Mengukur Kemampuan Pemerintah Masukan Belalang hingga ulat Sagu ke dalam Menu Program Makan Bergizi Gratis
Usulan menu serangga dimasukan ke dalam program MBG pertama kali disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Usulan serangga menjadi menu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengemuka. Wacana ini pertama kali dikemukakan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Dadan mengungkapkan bahwa serangga dapat menjadi salah satu menu dalam program makan gratis yang menyasar anak sekolah hingga ibu menyusui tersebut didasarkan pada kearifan lokal masyarakat.
"Jika di daerah tertentu masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi serangga, maka serangga bisa menjadi menu di wilayah tersebut,” ujar Dadan.
Secara tegas disebutkan Dadan bahwa serangga merupakan salah satu sumber protein tinggi yang kaya gizi dan sudah menjadi konsumsi di beberapa daerah di Indonesia. Selain serangga, ia juga mencontohkan sumber protein lain yang bergantung pada ketersediaan lokal.
“Ada daerah yang memiliki banyak telur, ada juga yang kaya ikan. Jadi, sumber protein bergantung pada potensi daerah masing-masing,” urainya.
Dia menekankan, variasi menu dalam program MBG menunjukkan bahwa Badan Gizi Nasional tidak menerapkan standar menu yang seragam secara nasional. Sebaliknya, yang ditetapkan adalah standar komposisi gizi nasional yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan potensi lokal.
Serangga dengan Protein Tinggi
Spesialis gizi klinis dr. Lonah Sp.FK membenarkan jika serangga dapat menjadi menu alternatif sumber protein yang baik untuk program makan bergizi.
Kandungan pada beberapa serangga juga cukup lengkap termasuk protein, asam lemak esensial, dan mikronutrien seperti zat besi dan zinc.
"Protein yang dimaksud adalah protein hewani berkualitas tinggi yang mengandung asam amino esensial lengkap, seperti lisin, metionin, dan triptofan, yang penting untuk pertumbuhan anak. Protein ini berperan dalam pembentukan otot, enzim, hormon, dan sistem imun," ujar dr.Lonah saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Senin (27/1).
Dia mengatakan, salah satu jenis serangga yang dapat dipertimbangkan adalah ulat sutera (Silkworm) yang punya kandungan protein dan asam lemak. Selain ulat sutera, serangga jenis jangkrik juga dapat menjadi sumber alternatif protein untuk menu program Makan Bergizi Gratis. Dalam catatannya, jangkrik mengandung protein, serat kitin, dan mikronutrien seperti zat besi.
Namun, dalam penerapannya jenis serangga yang digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis harus melalui proses uji keamanan pangan untuk memastikan bebas dari kontaminasi, zat berbahaya hingga risiko alergi bagi anak-anak yang mengonsumsi.
Selain itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan penerimaan budaya setempat terhadap konsumsi serangga juga menjadi pertimbangan utama dalam implementasi program ini.
"Pendekatan bertahap dan uji coba pada komunitas sangat penting sebelum diimplementasikan pada skala besar," tegasnya.
Pilih Serangga karena Anggaran Cekak
Di platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Blibli, harga ulat sagu cukup bervariasi. Namun, setiap ekor ulat sagu dibanderol Rp2.000. Ada juga yang menjual per 25 ekor seharga Rp98.000 hingga Rp150.000. Harga tersebut tergantung dengan jenis ulat sagu yang akan dipesan.
Sementara untuk menu belalang kayu, jenis belalang yang sering dikonsumsi masyarakat, yang siap santap dijual berkisar Rp39.000 hingga Rp70.000 per toples ukuran sedang.
Pengamat Ekonomi Pertanian Center of Reform on Economic (CORE) Eliza Mardian menilai penggunaan serangga sebagai alternatif menu makanan bergizi gratis tak lepas dari terbatasnya anggaran pemerintah.
Dia menyebut, harga serangga jauh lebih murah dari sumber protein hewani lainnya yang populer dikonsumsi masyarakat.
"Nah, sehingga yang ada di situ, ya bahan pangannya misalnya serangga itu jadi sumber protein mereka. Dan ditambah lagi harga sumber protein seperti daging sapi, ayam, telur itu relatif mahal, dan sehingga mereka memakan serangga," tegasnya.
Namun, penggunaan serangga sebagai sumber protein dalam program unggulan Presiden Prabowo tersebut berpotensi untuk menuai polemik. Alasannya, saat ini serangga masih belum populer sebagai sumber protein bagi anak-anak di Indonesia.
"Memang sebaiknya pemerintah itu fokuslah, jangan membuat suatu gebrakan-gebrakan yang membuat gaduh di masyarakat gitu. Jadi fokuskan saja pada perikatan gizi dengan sumber-sumber protein yang memang berlimpah ruah gitu kan," bebernya.
Dia mencontohkan, sebaiknya pemerintah fokus untuk mengoptimalkan ikan sebagai alternatif protein untuk program Makan Bergizi Gratis. Selain murah, kandungan gizi ikan juga tak kalah baik dengan sumber protein hewani lainnya.
"Daripada pemerintah mendorong mengkonsumsi serangga, lebih baik pemerintah tingkatkan konsumsi ikan kita konsumsi ikan kita kan masih di bawah rata-rata rekomendasi kan. Jadi memang sebaiknya pemerintah itu fokuslah, jangan membuat suatu gebrakan-gebrakan yang membuat gaduh di masyarakat gitu. Jadi fokuskan saja pada perikatan gizi dengan sumber-sumber protein yang memang berlimpah ruah gitu kan," tandasnya.
Pemerintah Butuh Anggaran Rp100 Triliun untuk Program MBG
Sementara itu, pemerintah berencana menambah anggaran Rp100 triliun untuk membiayai program ambisius Presiden Prabowo yaitu Makan Bergizi Gratis. Saat ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tengah melihat pos-pos anggaran yang bisa dipangkas untuk menambah Anggaran Makan Bergizi Gratis.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan, penambahan anggaran sebesar Rp100 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilatarbelakangi keinginan Presiden Prabowo Subianto mempercepat pemenuhan target penerima manfaat yang berjumlah 82,9 juta orang.
Target tersebut semula dijadwalkan terpenuhi pada akhir tahun 2025, namun diminta oleh Prabowo untuk dipercepat menjadi September 2025.
Selain penambahan anggaran, sebelumnya Dadan mengatakan salah satu strategi yang ditekankan Presiden Prabowo untuk percepatan program MBG dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (17/1), adalah meminta kementerian dan lembaga di lintas sektor lebih solid.