'Tembakan' Megawati Sengat Gibran dan Demokrat
Pemilu 2024 diprediksi akan menjadi arena pertarungan tokoh-tokoh muda.
Pemilu 2024 masih jauh. Meski begitu, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri telah membuat ramalan bahwa 5 tahun lagi akan terjadi perubahan besar-besaran perpolitikan nasional.
Pemilu 2024 diprediksi akan menjadi arena pertarungan tokoh-tokoh muda. Bicara 2024, maka politik nasional akan tertuju hajatan besar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
-
Mengapa Prabowo dan SBY ingin bertemu Megawati? Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan keinginan untuk melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
-
Apa yang dilakukan Aira Yudhoyono bersama kakeknya, Susilo Bambang Yudhoyono? Mereka menikmati waktu bersama dengan penuh keasyikan, saling memperhatikan berbagai hal di sekitar mereka!
-
Siapa yang diusung oleh partai-partai pendukung Prabowo-Gibran? Dua nama yang santer bakal meramaikan Pilkada Jakarta adalah dua mantan Gubernur Ibu Kota dan Jawa Barat yakni Anies Baswedan dan Ridwan Kamil. Anies sebagai calon inkumben tampaknya bakal diusung oleh partai-partai pendukungnya di Pilpres 2024. Begitu juga dengan Ridwan Kamil yang didukung barisan partai pendukung Prabowo-Gibran.
-
Apa yang ingin dilakukan Prabowo dan SBY terhadap Megawati? Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan keinginan untuk melakukan pertemuan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
-
Apa yang terjadi saat Pramono Anung dan Puan Maharani bertemu dengan Prabowo Subianto? Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani, terekam dalam kamera saat dirinya menarik bakal calon gubernur Jakarta Pramono Anung ke hadapan presiden terpilih Prabowo Subianto.
-
Kenapa Prabowo Subianto dan Jenderal Dudung menggandeng tangan Jenderal Tri Sutrisno? Momen ini terjadi ketika ketiga jenderal tersebut sedang berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan atau tempat digelarnya gala dinner seusai mengikuti rangkaian parade senja atau penurunan upacara bendera merah putih.
Prediksi ini disampaikan Megawati saat memberikan orasi di depan para bakal calon kepala dan wakil kepala daerah yang diusung PDIP dalam Pilkada 2020, kantor DPP PDIP, Jakarta, Rabu (19/2).
Megawati sejatinya mendukung anak-anak muda unjuk gigi menjadi calon pemimpin dan wakil rakyat. Tetapi, dia geram jika tokoh senior partai memaksa anak-anak mereka bertarung di pemilu. Tapi masih 'newbie' soal politik. Anak muda minim pengalaman jika dipaksa menjadi pemimpin justru akan menimbulkan masalah baru.
"Tapi berhentilah, kalau kalian punya anak, anaknya itu enggak bisa, jangan dipaksa-paksa. Jengkel loh saya. Lah iya loh, ngapain sih, kayak enggak ada orang. Kader itu ya anak kalian juga, gimana ya? Kalau enggak anakne, kalau enggak istrine, kalau enggak keponakane," kata Megawati.
Mega sadar diri bahwa ucapannya akan langsung dikaitkan dengan anaknya Puan Maharani. Puan saat ini memegang jabatan lembaga tinggi negara, Ketua DPR RI. Cepat-cepat Mega mementahkan anggapan dirinya memaksa Puan jadi Ketua DPR.
Bukan tanpa alasan. Mega menyebut Puan memang pantas menjabat Ketua DPR jika melihat hasil suaranya di Pileg 2019 lalu. Ketua DPP PDIP menjadi jawara di Dapil V Jawa Tengah. Dapil Jawa Tengah V yang meliputi Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Kota Surakarta.
Perolehan suara Puan pun fantastis, 420 ribu suara. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan Pileg tahun 2014 sebanyak 369.927 suara. Puan Maharani ditetapkan sebagai anggota DPR dengan raihan suara terbanyak.
"Nanti pasti ada yang bilang, loh Ibu kan juga. Tapi kan saya membuktikan. Saya enggak pernah (memaksa), saya hanya, anak saya kamu jadilah sesuai dengan apa yang kamu jalankan. Ada orang yang ngomong Mbak Puan jadi Ketua DPR, itu saya yang angkat-angkat. Mana mungkin. Memang suaranya (di Pileg) gede. Tidak ada yang bisa menahan," ungkap Megawati.
Dia juga menyindir ada 'partai keluarga' yang kursi kepengurusannya diberikan kepada anak dan sanak saudara. Padahal secara kemampuan belum mumpuni punya jabatan strategis.
"Padahal kader-kader itu anak-anak kalian yang harusnya kalian lihat. Kamu benar-benar lho ya kerja, nanti kamu saya jadikan sekretaris. Kan begitu. Sehingga Partainya yang berkembang. Jangan menjadi kelompok-kelompok keluarga," tutur Megawati.
Ke Mana Arah Tembakan Megawati?
