Koleksinya Berasal dari Barang Milik Warga, Ini Fakta Menarik Museum Pusaka Karo
Merdeka.com - Karo adalah salah satu kabupaten yang ada di Sumatra Utara. Daerah ini menyimpan keindahan alam yang memesona yang tak ada habisnya untuk dikagumi. Itulah mengapa Karo menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan.
Namun, daerah ini memiliki banyak daya tarik lain selain pesona alamnya, salah satunya adalah Museum Pusaka Karo. Museum yang terletak di Kota Berastagi ini menjadi bukti akan kekayaan budaya serta menjadi kiblat peradaban Suku Karo.
Berikut fakta-fakta menarik Museum Pusaka Karo:
Berasal dari Barang Milik Warga

Sumber: pariwisatasumut.net ©2020 Merdeka.com
Koleksi yang ada di Museum Pusaka Karo ini merupakan barang-barang milik puluhan warga yang dipinjamkan kepada museum untuk dipajang.
Uniknya, barang-barang ini bisa diambil kembali jika sewaktu-waktu pemiliknya membutuhkan. Ada sekitar 30 orang yang terdaftar menyerahkan barang-barangnya ke museum ini.
Bangunan Bekas Gereja

Sumber: pariwisatasumut.net ©2020 Merdeka.com
Dilansir dari pariwisatasumut, gedung museum ini dulunya adalah Gereja Katolik Santa Maria. Bangunan itu sengaja dihibahkan, setelah muncul ide seorang pastor dari Belanda.
Pastor ini tertarik untuk ikut melestarikan kebudayaan Indonesia setelah tinggal di Tanah Air selama lebih dari 40 tahun.
Punya Ratusan Koleksi
Meski tidak besar, Museum Pusaka Karo memiliki koleksi sebanyak 800 buah benda antik yang berasal dari tahun 1700-an.Ada berbagai alat pertanian, pertukangan dan alat berburu yang dipajang, yaitu amak mbelang dan amak cur (sejenis tikar yang dianyam) dan tempat menyimpan dan menumbuk sirih dengan aneka ragam dan ukiran.Ada juga padung-padung atau anting-anting yang biasa digunakan perempuan Karo yang sederhana. Tak ketinggalan, topeng-topeng raksasa untuk menari gundala-gundala, dan masih banyak lagi.
Terdapat Pustaka Lak-lak

Sumber: pariwisatasumut.net ©2020 Merdeka.com
Di museum ini juga bisa ditemui koleksi Pustaka Lak-lak. Ini adalah buku aksara kuno milik Suku Karo yangs terbuat dari kulit kayu beraksara Karo asli dan berisi mantra-mantra yang ditulis dengan tinta dari getah kayu. Pustaka Lak-lak ini terdiri dari banyak buku berukuran kecil, sedang hingga ukuran besar. Buku-buku ini dulu sempat dibawa Belanda dari Tanah Karo.
Tak Dipungut Biaya
Setiap wisatawan yang berkunjung ke museum ini tak dipungut bayaran alias gratis. Untuk merawat dan mengoperasikan museum, pengelola mengandalkan banyak bantuan donor dari berbagai kalangan di Tanah Air dan sumbangan sukarela dari pengunjung.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya