Syarat Penting Agar Danantara Bisa Menandingi Temasek dan Khazanah: Orang yang Profesional dan Bebas Afiliasi Politik
Danantara diperkirakan akan mengelola aset lebih dari Rp14.615 triliun.

Pada Senin (24/2), Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meluncurkan Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Istana Kepresidenan, Jakarta. Lembaga investasi ini diperkirakan akan mengelola aset lebih dari USD 900 miliar, yang setara dengan sekitar Rp 14.615 triliun dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.238.
Dengan potensi pengelolaan aset yang besar ini, Prabowo berharap Danantara dapat bersaing dengan lembaga serupa yang sudah lebih dulu sukses, seperti Temasek dari Singapura dan Khazanah dari Malaysia.
Namun, untuk dapat bersaing dengan dua lembaga investasi dunia tersebut, diperlukan beberapa langkah strategis. Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memberikan beberapa masukan tentang bagaimana Danantara bisa mencapai tujuan tersebut.
Penerapan Business Judgement Rule (BJR)
Samirin menjelaskan bahwa agar Danantara bisa berkembang, lembaga ini perlu mengadopsi konsep Business Judgement Rule (BJR). Prinsip hukum ini melindungi direksi perusahaan dari tuntutan pertanggungjawaban atas keputusan yang merugikan perusahaan, selama keputusan tersebut diambil dengan itikad baik dan dalam kepentingan perusahaan.
Prinsip ini banyak diterapkan oleh lembaga investasi global, dan dapat memberikan fleksibilitas untuk berinovasi serta menciptakan lapangan permainan yang setara bagi Danantara dan BUMN di Indonesia.
"Penerapan prinsip Business Judgement Rule dan menjadikan kerugian BUMN bukan kerugian negara dan akan memberikan fleksibilitas berinovasi a level playing field kepada Danantara/BUMN untuk menjadi Temasek, GIC, atau Khazanah versi Indonesia," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, Senin (24/2).
Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance)
Pengelolaan Danantara juga harus bebas dari potensi korupsi yang masih marak di Indonesia. Good Corporate Governance (GCG) yang baik harus diterapkan untuk meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, agar tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.
Samirin menekankan pentingnya tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel dalam menghadapi tantangan ekosistem usaha yang sulit di Indonesia.
"Membangun GCG terbaik adalah satu-satunya jalan untuk mengantisipasi ekosistem berusaha yang sangat buruk dan menghindari perilaku abusive tersebut. Mekanisme GCG eksternal dan internal harus dimaksimalkan," tegasnya.
Pentingnya Sosok Profesional dalam Kepengurusan
Selain itu, Samirin juga menyoroti pentingnya mengisi posisi penting di Danantara dengan profesional yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi. Pemilihan orang yang tepat, terutama dari kalangan profesional, akan menjadi daya tarik bagi investor.
Bahkan, jika diperlukan, rekrutmen ekspatriat terbaik bisa dilakukan untuk membantu memajukan Danantara.
"Merit system wajib diterapkan dalam memilih sosok terbaik untuk menjalankan organisasi. Manfaatkan Indonesia yang luas yang penuh dengan sosok kredibel, profesional, dan berintegritas, sebagai sumber kader. Jika perlu, rekrut expat terbaik untuk ikut memajukan Danantara," tegasnya.
Pengelolaan yang Profesional dan Bebas dari Kepentingan Politik
Terakhir, Samirin mengingatkan bahwa pengelolaan Danantara harus dilakukan secara profesional dan jauh dari kepentingan politik.
Masyarakat Indonesia menaruh harapan besar pada kesuksesan perusahaan-perusahaan negara yang tergabung dalam Danantara.
“BUMN adalah telur-telur emas yang masa depan rakyat digantungkan padanya,” ujarnya.
Oleh karena itu, pengelolaan yang hati-hati dan terencana sangat penting untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan lembaga ini.
Potensi Besar dan Harapan Masa Depan
Danantara dirancang untuk mengelola aset perusahaan-perusahaan BUMN yang mencapai USD900 miliar atau sekitar Rp14.724 triliun. Dengan besarnya aset ini, Danantara berpotensi menarik aliran modal asing melalui foreign direct investment (FDI).
Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Erick Thohir kepada Prabowo, total dividen BUMN untuk tahun ini diperkirakan mencapai Rp300 triliun.
Sementara itu, sisa dana sebesar Rp200 triliun akan dialokasikan untuk investasi melalui Danantara. Dengan nilai Asset Under Management (AUM) sekitar USD900 miliar, Danantara akan menjadi sovereign wealth fund (SWF) terbesar ketujuh di dunia.
Ke depannya, keberhasilan Danantara dalam mengelola aset negara dan menarik investor asing akan sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk menjamin transparansi, tata kelola yang baik, dan integritas dalam setiap keputusan yang diambil.