Kecanduan game, pemuda ini hidup 6 tahun di warnet
Kecanduan game membuatnya hanya keluar dari 'sarang' saat membeli makan dan mandi sesekali.
Seorang pemuda asal China bernama Li Meng, telah hidup di warnet selama enam tahun. Kecanduan game membuatnya hanya keluar dari 'sarang' saat membeli makan dan mandi sesekali.
Sebagaimana dilansir dari Odditycentral, Li Meng lulus dari sebuah universitas sejak enam tahun silam. Namun tidak seperti kebanyakan rekannya yang mencari pekerjaan atau membangun rumah tangga, ia malah memilih hidup dalam dunia fantasi game online.
-
Apa saja game yang mereka mainkan? Mereka dikenal sebagai gamers profesional yang ahli di berbagai macam game seperti PUBG Mobile, GTA V, DOTA 2, dan game lainnya.
-
Apa game paling seru yang mendapatkan peringkat teratas? The Legend of Zelda: Breath of the Wild memuncaki peringkat pertama dengan gameplay yang sangat memuaskan.
-
Kapan Gendang Pampat dimainkan? Alat musik ini biasanya dimainkan pada saat upacara adat. Dikutip dari Instagram @penerbit.brin, permainan alat musik ini merupakan salah satu cara untuk menjaga ikatan kekeluargaan orang Iban. Tak hanya saat upacara adat, permainan alat musik tradisional itu dilakukan untuk mengisi waktu-waktu kebersamaan mereka.
-
Di mana permainan congklak berasal? Congklak merupakan permainan yang berasal dari kebudayaan kuno timur tengah.
-
Kapan game tebak-tebakan benda lucu dimainkan? Game tebak-tebakan benda lucu bisa menjadi ide permainan bersama yang menarik.
-
Kenapa game tebak-tebakan benda lucu disukai? Ada berbagai game tebak-tebakan benda lucu yang begitu menghibur dan seru untuk dilakukan.
Setelah menyelesaikan sekolahnya, Li telah menghabiskan sebagian besar waktunya di warnet kota Changchun, China bagian Timur Laut.
Pemilik warnet menuturkan Li sudah lama sekali berada di tempatnya. Ia bahkan sudah menganggap Li sebagai salah satu perlengkapan di warnet dan tidak menyadari kehadirannya lagi.
Kecanduan game yang dialami Li menarik perhatian salah seorang profesor psikologi dari Jilin University. Sayangnya ketika diajak bicara, Li sama sekali tidak menanggapi profesor tersebut. Matanya terus menatap layar kaca dan menganggap tidak ada seorang pun yang mengajaknya bicara.
Namun wartawan lebih beruntung. Beberapa kata sempat keluar dari mulut Li meskipun ia tetap asyik main game.
Ketika ditanya dari mana Li mendapatkan uang untuk membayar biaya di warnet, ia menuturkan kalau penjualan item dan emas virtual adalah penghasilan utamanya. Dari situ, sekitar satu sampai tiga juta rupiah ia bayarkan untuk warnet. Meskipun pemilik warnet yakin kalau Li sebenarnya punya uang lebih banyak dari itu.
Beberapa gamer lain di warnet mengaku kasihan pada Li. Sebab pemuda tersebut selalu di sana sepanjang waktu, entah itu sedang ada perayaan tertentu hingga malam tahun baru.
"Li main game di malam hari. Siang hari mengantuk dan tidur di sini. Ia hanya keluar untuk mandi," cerita salah satu gamer.
Karena hampir tak pernah bicara, tidak ada yang tahu Li sebenarnya memiliki keluarga atau tidak.
Kecanduan internet dan game menjadi salah satu masalah besar di China selama beberapa waktu. Bahkan banyak orang tua yang berusaha menyembuhkan anaknya.
(mdk/riz)