'Tembakan' Megawati barangkali berdasarkan pengamatan terhadap fenomena parpol negeri ini. Barangkali salah satunya adalah Partai Demokrat. Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Ketua Umum memang cukup sering memberikan kesempatan bagi dua putranya menjajal dunia politik.
Contohnya saja, ketika Agus Harimurti Yudhoyono diusung menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada 2017. Kala itu, nama AHY belum cukup dikenal, popularitasnya belum setenar pesaing-pesaingnya seperti Ahok, Anies Baswedan atau Sandiaga Uno. Tokoh-tokoh yang memang sudah 'mondar mandir' di media massa dan dikenal banyak orang.
Eksperimen SBY berujung kekalahan AHY yang disandingkan dengan pejabat SKPD Sylviana Murni. Kini AHY diberi posisi Waketum Demokrat oleh SBY. Belum lagi Edhi Baskoro Yudhoyono alias Ibas yang sudah lama dipercaya memegang jabatan penting di Demokrat. Mulai dari Sekjen, Ketua Bappilu sampai Ketua Fraksi Partai Demokrat.
Tapi, Demokrat tidak merasa tersindir dengan pernyataan Megawati. Politikus Demokrat Ferdinand Hutahaean menilai Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tengah menegur diri sendiri.
Nama Puan yang dipersoalkan. Megawati, menurut Ferdinand, mendorong karir politik Puan sejak lama. Mulai dari anggota DPR, Menko PMK, hingga menjadi Ketua DPR. Dia menduga, Puan akan didorong pada Pilpres 2024.
"Kami Demokrat tidak merasa disindir, apalagi Pak SBY tidak merasa disindir. Karena SBY dan Demokrat tidak sedang dalam situasi seperti yang disebut Bu Mega," ujar Ferdinand.
Gibran Ikut Bersuara
Putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka juga tak merasa disindir oleh Megawati terkait pencalonannya sebagai kepala daerah di Pilkada Solo mendatang. Gibran sama sekali tak merasa pidato tersebut ditujukan kepadanya.
Menurut suami Selvi Ananda itu, keinginannya untuk berkontestasi di Pilkada Solo merupakan inisiatif pribadi. Dia menolak anggapan, jika selama ini dipaksa oleh orang tua atau saudara lainnya untuk terjun ke dunia politik.
"Saya tidak pernah dipaksa, ini keinginan sendiri. Jadi memang tidak ada paksaan," ujar Gibran di Solo, Jumat (21/2).
Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, Gibran mengaku telah meminta izin ayahnya, Presiden Joko Widodo. Tak hanya Jokowi, ia juga telah mendatangi Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri serta sejumlah elite PDIP lainnya. Sementara ayah dan keluarga lainnya memberikan dukungan moral.
"Saya sebelumnya juga minta izin bapak, kemudian ibu Bu Mega. Keluarga hanya memberi semangat," katanya.
Gibran mengaku tidak mengetahui apa maksud pidato Megawati. Dia juga tak mengetahui pidato tersebut ditujukan untuk siapa. Sehingga ia Presiden RI ke-5 itu akan memberi tanggapan positif atas kegiatannya selama ini. Apalagi, selama ini, lanjut Gibran, Megawati juga memantau kegiatan blusukan yang dilakukannya.
Anak-anak Muda di 2024
Sejumlah nama dari generasi muda digadang-gadang bakal tampil bertarung di Pilpres 2024. Salah satunya AHY. AHY mengaku tengah mempersiapkan diri untuk maju menjadi Calon Presiden pada Pemilu 2024 mendatang.
"Saya akan terus mempersiapkan diri untuk 2024 mendatang," kata AHY usai menghadiri rapat konsolidasi DPD Partai Demokrat NTT.
Tak hanya AHY, nama lain yang juga diprediksi bakal menghiasi bursa pertarungan Pilpres adalah Sandiaga Uno. Nama yang satu ini sudah berpengalaman dalam Pilpres. Pada 2019, Sandiaga Uno menjadi Calon Wakil Presiden mendampingi Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden. Kemungkinan Sandiaga untuk kembali tampil di Pilpres 2024 juga diprediksi oleh Presiden Jokowi.
Saat menghadiri pelantikan pengurus Hipmi, Jokowi menyapa Sandiaga Uno yang hadir sebagai mantan Ketua Hipmi.
"Yang saya hormati Pak Sandiaga Uno. Yang hafal hanya satu, Bapak Sandiaga Uno," kata Jokowi saat mengawali sambutan.
"Hati-hati 2024," sambung Jokowi.
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto juga melihat kans Sandiaga Uno sebagai calon presiden potensial di 2024. Apalagi nama anggota dewan pembina Gerindra itu digoda Presiden Joko Widodo sampai Kepala BIN Budi Gunawan. "Bisa saja," jawab Prabowo.
Prabowo tak bicara lebih lanjut soal kans Sandiaga. Dia menilai, pertarungan presiden 2024 masih lama. "Masih lama, masih lama itu," kata dia.
Nama lain adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Nama Anies masuk dalam daftar capres potensial hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Anies Baswedan tak banyak berkomentar mengenai namanya disebut sebagai salah satu kandidat calon presiden potensial di Pilpres 2024.
(mdk/ray)