Mengenal Disregulasi Emosi, Kondisi Seseorang yang Sulit Menangani Emosinya
Disregulasi emosional mengacu pada kondisi di mana seseorang kesulitan dalam mengatur emosinya.
Disregulasi emosional mengacu pada kondisi di mana seseorang kesulitan dalam mengatur emosinya. Kondisi ini dapat muncul dalam beberapa cara, seperti ketika merasa kewalahan oleh hal-hal kecil, berusaha untuk mengendalikan perilaku impulsif, atau mengalami ledakan emosi yang tidak terduga.
Disregulasi emosi biasanya dianggap sebagai masalah masa kanak-kanak, yang dapat teratasi dengan sendirinya ketika anak tersebut sudah dapat mempelajari keterampilan dalam mengatur emosi yang tepat. Padahal, disregulasi emosi sendiri dapat berlanjut hingga dewasa.
-
Kenapa Padi Salibu dilirik Pemprov Jabar? Padi dengan teknologi salibu saat ini tengah dilirik Pemprov Jabar sebagai upaya menjaga ketahanan pangan.
-
Bagaimana Jaka Sembung melawan Ki Hitam? Akhirnya Jaka Sembung teringat pesan gurunya, Ki Sapu Angin yang menyebut jika ilmu rawa rontek bisa rontok saat pemiliknya tewas dan tidak menyentuh tanah. Di film itu, Jaka Sembung kemudian menebaskan parang ke tubuh Ki Hitam hingga terpisah, dan menusuknya agar tidak terjatuh ke tanah.
-
Kapan Rafathar potong rambut? 3 Namun, ternyata Raffi dan Nagita ingin anak mereka tampil berbeda menjelang Hari Raya Idul Fitri yang tidak lama lagi.
-
Kenapa Jaka merantau? Dengan penuh tekad, Jaka pun memutuskan untuk merantau ke negeri orang untuk mencari nafkah dan mewujudkan semua impian mereka berdua.
-
Kapan Raden Rakha lahir? Raden Rakha memiliki nama lengkap Raden Rakha Daniswara Putra Permana. Ia lahir pada 16 Februari 2007 dan kini baru berusia 16 tahun.
-
Apa itu jamak taqdim? Jamak Taqdim yaitu menggabungkan dua sholat dengan cara mengerjakannya di waktu sholat yang pertama.
Bagi orang yang mengalaminya, disregulasi emosi dapat menyebabkan kesulitan dalam kehidupan, termasuk masalah dengan hubungan interpersonal, prestasi di sekolah, dan ketidakmampuan untuk beraktivitas secara efektif dalam bekerja.
Penyebab
Anda mungkin bertanya-tanya apa sebenarnya yang menyebabkan masalah ini. Mengapa beberapa orang tidak mengalami kesulitan untuk tetap tenang, sementara yang lain kesulitan ketika mereka melakukan kesalahan dalam hidup mereka?
Kemungkinan penyebabnya ada banyak. Namun, ada satu yang secara konsisten ditunjukkan dalam literatur penelitian. Penyebabnya adalah trauma psikologis awal akibat pelecehan atau penelantaran di pihak pengasuh. Hal ini menghasilkan sesuatu yang dikenal sebagai gangguan keterikatan reaktif.
Selain itu, orang tua yang mengalami disregulasi emosi juga akan kesulitan untuk mengajari anaknya cara mengatur emosi. Karena anak-anak tidak dilahirkan secara alami dengan keterampilan mengatasi regulasi emosi, memiliki orang tua yang tidak dapat menjadi model koping yang efektif menempatkan anak pada risiko disregulasi emosi yang tinggi.
Gejala
Secara umum, disregulasi emosi melibatkan emosi yang terlalu kuat dibandingkan dengan situasi yang memicunya. Hal ini bisa berarti bahwa penderitanya tidak bisa tenang, menghindari emosi yang sulit, atau memusatkan perhatian pada hal negatif. Kebanyakan orang dengan disregulasi emosi juga berperilaku impulsif ketika emosi mereka (ketakutan, kesedihan, atau kemarahan) di luar kendali.
Di bawah ini adalah beberapa contoh bagaimana bentuk seseorang yang mengalami disregulasi emosi.
- Pasangan Anda membatalkan rencana dan Anda memutuskan untuk menyudahi hubungan Anda. Namun pada akhirnya Anda hanya menangis sepanjang malam.
- Teller bank mengatakan mereka tidak dapat membantu Anda dengan transaksi tertentu dan Anda harus kembali keesokan harinya. Kemudian kemarahan Anda meledak, berteriak pada teller, atau melemparkan pena ke seberang meja ke arah mereka.
- Anda menghadiri makan malam perusahaan dan semua orang sepertinya berbicara dan bersenang-senang sementara Anda merasa seperti orang luar. Setelah acara tersebut, Anda pulang dan makan berlebihan untuk menghilangkan rasa sakit emosional Anda.
Disregulasi emosi juga dapat membuat Anda kesulitan mengenali emosi yang Anda alami saat sedang kesal. Ini berarti bahwa Anda merasa bingung dengan emosi Anda, bersalah atas emosi yang Anda keluarkan, atau diliputi oleh emosi Anda hingga tidak dapat membuat keputusan atau mengatur perilaku Anda.
Perawatan
Dua pilihan utama untuk mengobati disregulasi emosi adalah pengobatan dan terapi, tergantung pada situasi individu.
Pengobatan
Obat-obatan dapat digunakan untuk mengobati disregulasi emosi ketika kondisi itu adalah bagian dari gangguan mental yang lebih besar. Misalnya, ADHD akan diobati dengan stimulan, depresi akan diobati dengan antidepresan, dan masalah lain mungkin diobati dengan antipsikotik.
Terapi
Dalam hal terapi untuk disregulasi emosi, metode pengobatan utama adalah apa yang dikenal sebagai terapi perilaku dialektis (DBT). Bentuk terapi ini awalnya dikembangkan oleh Marsha Linehan pada 1980-an untuk mengobati individu yang mengalami BPD.
Secara umum, jenis terapi ini melibatkan peningkatan perhatian, memvalidasi emosi Anda, dan mengubah gaya hidup Anda menjadi kebiasaan sehat. Cara ini juga mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur emosi Anda.
Melalui DBT, Anda belajar untuk fokus pada saat ini, bagaimana menyadari pikiran, perasaan, dan perilaku Anda, dan bagaimana menghadapi situasi yang penuh tekanan.