Jenis Perilaku Agresif pada Anak yang Perlu Dipahami Orangtua
Perilaku agresif yang muncul pada anak bisa berupa berbagai jenis dan bentuk yang berbeda.

Perilaku agresif pada anak merupakan hal yang wajar terjadi dalam fase perkembangan mereka. Sebagai orangtua, penting untuk memahami bahwa agresi bukan semata-mata perilaku yang harus dihukum, melainkan sinyal yang mengindikasikan adanya perasaan atau kondisi tertentu yang memerlukan perhatian.
Dengan mengenali berbagai jenis perilaku agresif yang dapat muncul, orangtua dapat lebih bijaksana dalam menghadapi dan mengelola perilaku tersebut untuk menciptakan lingkungan rumah yang lebih harmonis.
Dilansir dari Mom Junction, berikut sejumlah jenis perilaku agresif pada anak.
1. Agresi Tidak Sengaja
Agresi jenis ini biasanya terjadi tanpa niat untuk menyakiti orang lain. Misalnya, seorang anak yang tanpa sengaja menampar temannya saat bermain atau menginjak kaki temannya ketika sedang berlarian. Jenis agresi ini sering kali dianggap sebagai kecelakaan dan bukan tindakan yang disengaja untuk menyakiti.
2. Agresi Ekspresif
Pada jenis agresi ini, anak bertindak agresif bukan untuk melukai orang lain, tetapi untuk meredakan perasaan mereka sendiri atau karena merasa senang melakukan hal tersebut. Contohnya, anak yang senang merusak mainan saudaranya tanpa menyadari bahwa perilaku tersebut dapat menyakiti hati saudaranya. Meskipun mereka tidak memiliki niat buruk, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak agar memahami dampak dari tindakan mereka.

3. Agresi Instrumen
Agresi ini muncul ketika anak menunjukkan perilaku agresif untuk mendapatkan atau mengendalikan suatu benda, seperti berebut mainan dengan temannya. Biasanya, anak-anak di usia dua hingga enam tahun lebih sering menunjukkan agresi ini karena mereka belum sepenuhnya memahami pentingnya berbagi. Mereka lebih cenderung berfokus pada keinginan mereka dan kurang peka terhadap perasaan orang lain.
4. Agresi Bermusuhan
Jenis agresi ini adalah yang paling ekstrem dan sering kali diarahkan pada seseorang dengan tujuan untuk menyakiti baik secara fisik maupun psikologis. Anak-anak yang terlibat dalam perundungan (bullying) sering menunjukkan agresi jenis ini. Mereka mungkin menyerang temannya dengan kata-kata kasar, memukul, atau mengabaikan temannya untuk mendapatkan kepuasan. Agresi bermusuhan sering kali dipicu oleh perasaan dibohongi atau ingin membalas dendam.
Faktor Penyebab Agresi pada Anak
Agresi pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri anak maupun lingkungan sekitarnya.
1. Faktor Pranatal
Penelitian menunjukkan bahwa paparan alkohol atau merokok ibu selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin, yang berpotensi meningkatkan perilaku agresif pada anak di kemudian hari. Selain itu, kekerasan yang dialami ibu selama kehamilan juga dapat berdampak pada temperament anak yang lebih mudah marah dan agresif.
2. Faktor Keluarga
Lingkungan keluarga yang penuh konflik dan kekerasan dapat menumbuhkan perilaku agresif pada anak. Anak yang sering menyaksikan pertengkaran atau kekerasan dalam rumah tangga lebih rentan untuk meniru perilaku tersebut. Selain itu, orangtua dengan masalah kesehatan mental, impulsif, atau kecanduan zat dapat mengabaikan pengasuhan yang sehat, yang berujung pada perkembangan perilaku agresif pada anak.
3. Faktor Sosial
Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang penuh kekerasan atau memiliki teman sebaya yang juga agresif cenderung mengadopsi perilaku tersebut. Pengaruh lingkungan sosial yang tidak sehat dapat memperburuk kecenderungan agresif anak.
4. Paparan Kekerasan
Paparan terhadap kekerasan, baik secara langsung maupun melalui media, dapat meningkatkan kemungkinan anak meniru perilaku tersebut. Anak yang menyaksikan kekerasan dalam kehidupan nyata atau menonton adegan kekerasan di televisi atau video game dapat menirunya dalam kehidupan mereka.

Risiko Agresi pada Anak
Anak yang menunjukkan perilaku agresif secara berkelanjutan berisiko mengalami berbagai masalah, baik dalam aspek sosial, emosional, maupun akademis. Beberapa risiko yang mungkin dihadapi antara lain:
Cedera pada diri sendiri atau orang lain.
Kerusakan pada properti.
Hubungan keluarga yang buruk.
Isolasi sosial dan kesulitan dalam berteman.
Masalah di sekolah.
Risiko meningkatnya penggunaan zat terlarang.
Cara Menghadapi Anak yang Agresif
Sebagai orangtua, penting untuk mengetahui cara yang tepat dalam menangani perilaku agresif anak. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan antara lain:
1. Mengajarkan Anak untuk Mengungkapkan Perasaan dengan Kata-Kata
Alih-alih menggunakan kekerasan fisik, ajarkan anak untuk berbicara mengenai perasaan mereka. Misalnya, saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda frustrasi, kita bisa mengingatkan mereka untuk berkata, "Aku tahu kamu merasa kesal." Hal ini akan membantu anak untuk mengelola emosi mereka dengan cara yang lebih sehat.
2. Menjadi Teladan
Anak-anak belajar banyak dari apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menjadi teladan yang baik dengan menunjukkan cara mengelola emosi secara positif, meskipun dalam situasi yang membuat marah.
3. Memberikan Pujian
Memberikan pujian ketika anak menyelesaikan masalah tanpa menjadi agresif akan memperkuat perilaku positif tersebut. Pujian akan membuat anak merasa dihargai dan termotivasi untuk terus bertindak baik.
4. Tidak Menyerah pada Tantrum
Jika anak sering tantrum, jangan langsung memenuhi keinginan mereka untuk menghindari lebih banyak perilaku agresif. Sebaliknya, ajarkan mereka untuk mengungkapkan keinginan dengan cara yang lebih positif dan sehat.
5. Menetapkan Aturan yang Jelas
Menetapkan jadwal harian dan aturan yang jelas dapat membantu mengurangi perilaku agresif. Anak akan tahu kapan waktunya bermain, belajar, atau beristirahat, sehingga mengurangi rasa frustrasi yang sering memicu agresi.
Menghadapi perilaku agresif pada anak memang tidak mudah, tetapi dengan pendekatan yang tepat, orangtua dapat membantu anak mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Mengenali jenis-jenis perilaku agresif dan memahami penyebabnya adalah langkah pertama yang penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih damai dan mendukung perkembangan sosial serta emosional anak. Ingatlah, perubahan perilaku memerlukan waktu dan kesabaran.