Tato dan Kesehatan: Studi Kembar Menjawab Kekhawatiran tentang Kanker
Tato kian populer, tapi benarkah meningkatkan risiko kanker? Studi menunjukkan potensi risiko, terutama pada tato besar dan lama. Simak temuan terbarunya!

Tato telah menjadi bagian dari budaya dan ekspresi diri yang semakin populer di berbagai belahan dunia. Namun, di balik keindahan seni tubuh ini, muncul kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan, terutama risiko kanker. Berbagai penelitian telah mencoba menggali keterkaitan antara tato dan kanker, tetapi hasilnya masih menjadi perdebatan.
Salah satu penelitian terbaru yang menarik perhatian adalah studi terhadap pasangan kembar yang bertujuan untuk melihat apakah individu yang memiliki tato lebih rentan terhadap penyakit tertentu dibandingkan saudara kembar mereka yang tidak bertato. Studi ini menemukan bahwa ada kemungkinan peningkatan risiko kanker kulit dan limfoma pada mereka yang memiliki tato, terutama jika ukuran tato cukup besar dan telah berada di tubuh dalam jangka waktu lama.
Lantas, benarkah tato dapat meningkatkan risiko kanker? Apa faktor utama yang perlu diwaspadai? Artikel ini akan membahas temuan terbaru mengenai kaitan antara tato dan kesehatan, serta langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengurangi potensi risiko.

Temuan Studi Kembar: Apakah Tato Memicu Kanker?
Sebuah studi yang diterbitkan dalam BMC Public Health meneliti lebih dari 5.900 pasangan kembar di Denmark. Para peneliti menemukan bahwa individu yang memiliki tato lebih cenderung mengalami kanker kulit atau limfoma dibandingkan dengan saudara kembar mereka yang tidak memiliki tato. Penelitian ini menyoroti beberapa temuan penting:
- Tato berukuran besar lebih berisiko – Individu yang memiliki tato dengan ukuran lebih besar dari telapak tangan menunjukkan peningkatan risiko kanker kulit dibandingkan mereka yang memiliki tato kecil atau tidak bertato.
- Waktu pemakaian tato berpengaruh – Semakin lama seseorang memiliki tato di tubuhnya, semakin tinggi kemungkinan risiko yang dikaitkan dengan kanker kulit dan limfoma.
- Akumulasi tinta di kelenjar getah bening – Studi ini juga menemukan bahwa partikel tinta dari tato dapat bermigrasi dan mengendap di kelenjar getah bening, yang berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem imun.
Henrik Frederiksen, salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa tubuh mungkin menganggap partikel tinta sebagai zat asing yang perlu dilawan. Hal ini bisa menyebabkan peradangan kronis atau memicu respons imun yang tidak diinginkan.
Meskipun penelitian ini menemukan adanya keterkaitan, para ilmuwan menegaskan bahwa hubungan langsung antara tato dan kanker belum dapat dipastikan. Masih banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi risiko seseorang terkena kanker, seperti gaya hidup, paparan sinar UV, dan genetika.
Mengapa Tato Mungkin Berisiko?
Para ahli telah lama meneliti komposisi tinta tato dan dampaknya terhadap tubuh manusia. Beberapa jenis tinta diketahui mengandung bahan kimia yang berpotensi berbahaya:
- Tinta merah sering mengandung merkuri sulfida, yang dapat menyebabkan reaksi alergi dan peradangan kulit.
- Tinta hitam yang berbasis karbon diketahui dapat mengandung hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), yang diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC).
- Beberapa pigmen warna lain mengandung logam berat seperti timbal, arsenik, dan kadmium yang dapat beracun jika terserap dalam jumlah besar.
Selain itu, studi menemukan bahwa partikel tinta dapat bermigrasi dari area tato ke kelenjar getah bening, tempat mereka terakumulasi dalam jangka waktu panjang. Hal ini memicu pertanyaan mengenai potensi dampak jangka panjang terhadap sistem imun dan kemungkinan keterkaitannya dengan limfoma, yaitu jenis kanker yang menyerang kelenjar getah bening.
Dr. Ariel Ostad, seorang dokter kulit, menyarankan agar orang tidak membuat tato di atas tahi lalat atau area kulit yang rentan terhadap kanker. Hal ini penting karena perubahan pada tahi lalat bisa menjadi tanda awal melanoma, jenis kanker kulit yang paling agresif.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko?
Bagi mereka yang ingin tetap memiliki tato tanpa mengabaikan aspek kesehatan, ada beberapa langkah yang bisa diambil:
1. Memilih Studio Tato yang Aman dan Terpercaya
Pastikan studio tato yang dipilih memiliki standar kebersihan tinggi dan menggunakan tinta berkualitas yang telah diuji keamanannya. Studio yang profesional juga akan memberikan informasi mengenai bahan tinta yang digunakan dan potensi risikonya.
2. Menghindari Tato di Area Sensitif
Hindari membuat tato di atas tahi lalat, bekas luka, atau area yang sering terpapar sinar matahari secara langsung. Jika memungkinkan, konsultasikan dengan dokter kulit sebelum membuat tato.
3. Menggunakan Tabir Surya di Area Bertato
Paparan sinar UV dapat mempercepat degradasi tinta tato dan meningkatkan risiko kanker kulit. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan sunscreen dengan SPF tinggi di area bertato, terutama jika sering berada di bawah sinar matahari.
4. Memantau Perubahan pada Kulit
Jika ada perubahan mencurigakan seperti kemerahan, gatal, pembengkakan, atau perubahan bentuk pada area bertato, segera periksakan ke dokter. Gejala ini bisa menjadi tanda awal reaksi alergi atau kondisi yang lebih serius seperti kanker kulit.
5. Memilih Tinta Tato yang Lebih Aman
Jika memungkinkan, pilih tinta berbasis air atau tinta yang telah disertifikasi aman oleh lembaga kesehatan. Hindari tinta yang mengandung logam berat atau bahan kimia berbahaya.
Meskipun penelitian terbaru menunjukkan adanya kemungkinan peningkatan risiko kanker pada individu bertato, belum ada bukti yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa tato secara langsung menyebabkan kanker. Namun, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar akan komposisi tinta tato, potensi migrasi tinta ke kelenjar getah bening, serta dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.
Bagi yang ingin membuat tato, sebaiknya memilih studio yang terpercaya, menggunakan tinta yang aman, dan menghindari tato di area sensitif. Selain itu, perlindungan terhadap sinar UV dan pemantauan terhadap perubahan kulit tetap menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan kulit.
Pada akhirnya, tato adalah pilihan pribadi yang perlu dipertimbangkan dengan matang, tidak hanya dari segi estetika tetapi juga dari aspek kesehatan. Dengan kesadaran yang lebih tinggi mengenai potensi risiko, individu dapat tetap mengekspresikan diri melalui tato tanpa mengabaikan kesejahteraan tubuh mereka.