Cerita Guru Berusia 22 Tahun Bisa Hasilkan Rp800 Juta per Tahun
Dengan semangat tersebut, Aron bertekad untuk menciptakan perubahan yang berarti bagi masyarakat di berbagai belahan dunia.

Ilustrasi guru, wali kelas, mengajar. (Image by stockking on Freepik)
(©@ 2024 merdeka.com)Aron Olegnowicz-Cruz, seorang guru muda berusia 22 tahun, memulai kariernya dengan mengajar di sekolah dasar yang terletak di Columbus, Ohio.
Menurut laporan dari CNBC, meskipun saat ini dia berfokus pada pendidikan khusus, Aron berambisi untuk melanjutkan pendidikannya dan berkarier di sektor bisnis.
Dia terlibat dalam program Teach for America (TFA), sebuah organisasi nirlaba yang mendorong lulusan perguruan tinggi untuk mengajar di sekolah-sekolah yang membutuhkan di seluruh Amerika Serikat.
Dengan penghasilan tahunan sekitar USD 49.000, yang setara dengan kurang lebih Rp803 juta (berdasarkan estimasi kurs Rp16.399 per USD), Aron merasa pekerjaannya memberikan stabilitas finansial serta kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang sangat berharga.
Aron, yang merupakan lulusan dari Ohio State University, awalnya tidak memiliki niat untuk menjadi seorang guru.
Namun, setelah mengenal TFA melalui jaringan profesional Latino, dia melihat kesempatan ini sebagai langkah untuk mendukung rencananya meraih gelar MBA dan berkarier di bidang pengembangan ekonomi serta pendidikan global.
"Pekerjaan ini sangat memuaskan," ungkap Aron.
"Semua yang saya pelajari, mulai dari mengatur jadwal, menganalisis data, hingga berinteraksi dengan berbagai pihak akan menjadi modal besar untuk mencapai tujuan jangka panjang saya."
Setiap harinya, Aron tiba di sekolah pada pukul 7:30 pagi untuk mempersiapkan kelasnya. Siswa-siswanya, yang berusia antara 4 hingga 10 tahun, datang ke kelas untuk mendapatkan bimbingan khusus, seperti belajar membaca atau memahami pelajaran matematika.
Aron juga sering memberikan bantuan langsung kepada siswa di ruang kelas utama bersama dengan guru lainnya, memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Kegiatan Mengajar yang Padat
Hari Aron di sekolah biasanya berakhir pada pukul 6 sore setelah dia menyelesaikan berbagai tugas tambahan seperti merencanakan pelajaran, mengikuti rapat dengan guru, dan berkomunikasi dengan keluarga siswa.
Meskipun jadwalnya sangat padat, dia selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga demi menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.
Menjadi seorang pengajar tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala yang sering dihadapinya adalah keterlambatan siswa yang disebabkan oleh masalah transportasi.
Namun, Aron merasa sangat puas ketika ia berhasil membantu siswa-siswanya memahami materi pelajaran, terutama saat melakukan sesi membaca secara individu.
"Bagian terbaik dari pekerjaan ini adalah melihat siswa saya belajar membaca. Itu sangat memuaskan secara emosional."
Rencana Masa Depan
Setelah menyelesaikan tugasnya di TFA, Aron akan mendapatkan tunjangan pendidikan sebesar USD 13.000. Dia berencana memanfaatkan dana tersebut untuk melanjutkan studi di program MBA atau program master kepemimpinan di Tiongkok.
Selain itu, Aron juga telah menerima tawaran untuk magang di bidang konsultasi bisnis yang akan berlangsung di Washington, D.C. pada musim panas mendatang.
Dalam visi jangka panjangnya, dia bercita-cita untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi serta meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas di wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
Pengalaman pribadi Aron sebagai anak imigran dari Meksiko yang berhasil mengatasi berbagai rintangan untuk mendapatkan pendidikan dan menjadi seorang pemimpin sangat mempengaruhi pandangannya.
"Saya ingin memberikan dampak positif bagi orang lain, seperti yang dilakukan guru-guru saya dulu," tutupnya.
Dengan semangat tersebut, Aron bertekad untuk menciptakan perubahan yang berarti bagi masyarakat di berbagai belahan dunia.