Membaca Kepribadian Berdasar Urutan Kelahiran: Perbedaan Anak Sulung dan Bungsu
Urutan kelahiran memengaruhi kepribadian; anak sulung sering perfeksionis, sementara bungsu lebih santai, tetapi ini bukan aturan mutlak.

Pernahkah Anda memperhatikan perbedaan kepribadian yang cukup mencolok antara saudara kandung? Meskipun berbagi gen dan lingkungan yang sama, mereka seringkali memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Salah satu faktor yang dipercaya memengaruhi hal ini adalah urutan kelahiran. Teori ini, yang dipopulerkan oleh Alfred Adler, menunjukkan bahwa posisi seseorang dalam keluarga (sulung, tengah, bungsu, atau tunggal) dapat membentuk kepribadian dan interaksi sosialnya. Namun, penting diingat bahwa ini hanyalah teori, dan faktor lain seperti lingkungan dan pengalaman hidup juga berperan penting.
Psikolog Kevin Leman, Ph.D., penulis buku "The Birth Order Book: Why You Are the Way You Are", telah mempelajari urutan kelahiran sejak 1967. Ia menyatakan bahwa "Salah satu faktor utama yang mempengaruhi hal ini adalah bagaimana orang tua memperlakukan anak mereka, tergantung apakah mereka anak tertua, tengah, bungsu, atau satu-satunya." Pendapat senada disampaikan Meri Wallace, terapis anak dan keluarga berpengalaman, yang menambahkan bahwa "Setiap posisi memiliki tantangan unik." Jadi, bagaimana urutan kelahiran memengaruhi kepribadian anak sulung dan bungsu?
Meskipun teori ini tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, pengamatan empiris menunjukkan adanya kecenderungan tertentu. Mari kita telusuri lebih dalam perbedaan karakteristik yang sering dikaitkan dengan anak sulung dan bungsu.
Anak Sulung: Tanggung Jawab dan Perfeksionisme
Anak sulung seringkali diasuh dengan penuh perhatian dan aturan yang ketat. Orang tua cenderung lebih cemas dan detail dalam pengasuhan anak pertama mereka. Hal ini dapat membentuk kepribadian perfeksionis, selalu berusaha menyenangkan orang tua. "Anak pertama cenderung menikmati perhatian penuh dari orang tua mereka, yang mungkin menjelaskan mengapa mereka sering bertindak seperti miniatur orang dewasa," kata Dr. Ann-Louise T. Lockhart, seorang psikolog anak.
Mereka sering digambarkan sebagai bertanggung jawab, teliti, terstruktur, berhati-hati, dan berprestasi. Dr. Frank Farley menjelaskan bahwa "Perhatian tak terbagi ini mungkin berkaitan dengan mengapa anak pertama cenderung menjadi pencapai yang luar biasa." Mereka seringkali memiliki skor IQ lebih tinggi dan pendidikan yang lebih baik, serta pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan saudara-saudaranya.
Namun, kesuksesan ini seringkali diiringi tekanan. Anak sulung cenderung memiliki kepribadian tipe A, kaku, dan enggan keluar dari zona nyaman karena takut membuat kesalahan. Mereka menetapkan standar tinggi, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, yang dapat menyebabkan beban dan kesulitan menerima kegagalan.

Anak Bungsu: Kreativitas dan Kebebasan
Berbeda dengan anak sulung, anak bungsu seringkali dibesarkan dengan lebih santai. Orang tua telah memiliki pengalaman mengasuh anak sebelumnya, sehingga cenderung lebih rileks dan kurang ketat dalam menerapkan aturan. Hal ini membuat anak bungsu lebih bebas bereksplorasi dan mengembangkan kepribadian yang lebih santai dan spontan.
Mereka sering digambarkan sebagai menyenangkan, ramah, dan mudah bergaul. Karena orang tua tidak terlalu mengawasi, mereka seringkali mengembangkan cara-cara unik untuk menarik perhatian. "Mereka cenderung menjadi penghibur alami dengan kepribadian sosial yang ramah," kata Dr. Leman. Banyak aktor dan komedian terkenal merupakan anak bungsu dalam keluarga mereka.
Namun, anak bungsu juga dapat memiliki kekurangan. Mereka mungkin kurang bertanggung jawab atau bergantung pada orang lain. "Tidak ada pencapaian mereka yang tampak orisinal. Kakak-kakaknya sudah belajar berbicara, membaca, dan naik sepeda. Jadi, orang tua bereaksi dengan lebih sedikit kegembiraan spontan terhadap pencapaian mereka," jelas Dr. Leman. Mereka juga bisa merasa pencapaiannya kurang dihargai.
Meskipun urutan kelahiran sering dikaitkan dengan kecenderungan kepribadian tertentu, penting untuk diingat bahwa ini bukanlah aturan mutlak. Setiap individu unik dan kompleks, dan faktor-faktor lain seperti lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup juga sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang. Teori ini sebaiknya dilihat sebagai kerangka berpikir yang menarik, bukan sebagai prediksi yang pasti.