Garuda Indonesia Rugi Rp1,15 Triliun Sepanjang 2024
Selain itu, pendapatan lain-lain bersih Garuda Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 77,39 persen.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kerugian bersih sebesar USD69,78 juta di sepanjang 2024. Kerugian ini setara Rp1,15 triliun dengan asumsi kurs Rp16.570 per USD.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan mengatakan, kerugian ini disebabkan oleh beban usaha yang mengalami kenaikan sebesar 18,32 persen. Salah satunya disebabkan oleh peningkatan beban pemeliharaan dan perbaikan pesawat, di mana pada tahun 2024 terdapat beberapa pesawat yang memasuki jadwal perawatan besar (overhaul).
Selain itu, pendapatan lain-lain bersih mengalami penurunan drastis hingga 77,39 persen. Hal ini dikarenakan pada tahun 2023 Garuda Indonesia mencatatkan sejumlah extra-ordinary item di antaranya gain from bonds retirement dan pendapatan restrukturisasi Anak Perusahaan.
"Sementara transaksi serupa tidak terjadi di tahun 2024. Lebih lanjut, pencatatan pembalikan impairment asset di tahun 2024 mencatatkan jumlah yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya," ujar Wamildan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/3).
Meski demikian, pendapatan penerbangan berjadwal mencatatkan peningkatan sebesar 15,32 persen menjadi USD2,74 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD2,38 miliar. Pendapatan penerbangan berjadwal tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan angkutan penumpang sebesar USD2,57 miliar (+13,95%) serta angkutan kargo dan dokumen senilai USD164,70 juta (+3,07%).
Sementara itu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal mencapai USD333,75 juta atau naik 15,87 persen dari tahun 2023. Pertumbuhan tersebut salah satunya dikontribusikan oleh angkutan charter yang mencatatkan lonjakan hingga 101,06 persen menjadi USD106,27 juta, dari tahun sebelumnya sebesar USD52,86 juta.
Aspek Pendapatan Lainnya
Adapun aspek pendapatan lainnya turut tumbuh signifikan sebesar 25,79 persen menjadi USD340,37 juta dibandingkan pada tahun sebelumnya yang ditunjang oleh kinerja anak usaha Garuda Indonesia. Di antaranya GMF AeroAsia yang menyumbang pendapatan pemeliharaan dan perbaikan pesawat sebesar USD102,71 juta, dengan peningkatan 18,54 persen secara YoY.
Di sepanjang tahun 2024, Garuda Indonesia secara grup berhasil mengangkut 23,67 juta penumpang atau naik 18,54 persen dibandingkan sepanjang tahun 2023 yang mengangkut 19,97 juta penumpang. Jumlah ini terdiri dari 11,39 juta penumpang Garuda Indonesia (mainbrand) serta 12,28 juta penumpang Citilink.
"Kenaikan jumlah penumpang Garuda Indonesia Group selaras dengan peningkatan frekuensi penerbangan sebesar 12,21 persen (YoY) dari tahun sebelumnya yang sebanyak 145,500 penerbangan menjadi 163,271 penerbangan," ujar Wamildan.
Seiring dengan kenaikan jumlah penumpang, Garuda Indonesia memproyeksikan akan memiliki 100 armada pesawat sampai dengan akhir tahun 2025.
"Optimalisasi alat produksi tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan aspek Good Corporate Governance (GCG), perkembangan demand pasar, kinerja Perusahaan, serta kondisi supply chain serta berbagai faktor lainnya," tegas Wamildan.