta Permen”. Tradisi ini mirip dengan Halloween di Amerika Serikat, di mana anak-anak akan berkeliling ke rumah-rumah untuk meminta permen, cokelat, dan manisan.
Bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga ikut meramaikan suasana dengan saling mengunjungi dan berbagi kebahagiaan. Saat Lebaran, masyarakat Turki mengenakan pakaian terbaik mereka dan berkumpul bersama keluarga untuk menikmati berbagai hidangan khas seperti baklava dan lokum (Turkish delight). Şeker Bayramı adalah waktu terbaik untuk berkumpul bersama keluarga dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak.
2. Afganistan – Tokhm-Jangi, Adu Telur yang Seru
Di Afganistan, ada tradisi unik bernama ‘Tokhm-Jangi’, yaitu adu telur rebus. Permainan ini diikuti oleh semua kalangan usia, dari anak-anak hingga orang tua, yang saling beradu telur untuk melihat mana yang paling kuat dan tidak pecah.
Suasana penuh persaingan tetapi tetap meriah dan menyenangkan. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan semangat kompetisi sehat di antara masyarakat Afganistan.
Tokhm-Jangi adalah bagian dari Lebaran yang selalu dinantikan setiap tahun. Ini bukan sekadar permainan, tetapi juga cara untuk mempererat hubungan dengan keluarga dan teman.
3. India – Chand Raat, Malam Perayaan dengan Henna dan Biryani
Di India, malam sebelum Lebaran dikenal dengan “Chand Raat”, yang berarti “Malam Bulan”. Pada malam ini, wanita muslim menghiasi tangan mereka dengan henna dan mengenakan pakaian serta perhiasan yang meriah.
Selain itu, masyarakat India juga merayakan Lebaran dengan menyajikan hidangan khas seperti biryani kambing dan sheer khurma, sejenis makanan manis berbahan dasar susu, kurma, dan bihun. Chand Raat adalah waktu yang sangat spesial bagi warga di India. Keluarga berkumpul, berbagi kebahagiaan, dan bersiap menyambut hari kemenangan.
4. Arab Saudi – Pawai Musik dan Pertunjukan Seni

Di Arab Saudi, perayaan Lebaran ditandai dengan berbagai pertunjukan seni yang meriah. Pawai musik, tarian tradisional, dan pertunjukan teater menjadi bagian dari acara yang diadakan di berbagai kota besar, seperti Riyadh dan Jeddah.
Selain itu, masyarakat Arab Saudi juga memiliki tradisi membagikan uang Lebaran kepada anak-anak atau yang dikenal dengan sebutan “Eidiyah”.
Perayaan Lebaran di Arab Saudi sangat semarak. Warga merayakannya dengan penuh sukacita, menikmati pertunjukan seni, dan tentu saja berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman-teman.
5. Cina – Ziarah ke Makam Sayyid Ajjal Shams Al-Din Omar
Masyarakat Muslim di Cina memiliki tradisi unik saat Lebaran, yaitu mengunjungi makam Sayyid Ajjal Shams Al-Din Omar, seorang tokoh Islam berpengaruh yang menyebarkan agama Islam di Cina.
Selain itu, mereka juga mengenakan pakaian khas: pria mengenakan jas dan kopiah berwarna-warni, sementara wanita mengenakan baju hangat dan kerudung senada.
Bagi warga muslim Cina, Lebaran adalah waktu untuk berdoa dan berkumpul bersama keluarga. Mereka juga melestarikan tradisi mengunjungi makam tokoh-tokoh Islam yang berjasa dalam sejarah kami.
6. Islandia – Lebaran di Tengah Minoritas Muslim
Meskipun jumlah Muslim di Islandia sangat sedikit, perayaan Lebaran tetap berlangsung dengan penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Komunitas Muslim di sana biasanya berkumpul di masjid Reykjavik untuk melaksanakan shalat Id.
Setelah itu, mereka saling berbagi makanan khas dari berbagai negara, bercengkrama, bertukar hadiah, dan mempererat tali silaturahmi.
7. Amerika Serikat – Silaturahmi dan Ucapan Lebaran Virtual

Di Amerika Serikat, di mana umat Muslim juga merupakan minoritas, perayaan Lebaran dilakukan dengan shalat Id di masjid, saling berpelukan, dan meminta maaf.
Selain itu, banyak keluarga Muslim yang menghubungi sanak saudara mereka melalui pesan atau panggilan video, mengingat banyak dari mereka yang tinggal berjauhan dengan keluarga besarnya.
Tradisi Lebaran di berbagai negara menunjukkan betapa universalnya semangat kebersamaan dan silaturahmi dalam merayakan Idul Fitri. Mudik, sebagai salah satu tradisi utama, menunjukkan betapa pentingnya berkumpul bersama keluarga besar di hari kemenangan ini, meski dengan berbagai keunikan dan kekhasan budaya masing-masing negara.